oleh

SEMINAR NEKAT TOP 100 DI HARI MINGGU (2)

Pariwisata, Jualan Sumbar Masa Depan

PADANG -- Dari Seminar Top100 di hotel Pangerans Beach, pada topik pariwisata, Chairul Umaya, pimpinan PT Solindo melihat ke depan bahwa Sumatera Barat, pariwisata benar-benar akan menjadi penyangga ekonomi Sumbar. Wisata MICE (Meeting Incentive Conventio & Exebithion) penting jadi perhatian.

“Kita sudah punya modal sumber daya alam yang hebat dan indah serta unik. Ini akan menjadi daya tarik, para event organizer memilih Sumatera Barat untuk menjadi tuan rumah MICE. Pemerintah daerah ke depan mesti lebih gesit mengajak berbagai event nasional, regional dan internasional sebanyak-banyak ke daerah ini,” kata Chairul Umaya. Apalagi karena Sumbar sudah ditetapkan sebagai salah satu destinasi wisata MICE oleh pemerintah pusat.

Syafriawati, pegiat pariwisata minta agar semua pihak memberi perhatian dulu kepada lingkungan. Tapi lihatlah sampah yang berserakan di wilayah pariwisata. “Lingkungan objek wisata kita amat kotor dan itu sangat membuat tidak nyaman para pelancong. Pemerintah Kabupaten/Kota belum serius betul soal bagaimana membersihkan sampah-sampah di semua objek wisata,” kata dia.


Kepariwisataan kita di Sumatera Barat tidak bisa dilihat dari perspektif sektoral saja. Hal paling gampang misalnya, ketika objek wisata penuh sampah, maka Dinas Pariwisata tidak bisa berkata bahwa itu tidak urusannya, atau Dinas Lingkungan Hidup atau Dinas Kebersihan berkata bahwa itu bukan urusan mereka.

Menurut pakar pariwisata Unand, Dr. Sari Lenggogeni persampahan dan berbagai layanan wisata kita perlu menjadi perhatian serius jika Sumbar akan menjadikan pariwisata sebagai sokoguru ekonomi ke depan.

“Jadi perlu keserempakan, sinergi yang total. Semua komunitas yang terkait kepariwisataan mesti turut serta menjadi pihak yang terlibat untuk perbaikan, promosi dan sebagainya. Perlu ekosistem kepariwisataan berbasis kultural Sumatera Barat,” ujar Sari.

“Saya paling sering kritik Pemprov yang acap sekali ke luar negeri, tapi apa hasilnya untuk pariwisata kita? Mestinya anggaran ke luar negeri itu hendaknya digunakan sebaik-baiknya bagi kemajuan pariwisata kita,” ujar mantan Uni Sumbar itu.

Eko Yanche Edrie, anggota Badan Paromosi Pariwisata Kota Padang menyampaikan padangan betapa terjadi rebutan ‘branding’ di ruang publik. Celakanya yang dibranding adalah sama. “Perlu dipikirkan lagi, apakah tidak cukup alasan untuk meletakkan otonomi kepariwisataan itu di tingkat provinsi, sehingga bisa promosi dan branding lewat satu pintu atau single gate promotion,” kata dia.

Sementara itu, pegiat wisata bawa air, Indrawadi Mantari mengatakan bahwa yang dilirik dan dijual saat ini masih wisata di permukaan atau di darat. Belum banyak dikedepankan soal wisata bawah air. “Padahal ada 69 titik penyelaman di sepanjang pantai Sumatera Barat yang sudah dieksplor tapi belum terpromosikan dengan baik,” kata penyelam itu.

Patra Rina Dewi, meskipun ia adalah pegiatan mitigasi bencana tapi ia memiliki pandangan yang juga bisa dipersetuhkan dengan kepariwisataan. Meskipun daerah ini adalah daerah yang kadang disebut supermarketnya kebencanaan. Tapi justru pada daerah seperti ini pula keindahan untuk dikunjungan itu terdapat. “Maka perlu ada perhatian terhadap ancaman bencana ini. Bagaimana pemerintah dan semua pihak membuat semua pelancang merasa nyaman datang ke daerah ini,” kata Patra Rina Dewi.

Praktisi pariwisata, Zukhrizul melihat pembangunan  kepariwisataan Sumatera Barat adalah penuh dengan spekulasi. “Tanah ulayat sudah beralih tangan, tapi yang mengambil alih tidak mau juga membangun objek wisata dan tak. Ambil contoh di Mandeh, hampir tak ada lagi yang lowong untuk dibangun, karena semua sudah beralih tangan pada orang-orang tertentu. Akibatnya ketika hendak dibikin perencanaan terpadu kita kesulitan. Mereka menahan tanah untuk tak dibangun sampai harga meningkat tinggi,” kata Zukhrizal.***

baca juga : Membangun Sumbar dari Nagari


COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru