oleh

TARGETKAN SUMBANG SWASEMBADA JAGUNG NASIONAL

Area Tanam Jagung Sumbar Kini Tambah Signifikan

PADANG (Metrans)

Setelah mengalokasikan bantuan benih jagung dan berbagai sokongan untuk kelancaran produksi jagung di Sumatera Barat (Sumbar) pada total lahan seluas 40.000 hektare, Kementerian Pertanian menyatakan Sumbar diberi tambahan jatah intensitas pertanaman jagung untuk total lahan seluas 61.443 hektare lagi.

“Awalnya kita dapat jatah untuk 60.000 hektare. Kemudian karena keterbatasan anggaran di akhir tahun kemarin, hanya ditetapkan menjadi 40.000 hektare. Tapi, kemudian, Ditjen Tanaman Pangan menyatakan bahwa Sumbar ditambah jatahnya 61,443 hektare lagi untuk jagung. Jadi berarti Sumbar dapat jatah 101.443 hektare secara keseluruhan,” ungkap Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar, Candra, pada Metrans, kemarin.


Candra menjelaskan, mengingat alokasi 40.000 hektare mampu diselesaikan Sumbar, Kementerian Pertanian, melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, memberi tambahanan amanah untuk Sumbar agar bisa menyumbang swasembada jagung nasional sebesar 30 persen hingga target swasembada tahun 2018 bisa tercapai.

Diketahui, Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI, Ali Jamil, Jumat kemarin langsung datang ke kantor Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar membawa kabar gembira bahwa Sumbar dapat tambahan jatah penanaman jagung. Namun, dikatakan Cadra, lokasi baru yang diminta oleh Pusat haruslah lokasi yang baru.

“Mereka ingin ada tambahan lahan baru untuk intensitas atau produksi jagung ini. Untuk data Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL) harus selesai Maret. Pengadaannya selesai antara Maret-April. Artinya kita harus kerja keras. Saya sudah langsung WA orang kabupaten dan kota. Senin (red-hari ini) mereka bawa data CPCL,” kata Candra lagi.

Potensi lahan, dikemukakannya, berada di kabupaten Pasaman Barat, kabupaten Pasaman, kabupaten Dharmasraya, kabupaten Lima Puluh Kota, dan kabupaten Pesisir Selatan.

Jagung sendiri merupakan komoditas yang dinyatakan belum swasembada. Nasional masih tergantung impor sebesar 30 persen. Dari target 100 persen menyumbang swasembada jagung nasional, Sumbar baru berhasilkan menurunkan kapasitas 60 persen. “Sisanya harus selesai tahun ini, sehingga tahun depan tidak didengar lagi ada impor jagung. Untuk itulah Kementerian mempercayakan Sumbar sebagai salah satu pendukung swasembada jagung nasional dengan menambah jatah sebesar 61.443 hektare ini,” urai Candra.

Di Sumbar, selain lahan-lahan baru diupayakan, lahan yang sudah ada namun dalam segmentasi beda juga berusaha dimanfaatkan. Menurut Candra, petani sawit bisa memanfaatkan lahannya untuk bertanam jagung, dan itu memang sudah dilakukan. Sekarang, Candra mengatakan, pemerintah mengarahkan petani kakao untuk mau bertanam jagung juga. “Hamparan yang ada antara pohon kakao itu bisa ditanam jagung. Dengan demikian, petani kakao juga bisa bertambah penghasilan dari memproduksi jagung,” ujarnya.

Untuk harga jagung sendiri hingga sekarang masih stabil dipatok Rp3.150 per kilogram oleh Kementerian. Untuk Sumbar sendiri, sebenarnya masih punya potensi lahan sampai 300.000 hektare. Namun, petani masih perlu dipahamkan agar tidak lagi tergantung pada jagung multinasional.

“Kita sudah kembangkan varietas litbang. Porsinya sekarang 40:60. Kita berharap masyarakat menyenangi varietas hasil penelitian litbang kita. Jangan tergantung pada yang multinasional. Apalagi yang kita kembangkan ini adalah yang batang jagungnya lebih lunak daripada batang jagung multinasional. Ini juga mendukung target peternakan yaitu swasembada sapi. Batang  jagung itu juga dimanfaatkan nantinya untuk jadi pakan sapi,” ujar Candra. (yeyen)


COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru