06 Des 2017 | 13:57:22 WIB
Pewarta : kontributor


MUSEUM YANG KESEPIAN
Adityawarman, Museum Jendela Sejarah di Padang

Adityawarman, Museum Jendela Sejarah di Padang

Museum Adityawarman di Padang


PADANG -- Menapaki lorong-lorong dalam tiga bangunan besar di Jl Diponegoro itu untuk yang menyukai wisata pengetahuan tentu akan melontarkan rasa takjubnya. Bangunan induk yang bergonjong berdiri kokoh di atas hamparan tanah 2,5 hektare.

Masih banyak yang belum tahu bahwa bangunan eksotik ini menyimpan rentetan sejarah masa silam tentang Minangkabau. Sejarah itu seolah terbungkam dalam mesin waktu yang lebih sering diabaikan. Pengunjung bisa langsung ditemani oleh duta museum yang siap membawa tamu menyelami dan menyusuri koridor waktu kebudayaan Minangkabau yang memiliki kekayaan bernilai tinggi.

“Datanglah ke Museum Adityawarman, kami siap menerangkan apa-apa saja yang ada di sini,” ujar Shyntia Ariska, salah satu Duta Museum Sumatera Barat yang terpilih dari seleksi yang ketat.


Siang itu, ketika kami ke sana, para pengunjung tidak henti-hentinya bertanya, meminta penjelasan dari koleksi-koleksi yang mereka lihat dan amati. Shyntia pun menjawabnya dengan fasih, seolah semua materi yang ditanyakan sudah menjadi sebuah perpustakaan di benaknya.

Selain itu, dengan ramah dan gaya berbicaranya yang menarik serta santun membuat para pengunjung tak pernah bosan mendengarkan dengan saksama sambil mendapatkan ilmu baru yang langka didapatkan di tempat lain.

Di sisi lain, Mega Liberni, Duta Museum Sumatera Barat yang terpilih selain dari Shyntia Ariska, memboyong rombongan yang bergelimang rasa penasaran kepada salah satu bagian dari  koleksi Museum Adityawarman, yaitu pakaian adat pernikahan yang berasal dari berbagai daerah di Provinsi Sumatera Barat.

Ada yang dipajang secara langsung maupun dengan galeri atau foto-foto. Jelas ragam pakaian adat itu antara daerah satu dengan daerah lainnya memiliki bentuk pakaian yang berbeda-beda. Seperti daerah darek, pada umumnya mereka memiliki pakaian adat pernikahan dengan memakai penutup kepala bagi pengantin wanitanya, dapat ditemukan dalam pakaian pernikahan di Kabupaten Agam. Sedangkan pada wilayah rantau, bagi pengantin wanitanya kepala dihiasi oleh sunting, seperti di Kabupaten Padang Pariaman, begitulah penjelasan oleh Mega, yang disambut dengan anggukan takzim dari para pengunjung.

Selepas mendengarkan penjelasan dari sang duta, seorang pengunjung yang sedari tadi menyimak apa yang dijelaskan oleh Mega meminta untuk naik ke lantai dua. Sayangnya hari ini para pengunjung tidak diperlolehkan untuk menikmati sungguhan yang ada di sana. Sorotan kecewa memang sempat mewarnai, lantaran rasa ingin tahu akan kekayaan budaya Minangkabau. Namun semua itu langsung sirna kala Mega menjawab rasa penasaran yang tak terbendung itu akan diorama yang ditampilkan di lantai dua museum.

“Diorama menampilkan bagaimana syarat sistem sebuah nagari, ada babalai-bamusajik, basuku-banagari, balabuah-batapian, basawah-baladang, bagalanggang-pamedanan, bapandam-bapakuburan, bakorong-bakampuang,” ucap Mega.

Diorama akan memanjakan para pengunjung mengenai perkampungan khas Minangkabau, layaknya sebuah nagari yang ideal. Dahulu perkampungan seperti itu kerap dijumpai pada wilayah yang masih kental akan budaya Minangkabau, seperti di darek. Mungkin  zaman sekarang amat langka bahkan tak dapat ditemukan lagi. Maka dari itu, Museum Adityawarman menghadirkan diorama agar anak-anak zaman millennium mengetahui bahwa Minangkabau memiliki perkampungan yang khas agar kekayaan budaya seperti ini tidak tergerus oleh kemajuan peradaban yang semakin meroket tajam. Mari menjelajahi mesin waktu khas Minangkabau di Taman Mini Sumatera Barat yaitu Museum Adityawarman.(rafikha erita)

Editor :  Novrizal Sadewa

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2017





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook