Ketika Lebih Takut Tak Punya Baju Lebaran Ketimbang Virus Corona

Raihan Al Karim

Oleh: Raihan Al Karim
(Wartawan Muda)

Idulfitri secara bahasa berarti kembali berbuka atau tidak berpuasa lagi. Selama Ramadan, secara fisik kita digembleng untuk tahan pada rasa lapar, haus, dan juga dorongan seksual sepanjang siang. Sedangkan secara mental kita dilatih untuk menjaga jarak aman dari aneka kesenangan duniawi yang sudah halal, baik, dan menjadi hak kita.

Kemudian, juga tidak ketinggalan tradisi membeli baju baru sebelum Lebaran sebagai ekspresi kebahagian. Bahagia karena berhasil beribadah di bulan Ramadan, dan orang yang berpuasa berhak mendapatkan kebahagiaan tersebut. 


Namun suasana Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 1441 Hijriah ini terasa berbeda. Tahun ini masyarakat Indonesia masih dihadapkan dengan Pandemi virus Corona atau Covid-19. Berbagai daerah di Indonesia sedang menjalani masa penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) guna memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Di Sumatera Barat (Sumbar) sendiri, berdasarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 20 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam Penanganan Covid-19, masyarakat diimbau untuk tetap di rumah saja, dilarang untuk melakukan kegiatan lebih dari lima orang di tempat atau fasilitas umum, kecuali pasar rakyat, swalayan, minimarket, toko kelontong, jasa laundry, dan toko bangunan. Pelaku usaha pun wajib mengutamakan pemesanan barang secara daring, dengan tidak menaikkan harga.

Kemudian, jika memang terpaksa beraktivitas di luar rumah, diwajibkan untuk memakai masker, rajin mencuci tangan dan menjaga jarak antar sesama (physical distancing). Namun tampaknya tidak sedikit masyarakat yang mengabaikannya. Entah itu tidak peduli, atau karena memang ketidak tahuannya akan bahaya virus yang bisa mematikan orang yang menjangkitinya itu.

Belakangan ini, berbagai pasar dan pusat perbelanjaan terpantau ramai-ramai saja oleh calon pembeli yang ingin merayakan Lebaran selayaknya Lebaran: menggunakan berbagai hal yang serba baru. Corona nol, kapitalisme satu. Padahal kegiatan yang mengundang keramaian semacam itu kerap disebut berisiko menyebarkan virus Corona. Dengan demikian, aturan PSBB di ibu kota provinsi itu 'ambyar'.

Baru-baru ini, muncul video di "pasar malam" kawasan Alai, Kota Padang, yang merekam keramaian pasar. Terlihat antrean motor yang menimbulkan kemacetan di sepanjang jalan tersebut bikin merinding. Masyarakat tampak mantap mengambil pendekatan gabungan antara kekebalan imunitas dan kepercayaan hidup-mati di tangan Tuhan. Begitu juga di beberapa mal, meski tidak seramai pada tahun-tahun sebelumnya.

Yang menjadi permasalahan saat ini, bukan ramainya pengunjung. Tetapi masalahnya, di tengah suasana Pandemi Covid-19 ini, ditambah lagi Sumbar sedang menjalani masa PSBB, tidak ada jaga jarak antarpengunjung serta banyak pengunjung tidak menggunakan masker. Sepertinya mereka benar-benar ingin berdamai sekaligus berbelanja bersama Corona, dan tidak memikirkan akibat perbuatan mereka dalam jangka panjang.

Setidaknya, jika ingin tetap ngotot berbelanja dan berbaju baru ketika Lebaran, hendaknya kita tetaplah memperhatikan Protokol Covid-19. Seperti menjaga jarak antar sesama, dan yang terpenting menggunakan masker. Tapi saya rasa, susah untuk membudayakan itu kepada mereka. Ini merupakan cerminan sikap masyarakat yang "kembali normal, walaupun PSBB tetap diterapkan".

Coba mari sama-sama kita bayangkan, mudahnya berkembang biak virus Corona di sekeliling kita. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) dan beberapa ahli mengatakan penularan tertinggi Covid-19 memang melalui droplet atau tetesan air liur penderita ketika mereka batuk atau bersin. Namun, virus itu juga dinilai bisa bertahan di permukaan benda mati. Artinya, ketika droplet penderita Covid-19 menempel di permukaan benda, seseorang juga bisa saja tertular ketika menyentuh benda tersebut.

Memang, risiko penularan Covid-19 melalui benda juga terbilang sangat rendah. Pasalnya, virus Corona ini terbilang masih baru sehingga diperlukan penelitian lebih jauh, termasuk mengenai potensi transmisi virus melalui benda mati seperti pakaian dan uang tunai. Tetapi bagaimanapun, virus Corona jenis baru ini disebut bisa bertahan di permukaan baju yang kita gunakan atau bisa saja pada baju yang dijual itu (karena banyaknya pengunjung yang berkontak fisik) dan menyebabkan kontaminasi silang.

Beberapa waktu lalu, salah seorang petugas kasir di sebuah mal di Kota Medan dinyatakan positif Covid-19. Jika ini terjadi kepada kita, masih tidak cemas dan tidak waspada kah untuk berbelanja beramai-ramai tanpa mematuhi Protokol Covid-19? Bayangkan, berapa banyak orang yang berkontak fisik dengan petugas kasir tersebut.

Jika memang membeli baju Lebaran itu sudah menjadi "kebutuhan", ya silakan saja. Tetapi tolong memperhatikan keselamatan kita dan orang di sekeliling kita. Apa susahnya menjaga jarak, selalu memakai masker jika keluar rumah dan rajin mencuci tangan? Begitu juga dengan orang yang dalam kondisi tidak sehat (batuk, pilek atau demam), bersantai dan beristirahat sajalah di rumah. Sayangi diri kita, keluarga kita dan orang-orang di sekitar kita.

Mirisnya, banyak beberapa pernyataan netizen yang viral di media sosial baru-baru ini. Pada unggahannya dia mengatakan lebih takut tidak punya baju Lebaran dari pada mati terkena corona. Katanya, kena wabah atau tidak merupakan kehendak yang Maha Kuasa, bukan campur tangan manusia, dan meyakini bahwa semua ini adalah teori konspirasi. Saya harap, kita semua (terutama di ranah minang ini) tidak ada yang berfikir seperti itu. Jangan tunggu kita atau keluarga kita terjangkit dulu, baru kita sadar dan percaya, bahwa virus Corona itu benar adanya.

Di masa seperti ini, memang kepedulian dan kedisiplinan kita yang dibutuhkan. Tolonglah kita kasihan dan menghargai tim medis yang tengah berjibaku dalam memerangi virus Corona ini, dan juga upaya-upaya pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran Covid-19 di tanah air ini. Percayalah, jika tidak pun kita menggunakan baju baru di saat Lebaran nanti, tidak akan mengurangi kegantengan dan kecantikan dari masing-masing kita.

Singkat saya, berhubung baju baru tidak akan berguna jika tidak dipamerkan, kita mesti siap-siap sama pemandangan susulan. Pertama, orang-orang yang ngotot salat Ied berjamaah di masjid pada kawasan "zona merah" dan silaturahmi Lebaran ke rumah-rumah. Kedua, munculnya klaster Corona bernama “klaster baju baru”. Kalau semua tenaga kesehatan mogok kerja, mungkin baru orang-orang ini pada "insyaf".


Jangan Lewatkan