oleh

KEPALA DISTANHORBUN CANDRA:

Anggaran Sekitar Rp2 Miliar untuk Kegiatan Tanhorbun Mentawai

PADANG (Metrans)

Kabupaten Kepulauan Mentawai merupakan salah satu kabupaten yang jadi prioritas percepatan pembangunan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar). Kabupaten yang punya luas daerah 6.011,35 km2 dan berpopulasi tidak sampai 100.000 jiwa ini, dikatakan Gubernur perlu perlu penanganan khusus yang terencana dan berkelanjutan. Ini jadi salah satu tugas utama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Provinsi untuk memberi ekstra perhatian, salah satunya seperti yang dilakukan oleh Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Sumbar.

 


Baru-baru ini, tim Distanhorbun Sumbar dipimpin Kepala Dinas, Candra, bersama Bidang Sarana Prasana, Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura, Bidang Perkebunan,dan Sekretariat di Bidang Perencanaan Distanhorbun Sumbar, mengkhususkan agenda datang ke kabupaten yang terdiri dari empat kelompok pulau utama tersebut.

“Kami langsung ke Mentawai dan berdiskusi dengan Pemkab diwakili Wakil Bupati. Kita membicarakan langkah-langkah apa yang perlu dilakukan untuk pembenahan demi percepatan pembangunan di Kabupaten ini terutama di bidang tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan,” ungkap Kepala Distanhorbun, Candra, pada Metrans, kemarin.

Dalam anggaran 2018, dikemukakan, telah dialokasikan oleh Provinsi dana sebesar Rp2 miliar untuk kegiatan tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Kegiatan mencakup kegiatan pertanaman dan pembinaan.

Dalam kegiatan kunjungan lapangan tim Distanhorbun Sumbar, disebutkan, tim melakukan inventarisasi kondisi, misalnya terkait komoditas apa yang sudah ada di Mentawai.

Candra mencatat, tiga komoditas akan jadi perhatian utama bagi Distanhorbun Sumbar. Ketiga tersebut adalah sagu, pisang, dan kelapa.

“Sagu sudah diolah, tapi belum ada nilai ekonomis. Mulai Juli, karena kita sedang menyusun, butuh pelatihan, kita akan mengambil tenaga dari mentawai untuk dilatih mengolah sagu jadi beras sagu, sehingga nanti nilai jual meningkat dan tampilan jauh berubah dari sekedar tepung sagu. Sekarang harga jual hanya Rp1.000,- per kilogram. Kalau diolah jadi beras sagu, bisa meningkat jadi Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram,” terang Candra.

Produksi sagu yang sangat melimpah di kabupaten ini ditargetkan bisa bermuara pada penciptaan sagu menjadi makanan alternatif andalan dan eksklusif, seperti beras sagu, yang bisa disajikan untuk para wisatawan yang berkunjung ke Mentawai. Jika produksi berlebih, hasil olahannya juga bisa dikirim ke daratan Sumbar sebagai satu komoditas andalan.

Untuk ini, Candra menyebut bahwa Provinsi telah membuat MoU dengan beberapa pihak untuk membantu kesiapan Mentawai mengolah sagu menjadi berbagai olahan andalan. Target akhir tahun diharapkan beras sagu sudah keluar dari Kepulauan Mentawai.

Komoditas target kedua, pisang, juga punya potensi luar biasa. Dibarengi limpahan produksi talas, produksi pisang dalam kuantitas yang sangat melimpah dinilai masih belum punya nilai ekonomis yang tinggi karena bersifat bahan mentah, bukan olahan yang punya daya tarik pasar tersendiri.

“Selain sagu dan pisang, kelapa juga jadi target pengembangan komoditas kita. Dari data sementara, produksi kelapa bisa mencapai 100 ribu butir tiap minggunya. Tapi data ini belum valid, kita masih akan cek lagi,” tutur Candra.

Kelapa Mentawai yang didatangkan ke darat, dikatakan, hanya dihargai Rp1.000,- per butir. Dengan kondisi ini, petani kelapa Mentawai tentunya tidak punya keuntungan ekonomi yang signifikan dari komoditas mereka. Karena itu, masyarakat Mentawai akan diarahan untuk bisa menjadikan kelapa sebagai komoditas multi olahan, mulai dari sabutnya, batoknya, dan isinya.

“Harapan Kita, nanti tidak lagi hanya bahan mentah kelapa yang keluar dari Mentawai, tapi juga berbagai bentuk olahannya,” imbuh Candra.

 

Kegiatan pertanaman baru

Berdasarkan alokasi anggaran yang memungkinkan, peningkatan kegiatan pertanaman untuk peningkatan hasil produksi juga akan dilakukan. Padi, jagung, dan beberapa komoditas lainnya ditargetkan digerakkan kegiatan pertanamannya dan diarahkan sesuai dengan anggaran yang telah ditetapkan.

“Kemarin sudah Kita sepakati dengan petugas kapan harusnya tertanam, termasuk juga petani sudah ada, lokasi sudah oke. Kita berharap akhir Juli semua pertanaman sudah dimulai dan sudah kita lakukan kegiatan-kegiatan pembinaan di kabupaten Kepulauan Mentawai,” ujar Candra lagi.

Terutama taaman padi, tim Distanhorbun Sumbar telah melakukan checking lapangan dan panen padi. Padi sudah ada yang ditanam dan dipanen, namun produksinya masih rendah.

Oleh karena itu, tim juga melakukan evaluasi mengenai apa yang diperbaiki.

“Apakah itu karena tidak sempurna dalam bimtek terutama soal pemakaian pupuk, misalnya. Atau ada kendala tanahnya, sehingga nanti perlu Kita ambil sampel tanah sehingga ke depan Kita bisa beri rekomendasi, bagaimana memperlakukan tanah di Mentawai supaya bisa produksinya maksimal,” sebut Candra.

Kegiatan 2018 untuk tanaman padi dan jagung direncanakan 15 Mei dilakukan dan Agustus sudah panen dihadiri langsung Wakil Gubernur Sumbar selaku penanggungjawab percepatan pembangunan di Mentawai.

Kegiatan pertanaman diutamakan di daerah hamparan, bukan sebaran. Ini karena jika kegiatan pertanaman dilakukan di lokasi sebaran, akan memakan biaya yang sangat besar.

Ke depan, Distanhorbun Sumbar meminta kepada jajaran Dinas Pertanian Kabupaten Kepulauan Mentawai, melalui Wakil Bupati, agar segera memasukkan usulan langkah-langkah pasti terkait pengembangan Distanhorbun di daerah tersebut. Ini juga karena mengingat anggaran 2019 sudah harus dimasukkan.

Untuk ketersediaan pupuk, Distanhorbun Sumbar juga akan meminta Pupuk Indonesia sebagai distributor di Mentawai agar bisa meningkatkan jumlah distributor karena belakagan ini diketahui jumlah pupuk terbatas di daerah tersebut.

“Bagaimana ke depannya Mentawai jadi Kabupaten yang penduduknya punya pendapatan tinggi. Pulau-pulau ini luasnya luar biasa. Ribuan hektar. Sementara eksplorasi pertanian bisa jadi tidak sampai 10 persen. Potesi sangat luar biasa,” Candra menekankan.

Dalam upaya eksplorasi Tanhorbun di Mentawai, juga akan dibuat kawasan-kawasan seperti kawasan pertanian, kawasan perkebunan, atau kawasan konservasi yang tidak boleh diganggu.

“Sehingga nanti tidak berbenturan dengan program pengembangan lainnya bagi Mentawai,” pungkas Candra. (yyn)


COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru