60 Persen Angkatan Kerja di Indonesia Ternyata Lulusan SD-SMP

Ditjen Binalattas Kemnaker RI, Bambang Satrio Lelono saat memaparkan kondisi angkatan kerja Indonesia di Balairung Caraka UBH Padang, Selasa (10/4).


PADANG (Metrans)

Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Ditjen Binalattas) Kemnaker RI, Bambang Satrio Lelono mengatakan angkatan kerja di Indonesia saat ini 60 persen masih lulusan pendidikan SD dan SMP.

“Angka pengangguran turun, tapi pengangguran paling tinggi itu masih tingkat SMK, yakni mencapai 11,40 persen,” ungkapnya sebelum melakukan Memorandum of Understanding (MoU) atau penandatangan kesepakatan bersama, dengan Rektor UBH Prof.Dr. Azwar Ananda, M.A., di Balairung Caraka UBH Padang, Selasa (10/4).


Ia juga mengaku bahwa saat ini pemerintah Indonesia terus mendorong agar tahun 2019 nanti adanya peningkatan pendidikan vokasi, baik di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) maupun Perguruan Tinggi (PT).

“Pendidikan vokasi itu untuk SMK, jadi idealnya tamatan SMK harus melanjutkan pendidikan ke politeknik, bukan ke PT umum,” ujar Bambang dihadapan ratusan civitas akademika UBH saat itu.

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa saat ini dari 4.539 jumlah PT yang ada di Indonesia, pendidikan vokasi atau politeknik masih sangat rendah, yakni baru 5,4 persen. Padahal menurutnya, agar ekonomi negara Indonesia maju dibutuhkan pendidikan vokasi minimal 50 persen.

“Dari Jumlah PT tersebut, yang terakreditasi BAN-PT hanya 1.131, sebanyak 50 PT terakreditasi “A” (4%), 345 PT terakreditasi “B” (31%), 736 PT terakreditasi “C” (65%), dan sisanya 3.340 PT belum terakreditasi,” paparnya.

Ia menyebutkan UBH merupakan kampus yang pertama di Indonesia melakukan kerjasama dan pelatihan bersama BLK Kota Padang di bawah tanggungjawab Ditjen Binalattas Kemnaker RI. Tujuannya agar lulusan UBH lebih terampil dan kompeten ke depannya.

Selain itu, MoU dan pelatihan bagi mahasiswa UBH di BLK Kota Padang ini agar lulusan UBH bisa memetakan dunia kerja, serta kebutuhan posisi pekerjaan ke depannya. Salah satunya, melakukan percepatan daya saing dengan pendidikan vokasi, dan sinergisitas dengan pemerintah terkait.

“Kita harus lebih menggalakkan pendidikan vokasi, sarana dan prasarana harus memadai, serta melakukan kemudahan akses pendidikan untuk menghasilkan mutu lulusan. Saat ini sarana prasarana kita masih kertinggalan tiga generasi industri,” pungkasnya.

Sementara, menurut Rektor UBH, Prof.Dr. Azwar Ananda, M.A., langkah ini sebagai upaya meningkatkan mutu lulusan yang berdaya saing. Ia menilai kerjasama ini untuk lebih memberi peluang kepada mahasiswa UBH dalam mengikuti pelatihan kompetensi.

“Pelatihan ini sebagai bentuk perubahan bagi lulusan UBH ke depannya. UBH ialah perguruan tinggi swasta terbaik pertama di Sumatera, dan ke-71 perguruan tinggi (PT) terbaik di Indonesia. Semoga lulusan UBH semakin siap pakai oleh dunia industri,” ujar Azwar usai MoU. 

Turut hadir saat itu, Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Irwan Prayitno, mantan Ditjen Binalattas Masri Hasyar, SH, Menaker Arianto Simbolon, Kadis Pendidikan Kota Padang, Kepala Disnaker Sumbar, Kepala BLK Padang, wakil rektor UBH, dosen dan mahasiswa civitas akademika UBH. (why)

Editor :  John Edward Rhony

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2017





Facebook Comments