oleh



Festival Cap Go Meh, Bukti Keberagaman di Kota Padang

PADANG (Metrans)

Ranah Minang, Sumatera Barat (Sumbar) memang sangat kaya dengan kebudayaan multietnis yang kian tumbuh subur. Tentu ini akan menambah khasanah budaya yang ada di ranah Minang, terkhusus di Kota Padang.

Keberadaan budaya multietnis ini bukan saja mampu mengundang jutaan para wisatawan lokal, namun juga wistawan Asing. Tumbuh suburnya budaya multietnis ini mengisyaratkan Kota Padang menerima kemajemukan, sekaligus menampik predikat anti toleransi yang pernah disematkan lembaga survei pemerintah yang antah-berantah itu.


Diperkirakan komunitas keturunan Tionghoa ini sudah sejak 1.400 tahun yang lalu di ranah Minang, yang kini sudah mencapai puluhan ribu yang tersebar di seluruh wilayah Sumbar. Di Kota Padang mereka tinggal di sepanjang Batang Arau dan kawasan Pondok di bangunan tua peninggalan Belanda.

Kebudayaan multietnis yang kian eksis itu, salah satunya Festival Cap Go Meh yang menjadikan momentum puncak perayaan Tahun Baru Imlek 2569 oleh keturunan Tionghoa di Kota Padang, dengan menampilkan berbagai atraksi budaya leluhurnya.

“Dengan adanya budaya Tionghoa, seperti Festival Cap Go Meh ini bisa menambah keberagaman wisata budaya di Padang, tanpa menghilangkan budaya lokal. Jadi ini perlu disemarakkan lagi agar wisatawan semakin banyak datang ke Padang,” ujar Albert Hendra Lukman, Anggota DPRD Sumbar yang hadir pada saat itu, Jumat (2/3) sore.

Budaya multietnis ini, bukti keturunan Tionghoa dan penduduk lokal berbaur dalam keberagaman.  Terkait Festival Cap Go Meh, tahun ini lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya. Dalam festival ini menghadirkan pawai Sipasan sepanjang 170 meter, dengan melibatkan ratusan anak-anak keturunan Tionghoa di Kota Padang.

Pawai Sipasan melewati rute sepanjang 2,5 kilometer, dimulai dari Jembatan Siti Nurbaya ke Jalan Berok Nipah, dilanjutkan ke jalan Hos Cokrominoto menuju jalan Niaga, dan berakhir di Jalan Klenteng. Selain Sipasan, dalam pawai tersebut juga menampilkan Barongsai sebanyak enam kelompok, Naga lima kelompok, dan Kio (kendaraan leluhur) 16 unit yang mayoritas didatangkan dari Jawa Tengah.

“Dalam Cap Go Meh ini wisatawan tidak hanya bisa menikmati festivalnya, tapi juga bisa mengetahui sejarah dan kulinernya. Ini sangat bagus untuk promosi wisata untuk Kota Padang,” imbuhnya.

Selain itu, Cap Go Meh tahun ini juga menampilkan atraksi beladiri Wushu yang berasal Himpunan Tjinta Teman (HTT) Padang dan Bogor Harmoni, pentas Singa Peking, serta Kuda Api-Api. Dalam festival ini warga tumpah-ruah di kawasan Pantai Padang, Jembatan Siti Nurbaya, dan Pondok Padang, semuanya menyatu dalam perbedaan agama dan suku.

“Terima kasih kami ucapkan ke Pemprov Sumbar, karena telah banyak membantu untuk festival ini, selain dana Rp500 juta juga dalam bentuk pengamanan agar acara ini lancar. Kami berharap ini bisa menjadi agenda tahunan secara nasional,” tambah Albert.

Festival Cap Go Meh di Kota Padang tahun ini mampu menarik perhatian warga, dan sekaligus 2.500 wisatawan yang hadir menyaksikan. Kehadiran wisatawan ini bukan hanya dari wilayah Sumbar, namun juga dari berbagai provinsi lainnya, bahkan mancanegara.

“Wisatawan nusantara yang hadir pada festival ini, didominasi dari Kepulauan Riau dan Provinsi Riau,” sebut Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit sebelum pawai Sipasan dimulai.

Wagub Sumbar ini sangat mendukung kegiatan Cap Go Meh ini, salah satunya untuk dijadikan daya tarik wisata budaya. Terutama saat ini perkembangan wisata di Kota Padang semakin membaik. Menurutnya, kawasan Kota Tua yakni Pondok dan Batang Arau merupakan peradaban pertama sebagai daya tarik bagi wisatawan.

Ia mengatakan dengan banyaknya wisatawan yang datang, otomatis akan berimbas pada pendapatan dari segi ekonomi bagi masyarakat di Kota Padang. Pihaknya pun memperkirakan uang yang berputar selama tiga hari saja wisatawan berada di Kota Padang bisa mencapai Rp1,5 miliar.

“Kawasan Kota Tua ini sangat perlu kita bangkitkan kembali sebagai gairah wisata di Kota Padang, apalagi didukung dengan berbagai festival budaya, salah satunya Cap Go Meh ini,” ungkapnya.

Ia menyebutkan, seluruh rangkaian kegiatan yang digelar oleh keturuan Tionghoa di Kota Padang ini, selalu mendapat perhatian dari Pemprov Sumbar. Selain itu, acara ini juga didukung oleh seluruh lapisan masyarakat, sebagai cerminan tingginya sikap toleransi dan keberagaman di Kota Padang.

Ia berharap, ke depannya festival yang serupa bisa lebih meriah dan dihadiri banyak wisatawan. Apalagi ia menilai bahwa Kota Padang memiliki banyak keberagaman, sekaligus menjadi daya tarik dan magnet yang cukup menjanjikan untuk pariwisata, yang akan berdampak pada kemajuan ekonomi masyarakat.

“Keberagaman jangan dijadikan sekat di tengah masyarakat, justru harus dijadikan kekuatan yang membangun. Perayaan ini kemungkinan bisa masuk dalam event tahunan Dinas Kepariwisataan Sumbar nantinya,” harap Nasrul. (why)


COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru