oleh

PEREMPUAN DI MATA DEPUTI BNPT MAYJEN TNI HENDRI P LUBIS

Menjadi Ibu Sekaligus Penjaga Perdamaian

PADANG -- Rumah ibadah, lembaga pendidikan dan internet menjadi sasaran para teroris untuk dirusak atau dipakai sebagai media penyebar paham yang mereka yakini benar.

“Karena itu semua kita mesti menjaga dengan baik rumah ibadah kita, lembaga pendidikan kita dari gangguan para perusuh. Sedangkan internet yang sulit diawasi 24 jam, maka penggunanya lah yang perlu diawasi agar menggunakan internet itu dengan cedas, jangan sampai penbguna malah jadi orang yang direkrut kaum teroris,” kata Deputi Bidang Pencegahan, Perlindungan dan Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Mayjen TNI Hendri Paruhuman Lubis ketika tampil dalam sesi seminar ‘Pelibatan Perempuan dalam Pencegahan Radinalisme & Terorisme’ di hotel Kyriad Bumiminang, Kamis (10/10)

Proses rekrutmen oleh teroris terhadap bibit-bibit radikalisme berlangsung masif dan tidak putus-putusnya. Salah satu yang disasar adalah calon-calon mahasiswa perguruan tinggi. “Nah bagaimana kaum perempuan saat memerankan peran ibu, mengawasi dan melihat selalu perkembangan prilaku anak-anaknya, jangan-jangan terpapar oleh paham radikal melalui rekrutmen seperti yang saya sebutkan tadi,” kata Hendri.


Hendri mengingatkan juga bahwa kaum perempuan selain berpotensi menjadi elemen penurun tensi radikal, juga berpotensi sebagai kelompok yang rawan terpapar paham radikal. “Beberapa aksi teror, seperti bom bunuh diri malah dilakukan kaum perempuan bersama anak-anaknya,” kata Hendri seraya memperlihatkan apa yang terjadi di Surabaya beberapa waktu lalu.

Sementara itu pada sesi kedua, Asisten Deputi Bidang PHP Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Nyimas Aliah mengatakan bahwa pada sisi lain, ternyata perempuan juga memiliki kesulitan untuk kelujar dari keterpaparan paham radikalisme. “Maka perlu juga upaya perlindungan yang lebih menyeluruh terhadap kaum perempuan yang sudah terjebak ke paham yang sesat itu,” kata Nyimas Aliah.

Ia menceritakan beberapa kaum perempuan yang dijebak dengan iming-iming berjihad, umrah dan sebagainya tetapi hanya digunakan untuk menjadi pelaksana aksi-aksi teror di Suriah dan kawasan konflik di Timur Tengah.

“Jadi sebelum masuk ke dalam jebakan itu, hendaklah kaum perempuan diperkuat atau diberdayakan agar memiliki kemampuan mencegah dan menangkal pihak-pihak yang mencoba merekrut mereka menjadi agent teror, kita perlu alihkan dari agent teror ke agent perdamaian,” kata  Aliah.

Keterpaparan kaum perempuan biasanya dimulai dari cekokan berita-berita hoax yang disebar oleh para perekrut. “Setelah itu berangsur-angsur angsur paham keliru itu ditanamkan hingga para perempuan yang tadinya lembut berubah menjadi garang dan radikal, mau melakukan apa saja yang dianjurkan oleh para perekrut mereka,” ujar dia. (jer)


COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru