Jumat Besok, Film “Sansai” Tayang Perdana di Teater Mursal Esten UNP

PADANG (Metrans)
Bagi masyarakat Sumatra Barat (Sumbar) yang hobi nonton, ada kabar gembira, terutama bagi penikmat film yang kental dengan budaya atau kultur daerah tertentu. Kabarnya, setelah menunggu beberapa bulan Film Pendek "Sansai" akan tayang perdana pada Jumat 16 November 2018, besok.

“Film Sansai garapan FKM Production ini akan tayang perdana di Teater Mursal Esten Jumat besok, mulai pukul 09.00 WIB,” kata Zalmasri selaku pembina FKM Production ini saat dihubungi Metrans, Rabu (14/11/2018).

Berdasarkan penuturan jebolan Pascasarjana Universitas Negeri Padang (UNP) ini, film Sansai sangat direkomendasikan bagi penyuka ilmu bidang kesusastraan, baik bagi mahasiswa, akademisi, peneliti, pegiat sastra, budaya, dan film terkait ranah sosial budaya. 


Pasalnya, dikatakan Zalmasri film Sansai ini merupakan ekranisasi dari sebuah novel Sansai karya Prof. Dr. Ermanto, M.Hum, Guru Besar Bidang Bahasa di kampus “Alam Takambang jadi Guru” di Kota Padang, Sumbar, yang telah banyak melahirkan buku-buku fiksi maupun non-fiksi.  

“Film Sansai ini hasil adaptasi dari novel Sansai karya dosen jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UNP, yang berawal dari status di sosial media,” papar Zalmasri, selaku sosok di balik suksesnya pembuatan film Sansai ini.

Lebih lanjut Zalmasri menjelaskan, dalam pembuatan film Sansai ini melibatkan beberapa mahasiswa dan dosen sebagai aktor atau aktris. Lokasi pembuatan film ini kata dia, dilakukan di beberapa daerah wilayah Sumbar, seperti Pariaman, Padang Pariaman, dan sekitar Kota Padang.

Adapun pemeran utama dalam film Sansai yang disutradarai Tio Furqon Pratama ini, yakni Yozi Alta Pranata sebagai Barlian, sedangkan Nurlela diperankan oleh Nursiah. Tentu, dengan nama yang dipakai dalam film ini sangat kental denghan nuansa Minangkabau-nya.

“Sansai ini kental dengan Minang, baik tentang budaya, sosial, adat, bahkan persoalan ekonomi yang diceritakan dalam novel Sansai,” sambung dosen pengampu Mata Kuliah Telaah Drama tersebut.

Sekilas terkait film yang beranjak dari novel Sansai ini, menampilkan persoalan sosial, budaya, dan ekonomi orang Minang di kampung. Dengan menampilkan persoalan orang-orang terpinggirkan oleh permasalahan adat dan ekonomi, hingga berujung hidup di perantauan.

Film Sansai yang lahir dari hasil coretan status facebook dosen kelahiran Lubuk Nyiur Pesisir Selatan Sumbar ini, juga menampilkan berbagai lika-liku kehidupan di perantauan sebagai budaya orang Minangkabau untuk mengangkat harkat dan martabat keluarga.

Selain itu, dikatakan Zalmasri, pada hari yanga sama juga ditayangkan film Rumah untuk Kemanakan yang diadaptasi dari cerpen sastrawan Sumbar, Iyut Fitra. Kemudian, juga akan diselingi diskusi tentang film dengan Muhammad Arief, seorang sutradara film Surau dan Silek serta film Liam dan Laila yang juga berlatar Minangkabau.

“Nanti juga ada pemutaran film Rumah untuk Kemanakan disutradarai Pegi Aulia, dan dilanjutkan diskusi tentang film. Hanya dengan Rp10 ribu untuk tiket, penonton bisa bisa menang banyak dengan bertemu langsung aktor dan aktrisnya. Jadi mari sama-sama kita sukseskan karya generasi urang awak ini, ” ajak Zalmasri. (why)


Jangan Lewatkan