oleh



MAA Peretas Situs KPU Adalah 'Hacker Putih', Mestinya Dirangkul

Oleh: Raihan Al Karim - Wartawan Muda

MAA (19), sosok hacker remaja asal Payakumbuh, kini menjadi buah bibir. Seperti yang banyak diberitakan, dia ditangkap polisi dari Direktorat Tindak Pidana Siber (Dit Tipidsiber) Bareskrim Polri bersama Reskrim Polres Payakumbuh lantaran diduga melakukan percobaan Illegal Acces terhadap website KPU RI yang saat ini sedang melakukan input data hasil suara Pemilu 2019.

Meski memiliki otak brilian, pendidikan formal MAA ternyata tak tinggi. MAA terakhir sekolah hingga SMP. Meski hanya lulusan SMP, MAA lebih berminat mempelajari IT ketimbang sekolah. Buktinya, beberapa sertifikat miliknya terpajang indah di kamarnya seperti dari SQL Injection Challenge Kominfo, AVIRA Vulnerabilities, Responsible Disclosire dari McAfee dan dari Bug Report Vulnerabilities Tokopedia.


MAA 'gila' IT sejak dulu. Dia belajar secara otodidak hingga memiliki kemampuan yang luar biasa di bidang IT. Di kamarnya, MAA hanya ditemani laptop, dan bermain HP, sesekali bermain gitar dan skateboards. Dia juga dikenal sebagai anak baik-baik di lingkungannya, bahkan merokok pun dia tidak. Bermacam petisi pun bermunculan di situs change.org. Petisi itu antara lain, petisi yang ditulis Anton Hilman dengan judul "Arik Bukan Kriminal Hacker situs KPU".

MAA telah menjalani pemeriksaan di Direktorat Tindak Pidana Siber (Dit Tipidsiber) Bareskrim Polri. Dia juga telah "dilepaskan" polisi dan tengah beristirahat di rumah pamannya di Jakarta. Namun, dia belum bisa pulang ke kampung halamannya karena harus memenuhi panggilan jika suatu saat diperlukan polisi untuk kembali diperiksa. Namun kini, dia terancam Pasal 46 jo Pasal 30 dan atau Pasal 49 jo Pasal 33 dan atau Pasal 51 ayat (2) Pasal 36 UU 11 tahun 2008 tentang ITE karena mencoba melakukan illegal access dan atau menerobos, melampaui, atau menjebol sistem pengamanan dan atau melakukan tindakan berakibat terganggunya sistem elektronik terhadap website KPU.

Menurut saya, MAA bukan berbuat kriminal dan jangan dianggap sebagai musuh. Dia tergolong White Hat Hacker (hacker putih). Istilah hacker (yang baik) di Indonesia masih dirancukan dengan istilah cracker (yang jahat). Tak hanya itu, semua kegiatan yang bernuansa hacking juga dianggap haram oleh pemerintah. Padahal, "hacker putih" atau white hat hacker seharusnya dirangkul. Tanpa disadari, potensi hacker Indonesia ternyata luar biasa, keamanan web pun sudah menjadi bagian penting dunia kita.

Baca Juga: (Ini Cerita Keluarga MAA, Remaja yang Diamankan Polisi karena Mencari Kelemahan Situs KPU)

Hacker sebenarnya untuk menyebut orang yang paham soal komputer, mulai software, hardware, arsitektur, hingga administrasinya. Tetapi, orang mengonotasikan hacker sebagai orang jahat yang membobol keamanan. Padahal, hacker hanya memperbaiki, mencari lubang keamanan, dan memberikan peringatan. White hat hacker memiliki etika tidak merusak dan tidak mencuri data sensitif. 

Dari sisi positif, hacker ketika menemukan lubang keamanan hanya memberikan peringatan kepada pemilik web untuk meningkatkan keamanan. Jika sampai merusak, maka sebutan dia adalah cracker. Memang akhirnya muncul black hat hacker yang sering membobol sistem keamanan untuk kepentingan pribadi dan juga grey hat hacker yang menyuplai (menjual) informasi keamanan kepada vendor dan juga cracker.

Pada kasus ini karena kepolisian yang sedang memproses kita beri kesempatan untuk melakukan proses penyelidikan, kita yakin polisi akan wise menanganinya. Jadi jangan lihat ancaman kurungan penjara dan dendanya, tetapi kita harus berfikir untuk membina MAA, dan diarahkan pada hal-hal yang positif. Pemerintah atau pihak terkait lainnya dapat juga merangkul para hacker belia ini agar tak salah arah. Bisa saja dimulai dari diajak mengobrol, diakui kemampuannya bukan malah masalah kriminalnya, dan diberi peran agar lebih bertanggung jawab. Ini dianggap penting untuk membantu menyelaraskan kemampuan dan etika mereka. Tapi untuk saat ini, tentu saja kita lihat perkembangan di pihak kepolisian yang sedang menangani kasus ini.

Nasib MAA hendaknya sama dengan Sultan Haikal, peretas beberapa situs online dan kepolisian yang ditangkap pada bulan Maret 2017 lalu. Dia ditangkap setelah ketahuan meretas situs tiket.com. Hal itupun juga terungkap karena transaksi Haikal dan teman-temanya yang telah merugikan tiket.com sebanyak Rp4,1 miliar dan Citilink rugi sekitar Rp2 miliar. Dia juga tercatat telah berhasil membobol lebih dari 4.600 situs. Mabes Polri tertarik pada kecerdasan Haikal di bidang IT. Korps Bhayangkara berencana merekrut Haikal untuk membantu penegakan hukum. Rencananya, perekrutan dilakukan setelah proses hukum terhadap pemimpin kelompok pembobol situs bernama Gantengers Crew itu rampung. 

Namun, tindakan yang dilakukan Sultan Haikal berbeda dengan tindakan yang dilakukan MAA. Sultan Haikal sudah merugikan beberapa pihak, salah satunya tiket.com dan Citilink. Berbeda dengan tindakan yang dilakukan MAA, dia justru mengingatkan dengan memberitahu celah keamanan dari website KPU. 

Karena Sultan Haikal telah melakukan pelanggaran hukum, maka penegakan harus dikedepankan. Polisi juga berencana merekrut hacker untuk dijadikan rekan polisi mengungkap kejahatan cyber nantinya. Ke depan, Polri juga akan mencari hacker remaja lainnya untuk direkrut sebagai mitra kepolisian dengan catatan proses hukum terhadap hacker tersebut dituntaskan terlebih dulu. Baru setelah itu, kepolisian bisa melakukan komunikasi untuk merekrut sebagai ahli dalam membantu penegakan hukum, tapi setelah dia menjalani hukuman. Karena merangkul orang seperti itu sangatlah penting dalam upaya untuk mencegah kerusakan-kerusakan dan kerugian.

(Penulis adalah jurnalis Metro Andalas dan mahasiswa tahun akhir di Politeknik Negeri Padang)


Tag:

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru