AKSI TEATRIKAL MAHASISWA TENTANG SE GUBERNUR

Budayawan: Berekspresilah Manis dan Santun

PADANG (Metrans)

Terkait diamankannya tiga orang mahasiswa oleh personil Korem 032 Wirabraja saat melakukan aksi teatrikal di depan Makorem 032 Wirabraja Selasa malam (11/4) di Padang, budayawan senior Sumbar, Alwi Karmena, angkat bicara. Menurut penulis yang juga kartunis ini mahasiswa tidak seharusnya bersikap apriori melalui apresiasi budaya.

“Secara budaya, tidak boleh apriori. Ekspresi seni yang ditunjukkan tiga orang mahasiswa itu terlalu apriori. Kalau ekspresi teater, tempatnya di panggung teater. Ini siapa penontonnya? Terlalu tendensius. Seolah menepuk dada. Budayawan jarang yang frontal. Bicaralah dengan bahasa kesenian,” ujar Alwi menyorot tindakan mahasiswa salah satu sekolah tinggi swasta tersebut, pada Metrans, Rabu (12/4).


Alwi memandang, aksi teatrikal mahasiswa yang dilakukan tersebut tidak pada tempatnya. Surat Edaran Gubernur yang dikeluhkanpun, dikatakan, belum terlaksana. Ditambahkan, mahasiswa sendiri harus mendalami terlebih dahulu muatan Surat Edaran yang dikeluhkan.

“Apakah sudah tahu mahasiswa akan jadi apa hasil dari SE tersebut? Ini hanya kecemasan. Negeri ini akan baik kalau kita punya prasangka baik, pikiran-pikiran positif. Jika perlu, tanyakan baik-baik ke instansi terkait. Duduak balapang-lapang, lamak dek awak katuju dek urang. Mari kita berpikir jernih. Mari berekspresi lebih manis dan santun,” ujar Alwi menekankan.

Sementara, Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Sumbar, Candra, dikonfirmasi Metrans, kemarin, menyayangkan tidak dipahaminya Surat  Edaran Gubernur Sumbar tentang Dukungan Percepatan Tanam Padi yang dikeluhkan mahasiswa tersebut.

“Sebenarnya justeru pemerintah berpihak kepada kesejahteraan petani. Dengan adanya imbauan Gubernur ini, pemerintah beritikad membantu petani yang tidak mampu mengelola lahannya. Bukannya mengambil alih lahan,” kata Candra. Dijelaskan, bahkan, petani tidak perlu modal untuk mengelola lahan, pemerintah yang sediakan, dibantu TNI untuk tenaganya. Inipun tidak diserahkan pada kesepakatan selanjutnya antara kedua belah pihak. Eksekusi tergantung kepada kabupaten atau kota. Bukan diatur Pemerintah Proovinsi.

Candra menyarankan agar pihak-pihak yang merasa tidak memahami Surat Edaran tersebut agar mengkomunikasikan pada pemerintah. Dinasnya sendiri, dinyatakan, siap menerima itikad komunikasi untuk membahas Surat Edaran tersebut dari pihak manapun.

Terkait kepedulihan mahasiswa yang ditunjukkan dengan membuat film dokumenter tentang Surat Edaran ini, Candra mengapresiasi perhatian mahasiswa yang besar terhadap pembangunan negeri. “Tapi, Surat Edaran itu perlu dipahami secara menyeluruh terlebih dahulu. Tidak ada dinyatakan TNI ataupun pemerintah mengambil alih atau ekstrimnya menguasai lahan petani. Justeru pemerintah ingin membantu petani. Dan TNI sendiri, sudah sejak 2012 aktif membantu para petani di lapangan,” katanya.

Diselidiki Lebih Lanjut

Kepala Bagian Operasi Polresta Padang, Kompol Sumintak di Padang, dihubungi Metrans lewat seluler, menjelaskan bahwa memang telah masuknya laporan polisi terkait tiga orang mahasiswa yang melakukan dokumentasi aksi teatrikal Selasa malam.

“Telah diamankan tiga orang mahasiswa. Mereka APS, AJ, dan RO. Bersama mereka, disita barang bukti berupa satu unit kamrea merek Canon Eos 1100D warna hitam, satu unit cangkul, satu  helai celana dan rompi TNI berlambang Korem 032.Wirabraja dan TMMD kke-88 2012 KODIM 0310/SSD. Plastik, kertas kardus bertuliskan REMOTE BOM, dan satu buah topi petani,” ungkap Sumintak, Rabu (12/4).

Sumintak memaparkan, ketiga orang mahasiswa itu dalam aksinya didampingi oleh LBH Padang. Aksi teatrikal yang dilakukan terkait dengan Surat Edara Gubernur Sumbar tentang Dukungan Percepatan Tanam Padi dan juga sebagai aksi solidaritas petani perkebuhan Kendeng Provinsi Jawa Tengah.

Diceritakan kronologi kejadian bermula ketika seorang personil jaga Provost Korem 032 Wirabraja melihat adanya tiga orang mahasiswa yang sedang beraksi teatrikal menggunakan atribut TNI. Adegan yang ditunjukkan adalah tindakan kekerasan TNI terhadap petani berupa memukul dan menyeret petani agar melakukan tanam padi. Melihat aksi tersebut, Makorem Wirabraja mengamankan tiga orang mahasiswa untuk dibawa ke penjagaan dan diinterogasi. Pada pukul 21.30 WIB, ketiga orang pelaku kasi teatrikal dibawah ke Polresta untuk kemudian diselidiki lebih lanjut.

“Kita akan menyelidiki ini. Yang disayangkan adalah kegiatan mereka dilakukan tanpa pemberitahuan. ini tidak sesuai dengan ketentuan,” pungkasnya. (yyn)

 


Jangan Lewatkan