oleh

PENGABDIAN MASYARAKAT DOSEN SENDRATASIK FBS UNP

Melatih Sanggar Tari Menjadi Wirausaha Baru

PADANG (Metrans)

Permasalahan yang menjadi halangan berkembang dan majunya sejumlah sanggar kesenian terutama tari di Sumatera Barat selama ini dikarenakan mereka belum mempunyai tari yang bernilai komersial yang dapat menyokong perekonomian mereka.

Kebanyakan kegiatan yang ada selama ini hanya latihan pencak silat yang bertujuan untuk ketahanan fisik semata.


Akibatnya tentu saja banyak anggota sanggar atau kelompok kesenian tersebut yang hilang satu persatu dengan alasan kesibukan dan rutinitas mencari nafkah.

Seperti yang dialami oleh dua kelompok Sanggar Golden Sun terletak di Kanagarian Kubang Putieh Kecamatan Banuhampu dan Sanggar Seni Sarasah Batu Putiah Gunuang Singgalang terletak di Kanagarian Padang Laweh Kecamatan Sungai Pua, kedua sanggar tersebut terletak di wilayah kabupaten Agam.

Hampir enam puluh persen dari anggota sanggar sebanyak 35 orang mengundurkan diri karena bosan dengan pencak silat.

Anggota kedua sanggar tersebut kebanyakan  ingin menjadi penari professional yang mempunyai pendapatan sementara pelatih yang ada di kedua sanggar tersebut  tidak mempunyai kemampuan untuk mengajarkan tari kreasi seperti yang diinginkan anggota sanggar.

Berangkat dari kenyataan tersebut sejumlah dosen dari Jurusan Seni Drama Tari dan Musik (Sendratasik), Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Padang (UNP) mengadakan pengabdian kepada masyarakat sebagai wujud dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Tim yang melakukan pengabdian tersebut terdiri dari Dra. Nerosti, M. Hum., dan Harisnal Hadi, M. Pd.

Tim ini melakukan pengabdian yang  dilaksanakan dalam bentuk Program Kemitraan Masyarakat (PKM) dengan memberikan pelatihan kepada kedua sanggar tersebut.

“Solusi yang dilakukan dapat merubah SanggarGolden Sun dan Sanggar Seni Sarasah Batu Putiah Gunuang Singgalang untuk menjadi kelompok kesenian yang professional, menjadi wirausaha baru yang dapat menampilkan produksi tari tari kreasi yaitu tari Galombang yang mempunyai nilai artistik dengan tetap mempertahankan nilai budaya Minangkabau,” ujar Dra, Nerosti, M. Hum., selaku  Ketua Tim, Selasa (25/9).

Adapun materi dari pelatihan tersebut meliputi koreografi, komposisi musik, tata rias dan busana,  manajemen produksi dan pemasaran.

Pelatihan dilaksanakan dalam bentuk teori dan praktek.

Sedangkan rencana luaran yang ditargetkan adalah Produk Tari Penyambutan Tamu dalam bentuk CD dan  Pelestarian serta perbaikan tata nilai budaya lokal yang perlu dipertahankan dalam kehidupan sosial  sebagai upaya memperkenalkan warisan budaya kepada tourisme atau dunia luar.

Selain itu, Nerosti juga berharap dengan adanya tari kreasi baru di kedua sanggar tersebut  bisa menjadi wira usaha baru  sebagai sehingga dapat digunakan oleh masyarakat setempat dan parawisata dan dalam lingkung ekonomi kreatif.

“Kalau materi pelatihan ini mereka laksanakan dengan benar,  mudah-mudahan berguna bagi mereka selamanya dan membantu kehidupan mereka serta tidak ada lagi anggota sanggar yang berhenti di tengah jalan,” tambah Nerosti yang juga kandidat doktor di salah satu universitas di Malaysia ini. (nok)

 


Editor :  Novrizal Sadewa

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2018



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru