PASCA OTT TIM SABER PUNGLI

Oknum Kepala SMAN 1 Guguk Berpeluang Jadi Tersangka

PAYAKUMBUH  (Metrans)

Pasca Operasi Tangkap Tangan (OTT) Tim Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli) di SMA Negeri 1 Guguk, Kecamatan Guguk, kabupaten Limapuluh Kota, Jum’at (16/6), sudah empat orang saksi yang diperiksa tim penyidik Tipikor Polres setempat.

“Sejauh ini, penyidik unit Tipikor Satreskirim Polres Limapuluh Kota, sudah memeriksa empat orang saksi terkait dugaan pungutan liar di SMA negeri 1 Guguk tersebut,” ungkap Kapolres Limapuluh Kota AKBP Haris Hadis melalui Kasatreskrim AKP Chairul Amri dan Kanit Tipikor Ipda Nasir.


Dikatakan Kasatreskrim AKP Chairul Amri, keempat nama yang sudah diperiksa tersebut berkaitan dengan penerimaan peserta didik baru 2017 di sekolah tersebut.

“Saat OTT, kita tangkap dua orang berinisial FSY dan MY. Kedua perempuan itu ditunjuk sebagai panitia Penerimaan Peserta Didik Baru di sekolah tersebut,” ungkap Kasatreskrim AKP Chairul Amri didampingi Kanit Tipikor Ipda Nasir.

(Baca juga: Polres Limapuluh Kota OTT Dua Pegawai SMA)

Selain memeriksa FSY dan MY, penyidik Tipikor Satreskrim Polres Limapuluh Kota juga telah memanggil Kepala SMAN 1 Guguak dan Kepala Tata Usaha (TU) sekolah tersebut.

“Rencana penyidik, pemeriksaan akan dilanjutkan kepada koordinator pengawas SMA yang kini menjadi bahagian dari Pemprov Sumatera Barat setelah peralihan dari Kabupaten/Kota. Kita juga akan meminta keterangan pihak pengawas dari Dinas terkait di Pemprov,” ujar Kasatreskrim AKP Chairul Amri dan Kanit Ipda Nasir.

Dari hasil pemeriksaan sementara yang dilakukan penyidik unit Tipikor Satreskrim, ulas Kasatreskrim AKP Chairul Amri, sudah 200 orang calon siswa baru yang berhasil dipungut uang pembelian seragam sekolahnya. Masing-masing calon siswa dikenakan Rp900 ribu.

“ Meskipun penyidik unit Tipikor Satreskrim Polres Limapuluh Kota belum menetapkan satupun tersangka dalam kasus OTT Saber Paungli itu, namun pihak penyidik akan terus mendalami kasus pungutan liar yang sudah dilarang pihak pemerintah,” ujar Kasatreskrim AKP Chairul Amri.

Sementara itu seorang pratisi hukum asal Payakumbuh, Zul Efrimen,SH, dalam diskusi terbatas di Balai Wartawan Luak Limopuluah, Minggu (17/6) terkait OTT Tim Saber Pungli di SMA Negeri 1 Guguk mengakui bahwa, oknum kepala sekolah berpeluang untuk ditetapkan sebagai tersangka.

“Sebagai Kepala Sekolah, dia sangat berperan dalam praktik pungutan liar tersebut. Sebagai konsekwensi hukum, oknum kepala sekolah tersebut harus bertanggungjawab dan layak status hukumnya dari saksi ditingkatkan menjadi tersangka,” ujar Zul Efrimen,SH, berpendapat.

Diungkapkan Zul Efrimen, SH, sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 17 tahun 2010 pada Pasal 181 dengan tegas dinyatakan bahwa, pendidik dan tenaga kependidikan, baik perseorangan maupun kolektif, dilarang menjual buku pelajaran, bahan ajar, perlengkapan bahan ajar, pakaian seragam, atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan.

“Sedangkan pada Pasal 198 juga ditegaskan bahwa, Dewan Pendidikan dan/atau komite sekolah/madrasah, baik perseorangan maupun kolektif,  dilarang menjual buku pelajaran, bahan ajar, perlengkapan bahan ajar, pakaian seragam, atau bahan pakaian seragam di satuan pendidikan. Kemudian memungut biaya bimbingan belajar atau les dari peserta didik atau orang tua/walinya di satuan pendidikan,“ pungkasnya.


Jangan Lewatkan