BUNTUT PERPECAHAN PARTAI

3 Politisi PPP Solok Terancam "Direcall"

SOLOK (Metrans)

Konflik internal melanda Partai Persatuan Pembangunan (PPP) membuat partai berlambang Ka'bah terbelah dua. Kubu Djan Faridz dan Romahurmuziy sama-sama mengklaim sebagai DPP PPP yang sah.

Kubu Romahurmuziy berbekal hasil Muktamar (kongres) di Asrama Haji Pondok Gede pada 9 April 2016, diakui pemerintah sesuai SK Menkumham nomor M.HH-06.AH.11.012016 tertanggal 27 April 2016.


Tidak puas dengan SK Menkumham ini, kubu Djan Faridz mengajukan keberatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN), dan menang. Putusan PTUN Nomor 97/G/2016/PTUN-JKT tertanggal 22 November 2016 ini, kemudian juga digugat oleh Kemenkumham pada 6 Desember 2016 lalu.

Saling klaim hingga kini masih berlangsung. Dalam Pilkada DKI, kubu Romahurmuziy mendukung pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Silvi. Sementara kubu Djan Faridz menjadi bagian pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Syaiful Hidayat.

Kisruh di tingkat pusat ini kemudian merambah kepengurusan di tingkat Dewan Pimpinan Wilayah (DPW/provinsi) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC/kabupaten-kota). Pentolan PPP Sumbar Epyardi Asda menjadi bagian dari kubu Djan Faridz. Pria yang sudah tiga periode di DPR RI ini mendapat perlawanan dari Hariadi. Suami dari Senator Sumbar Emma Yohana ini berada di kubu Romahurmuziy.

Polemik juga terus bergerak ke Kabupaten Solok dan Kota Solok. Kepengurusan PPP di kampung Epyardi Asda ini juga terbelah. Dua anggota DPRD Kota Solok, Daswippetra Dt Manjinjing Alam dan Herdiyulis secara "berani" berada di kubu yang berseberangan dengan Epyardi Asda.

PPP versi Romahurmuziy di Kota Solok dipimpin Daswippetra, sementara kubu Djan Faridz diketuai oleh Firdaus Angku.

Di Kabupaten Solok yang menjadi lumbung suara Epyardi Asda, juga terbelah. Meski sudah bukan rahasia lagi, Epyardi secara materi dan moril membesarkan PPP di Sumbar dan secara khusus di Kabupaten Solok, ternyata tetap mendapat perlawanan di kampung halamannya. Anggota DPRD Kabupaten Solok Dendi, memilih berada di bawah kepemimpinan Sa'adudin. Dendi memilih berseberangan dengan Yondri Samin yang menjadi Ketua DPC PPP Kabupaten Solok versi Djan Faridz. Saat ini, Yondri menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Solok.

Dampak dari terpecahnya kepengurusan dari tingkat pusat ke DPC ini tentu saja pada status anggota DPRD saat ini. Jika kubu Romahurmuziy yang diakui pemerintah, maka tiga anggota DPRD Kabupaten Solok, Yondri Samin, Patrischan dan Afrizal terancam PAW (pergantian antar waktu).

Sebaliknya, jika kubu Djan Faridz yang diakui, maka Dendi dan dua anggota DPRD Kota Solok Daswipppetra Dt Manjinjing Alam dan Herdiyulis yang terancam PAW.

Anggota DPRD Kota Solok Heriyulis menyatakan dirinya tidak pernah takut dengan ancaman PAW. Menurut Sekretaris DPC PPP Kota Solok versi Romahurmuziy ini, pilihannya merupakan bentuk aplikasi taat aturan dan pilihan ideologis.

"PPP versi Romahurmuziy adalah DPP PPP yang diakui pemerintah. Pertanyaannya sekarang, kita mau taat peraturan atau tidak dan aturan siapa yang akan kita taati. Aturan pemerintah atau aturan segelintir orang dan golongan. Pilihan kami (ikut DPP versi Romahurmuziy) merupakan wujud ketaatan kami pada aturan. Ini adalah pilihan ideologi bagi kami," ujarnya.

Mengenai ancaman akan di-PAW, Herdiyulis mengaku tidak gentar sedikitpun. Menurutnya, hidup adalah pilihan. Dan pilihannya jatuh pada DPP di bawah kepemimpin Romahurmuziy. Sebagai anggota DPRD, Herdiyulis mengaku pilihan itu sudah dipikirkan matang dan siap dengan segala konsekuensi.

"Saya duduk di DPRD Kota Solok ini karena suara dari rakyat Kota Solok. Kalau saya di-PAW dan tidak dipercaya lagi di dewan, berarti tugas saya selesai. Keyakinan dan ideologi bagi saya berada di atas jabatan. Karena jabatan bukanlah segalanya," ujarnya.

Mengenai hubungannya dengan Epyardi Asda, Herdiyulis menyebut tidak ada masalah. Dirinya mengaku tetap menaruh rasa hormat pada pentolan PPP tersebut.

"Pak Epyardi adalah sesepuh PPP di Sumbar, khususnya di Solok. Harus diakui, PPP besar di Sumbar dan di Solok karena peran beliau. Saya sering ketemu beliau akhir-akhir ini. Secara pergaulan tidak ada masalah. Ini murni pilihan ideologi," tutupnya. (rzl)


Jangan Lewatkan