Gubernur Sumbar Polisikan Tiga Orang Terduga Pencemaran Nama Baik

Gubernur Sumbar Irwan Prayitno saat melapor di ruangan Ka. SPKT Polda Sumbar, Selasa (1/5) malam. (Foto: Raihan Al Karim)


PADANG (Metrans)
Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno melaporkan tiga orang terduga yang menurutnya telah mencemarkan nama baiknya ke Mapolda Sumbar, Selasa malam (1/5).

Ia melapor ke Polda Sumbar terkait namanya yang disebut-sebut dalam dugaan korupsi Surat Pertanggungjawaban (Spj) fiktif senilai Rp62,5 miliar pada Dinas Prasjaltarkim yang disampaikan terdakwa SPj Fiktif, Yusafni Ajo yang kemudian diterbitkan di media cetak dan portal berita Haluan, Sabtu (28/4) lalu.

Irwan yang datang sekitar pukul 22.35 WIB itu didampingi Kepala Biro Humas Pemprov Sumbar, Jasman, orang dekatnya Rinaldi, serta didampingi pengacaranya Miko Kamal.


"Saya Irwan Prayitno melaporkan suatu pencemaran nama baik, yang mana saya dituduh ikut mendapat cipratan dana korupsi Ajo Yusafni dan kemudian disebarluaskan di media cetak, media online dan media sosial. Sehingga saya sebagai warga negara merasa tidak nyaman karena keluarga saya, teman-teman dan orang yang kenal menuduh saya sebagai pencuri, sebagai orang yang juga terlibat dalam korupsi," ujar Irwan Prayitno di Mapolda Sumbar, Selasa (2/5) setelah melapor sekitar 1,5 jam.

Dikatakannya, dengan suasana yang tidak nyaman atas tuduhan tersebut, ia memproses keadilan melalui penegakan hukum dengan melaporkan dugaan pencemaran nama baik dirinya itu ke polisi.

"Yang dilaporkan, pertama yaitu Yusafni, karena dia menyampaikan berita bohong ini diluar persidangan tanggal 27 April dan dimuat oleh media Haluan dan juga onlinenya. Kemudian disebarluaskan di facebook yang bernama Bhenz Maharajo dan Maidestal. Sehingga tiga orang itu yang kita laporkan sebagai pencemaran nama baik," ujar politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Sementara itu, untuk Harian Haluan sendiri, katanya lagi, sesuai dengan Undang-undang Pers, lusa, pihaknya akan menemui Dewan Pers di Jakarta, sebagai proses untuk juga mencari keadilan dari segi jurnalistik.

Sementara itu, untuk akun facebook Maidestal yang juga ikut membagikan kiriman berita itu saat ditanya apakah seorang anggota dewan di Padang ini jawabnya. "Kalau nggak salah, iya kali ya. Yang jelas facebooknya Maidestal namanya," jawabnya.

"Yang jelas, di facebooknya menyebarluaskan berita bohong, bahwa Irwan Prayitno itu pencuri, korupsi. Itu kan tidak nyaman," katanya.

Dikatakannya, untuk barang bukti yang diserahkannya saat melapor, yakni facebook dari Bhenz Maharajo dan Maidestal, foto kopi berita yang dimuat di media online Haluan, serta yang di media cetak Haluan.

"Oh yang ini bukan pelaporan karya jurnalistik. Karya jurnalistik nanti di dewan pers. Ini adalah pidana pencemaran nama baik. Bukan wartawannya. Kalau wartawannya nanti di dewan pers ada Undang-undang yang ngatur," katanya.

Saat ditanya wartawan, ketika dirinya diminta pengacara Yusfani sebagai saksi, ia tidak dapat hadir karena sibuk dalam menjalankan tugas sebagai Gubernur.

"Loh, saya kan sibuk sebagai Gubernur. Kalau pengadilan yang minta saksi, hadir saya. Itu kan tanggung jawab warga negara dipanggil pengadilan. Pengacara kan suka-suka pengacara, kalau saya sibuk bagaimana ?" katanya.

Menjawab hal itu, terlapor Bhenz Maharajo mengatakan, ia menghormati dan menghargai sikap yang ditempuh Gubernur Sumbar, Irwan Prayitno, serta siap mempertanggungjawabkan seluruh tindakannya.

"Saya siap mempertanggungjawabkan seluruh tindakan saya, termasuk status yang saya unggah di media sosial. Baik kepada publik atau penegak hukum. Mari kita uji kebenaran di depan hukum," ujar Bhenz melalui pesan singkat Whatsapp.

Sementara itu, Penanggungjawab Harian Haluan, Zul Effendi mengatakan, apapun perbuatan Bhenz, sepenuhnya dalam perlindungan Harian Haluan, mengingat yang bersangkutan adalah Redaktur Pelaksana Harian Haluan. Dan unggahannya juga terkait pemberitaan Haluan.

"Haluan akan memberikan advokasi dan mengawal proses hukum terhadap laporan ini. Bhenz tidak akan dibiarkan sendiri," tutupnya. (Raihan)

Editor :  John Edward Rhony

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2017





Facebook Comments