oleh

MARENTEN-3 BERSAMA FLIPPERS

Merekat Silaturahmi dengan Semangat Nostalgia

PADANG PANJANG (Metrans)

Kota Padang Panjang yang hanya terdiri dari dua kecamatan itu, bisa disebut sebagai kota nostalgia. Romantisme menjadi sebuah perekat untuk warga yang di kampung halaman dengan mereka yang ada di rantau.

“Jangan pandang enteng romantismenya orang Padang Panjang, itu bahkan merupakan sebuah pontensi menghadirkan partisipasi rantau kepada kampung halaman,” kata Ketua Dewan Penasehat Flippers Organziation –sebuah perkumpulan ‘anak muda’ lintasgenerasi di kota itu, Dedy Demona.


Ia menyebutkan hal itu ketika bicara di depan para peserta acara ‘Marenten-3 Flippers’ yang digelar di kawasan wisata Mega Mendung Lembah Anai hari Sabtu lalu (25/8)

Kegiatan ‘Marenten-3’ adalah kegiatan ketiga yang digelar Flippers untuk mempertemukan semua orang yang merasa bersahabat di masa lalu di kota itu.

Kata ‘marenten’ yang dipilih untuk nama kegiatan kalaupun dicari dalam kamus bahasa Indonesia tidak akan bertemu. Kata itu bisa disebut hanya ‘slank’ dari kata ‘malala’ dalam bahasa Minang. Tapi kalau malala bisa berkonotasi negatif, maka marenten sebaliknya. “Jadi kita pilih kata ‘marenten’ untuk kegiatan ini. Dimana warga Padang Panjang yang saling bersahabat pada masa lalu kemudian lama tak bersua, lalu kita pertemukan lagi. Menghangatkan lagi pertemanan,” kata Dedy.

Ketua Umum Fllippers, Nasrul Naga dalam sambutannya menyebutkan bahwa ‘Marenten’ ini akan dilaksanakan terus oleh Flippers. “Dua kegiatan ‘marenten’ dilaksanakan di Bogor dan Puncak, maka Marenten-3 dilaksanakan di kampung halaman. Insya Allah, Marenten-4 akan diselenggarakan di Bali yang waktunya akan ditentukan kemudian,” kata Nasrul Naga.

Marenten sesungguhnya hanya kegiatan kumpul-kumpul reuni orang-orang yang sudah lama saling terpisah, sudah lama tidak bertemu. Maka pada Marenten-3 Sabtu lalu itu, benar-benar sebuah pertemuan yang amat nostalgik dari berbabagai generasi. Bahkan ada warga Padang Panjang yang datang dari Australia hanya untuk ‘Marenten-3’ ini. “Kita tidak sekedar bernostalgia, tetapi juga mendiskusikan apa-apa yang akan dilaksanakan bagi kebaikan Padang Panjang dan Batipuh Sepuluh Koto. Hal-hal besar yang kita buat banyak lahir dari pertemuan seperti ini. Dulu kita bertemu seperti ini juga namun belum diberi nama ‘Marenten’ maka mulai tahun lalu kita beri nama ‘Marenten’ dan akan kita jadikan kalender tetap untuk membuat perantau Pabasko (Padang Panjang Batipuh dan Sepuluh Koto-red) dapat pulang kampung bersama-sama dan memberi kontribusi positif bagi pembangunan kampung halaman.

Kata Dedy Demona yang mantan Ketua Umum Flippers, bernostalgia adalah indah. Dan itu disukai rata-rata warga Padang Panjang sekitarnya. “Lihatlah, hampir tiap waktu ada reuni. Di kota lain mungkin ada juga, yakni reuni sekolah. Tapi di Padang Panjang sudah makin detail, sampai reuni angkatan, reuni jurusan, reuni lintasangkatan,” ujar Dedy.

Apa yang disebut Dedy memang kenyataannya seperti itu. Perkumpulan warga perantau Padang Panjang sekitarnya tidak saja berhimpun dalam alumni sekolah, bahkan ada banyak komunitas. Ada yang bernama Alumni Konco Lamo, Alumni Konco Arek, Alumni Mandariang, Alumni FBC, Alumni Bahana. Belum lagi perkumpulan aktif organisasi rantau kewilayahan. Sepanjang tahun ada saja yang bereuni di Padang Panjang.

“Kota ini benar-benar menjadi kota nostalgia. Orang yang pulang kampung dan berniat hanya dua tiga hari saja di kampung setelah itu kembali ke rantau, eh ternyata akhirnya karena keenakan bertemu kawan-kawan lama akhirnya tinggal di kampung halaman sampai seminggu,” kata Dedy.

Sesepuh Flippers, H. Faisal Djamal menyebutkan bahwa kultur Pabasko yang suka bernostalgia ini bukan buruk, melainkan sebuah potensi besar untuk menghimpun partisipasi perantau bagi pembangunan kampung halaman. “Saya selaku Ketua Ikabasko (Ikatan Keluarga Padang Panjang Batipuh Sepuluh Koto) pesan kepada Walikota Padang Panjang untuk memanfaatkan sebesar-besarnya kultur suka bernostalgia ini sebagai medium menghangatkan hubungan rantau dan ranah dan mengajak peran serta perantau terlibat dalam setiap pembangunan di kampung halaman,” kata mantan Sekjen DPR RI itu.

Kata berjawab dan gayung pun bersambut. Fadly Amran, Walikota Padang Panjang terpilih yang hadir pada acara ‘Marenten-3’ itu menyambut baik harapan semua pihak perihal pemanfaatan potensi perantau sebagai salah satu pilar pembangunan kampung halaman. “Insya Allah, saya akan sertakan dunsanak-dunsanak di perntauan untuk ikut bersama-sama membangun kampung halaman ini. Acara seperti ‘marenten’ ini akan menjadi salah satu ciri kota ini. Karena jauh datang dari rantau untuk mudik ke Padang Panjang maka itu sama saja dengan meningkatan angka kunjungan wisata domestik bagi Padang Panjang. Kita memiliki pengunjung tetap pariwisata kita yakni para perantau yang suka berkumpul dengan para sahabatnya dalam bentuk reuni-reunian ini,” kata Fadly Amran.

Acara Marenten-3 ini juga diikuti komunitas perantau Pabasko di Padang yang tergabung dalam MP3S (Masyarakat Peduli Padang Panjang dan Sekitarnya). Tak kurang dari 40 peserta dari Padang ikut meramaikan acara Marenten yang sarat dengan hiburan dan diskusi ini.(eko)


COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru