Mengenang Permainan Pemuda Minang Tempo Dulu, Kupi Batigo Gelar Turnamen 'Sipak Rago'

Foto: Buliza Rahmat

PADANG (Metrans)

Walau sudah lama ditinggalkan, pemuda Minangkabau Sumatera Barat (Sumbar) khususnya Kota Padang kembali bumingkan permainan "Sipak Rago" setelah sekian lama ditelan masa. Sipak Rago sendiri merupakan sebuah permainan anak nagari tempo dulunya.

Pada hakikatnya, permainan Sipak Rago sangatlah berkaitan erat dengan silat. Itu terlihat dari gerakan-gerakan yang diperagakan dalam permainan itu, artinya permainan tersebut tidaklah asing bagi pesilat yang harus dijaga kelestariannya oleh masyarakat minang.


Kemudian akhir-akhir ini, permainan Sipak Rago sudah mulai diperlombakan pada beberapa event. Salah satu event yang digelar di Kafe Kupi Batigo Kawasan Jalan KH Ahmad Dahlan depan Masjid Raya Sumbar dengan tema "Mambangkik Batang Tarandam".

"Tujuan even ini dilaksanakan supaya permainan ini bisa dikenal kembali oleh masyarakat minang dan bisa menjadi olahraga yang dimainkan oleh anak muda setiap sorenya, seperti halnya pemuda-pemuda minang dahulunya," ujar Pembina Sipak Rago, Yulviadi, Kamis (20/2).

Ditambahkannya, dalam menggelar event tersebut, pihaknya mendapat support dari Dinas Pariwisata Kota Padang dan Asosiasi Sipak Rago Kota Padang. Kemudian even akan dilaksanakan selama tiga hari ke depan, ditutup dengan pengumuman para pemenang.

"Event ini berakhir pada Jumat (21/2) dan langsung diumumkan pemenang sipak rago. Para pemenang nantinya akan mendapat penghargaan berupa tropi dan tabungan," sambungnya.

Sementara Ketua Sipak Rago, Yulianda Satria Rahman (40) mengaku akan berusaha mengangkat permainan khas Minangkabau tersebut menjadi salah satu cabang olahraga untuk Kota Padang khususnya. Karena permainan ini memiliki keunikan tersendiri dalam memainkannya.

"Selain unik, Sipak Rago kembali dihidupkan demi menjaga kelestariannya dan keahlian orang minang dulunya belajar bela diri silat pada masa penjajahan oleh Belanda. Sejarahnya, pada masa itu belajar silat dilakukan tidaklah secara terang-terangan," katanya.

Oleh karena itu, sambung Yulianda, karena tidak boleh terang-terangan, masyarakat minang ketika itu menyiasati dengan mengadakan Sipak Rago setiap sorenya, untuk menyamarkan latihan silat dan kesannya hanya kegiatan olahraga.

"Nah pada zaman milenial ini, Sipak Rago perlu dibumingkan kembali agar permainan ini bisa hidup dan berkembang di tengah kehidupan masayarakat minang itu sendiri. Salah satunya dengan digelar even yang kita laksanakan hari ini," tuturnya.

Untuk peserta lombanya, kata dia, diikuti oleh beberapa grup Sipak Rago yang ada di Kota Padang yang akan memperlihatkan kemahiran mereka masing-masing dalam permainan Sipak Rago ini.

"Sebanyak 30 group Sipak Rago yang akan berlaga pada even ini, dua group di antaranya berasal dari Padang Pariaman," pungkasnya.


Jangan Lewatkan