Pelanggan Menjerit Lihat Tagihan Listrik Melejit, Berikut Penjelasan PLN

Ilustrasi. (dok PLN)

PADANG (Metrans)

Di tengah krisis akibat wabah virus corona atau Covid-19, tagihan listrik PLN banyak dikeluhkan pelanggan karena melonjak drastis. Bahkan, lonjakannya ada yang nyaris mencapai 100 persen untuk tagihan pemakaian listrik bulan Mei 2020.

Masyarakat memperkirakan ada kenaikan tarif listrik secara diam-diam atau ada subsidi silang. Salah satu keluhan membengkaknya tagihan listrik itu, dialami oleh John Nedy Kambang, seorang pelanggan pascabayar PLN golongan rumah tangga R1/2.200 VA.


"Tagihan listrik saya sudah tiga bulan terakhir di atas kewajaran. Saya kira bulan ini sudah mulai normal lagi, ternyata masih parah juga. Biasanya Rp400 ribuan, sekarang di atas Rp600 ribuan," kata dia sembari memperlihatkan dokumen tagihan tiga bulan terakhir itu, seperti dilansir dari khazminang.id, Minggu (7/6).

John juga juga turut mempertanyakan pertanggung jawaban PLN dalam hal ketidak wajaran tagihan listrik setiap bulan ini akibat menggunakan rata-rata tiga bulan sebagai dasar perhitungan rekening listrik yang berimplikasi pada penyesuaian tagihan rekening listrik tersebut.

"Bagaimana caranya PLN mempertanggung jawabkan tagihan yang main tembak ini? Adakah kompensasinya bulan-bulan berikut? Sekarang saya harap-harap cemas, apakah tagihan bulan Juni masih membengkak. Bagaimana PLN bisa menebak saya memakai sebanyak itu, sementara petugasnya tak pernah datang membaca meteran," tambah dia lagi.

Di sisi lain, John juga memiliki catatan meteran listrik yang dia catat secara berkala. Berdasarkan catatannya, dalam 11 hari, dia hanya menggunakan 113 kilowatt hours (kWh). Jika dikalkulasikan rata-rata, sampai 30 hari ke depan, dia bisa menghabiskan sekitar 270 sampai 300 kWh dengan pertimbangan malam hari lebih banyak konsumsi listriknya.

"Kalau 300 kWh, apakah angka yang harus saya bayar bisa Rp600-an ribu kah? Kalau tidak salah, harga per kWh masih Rp1.467. Atau sudah naik? Saya tidak tau. Saya juga sudah melakukan pelaporan atau baca meter mandiri ke WhatsApp resmi PLN," lanjut dia.

Dalam rentang 23 hari itu (4 Mei - 27 Mei), kata dia, penggunaan listrik di rumahnya hanya 279 kWh. Jika dikalkulasikan dengan harga Rp1.457 per kWh, dia mestinya hanya membayar sekitar Rp400 ribu.

"Nah, logikanya, kalaupun ada 9 hari lagi waktu saya menggunakan listrik dan dihitung saya memghabiskan 100 kWh lagi, jadi total 379 kWh. Tagihan saya mestinya belum menyentuh angka Rp500 ribuan, masih di kisaran Rp500 ribuan," bebernya.

Menanggapi hal itu, Manager Komunikasi PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) Sumatera Barat (Sumbar), Afriman ketika dikonfirmasi berdalih, salah satu penyebab kenaikan tagihan para pelanggan seperti yang dialami John tersebut disebabkan karena adanya kenaikan pemakaian listrik yang mungkin saja kurang menyadari adanya perubahan pola pemakaian listrik.

"Kenaikan tagihan tersebut disebabkan adanya kenaikan pemakaian yang mungkin saja kita sebagai pengguna listrik kurang menyadari adanya perubahan pola pemakaian listrik akibat dampak di rumah aja atau WFH. Berdasarkan data pemakaian 6 bulan terakhir bahwa pelanggan dengan ID 13102043xxxx (John Nedy Kambang) dilakukan pembacaan meteran langsung ke rumah," cetus Afriman sembari memperlihatkan foto meteran listrik di rumah John Nedy yang difoto langsung oleh petugas PLN.

Afriman memastikan tarif dasar listrik seluruh golongan tarif tak mengalami kenaikan, harga masih tetap sama dengan periode tiga bulan sebelumnya. Bahkan sejak tahun 2017 tarif listrik ini tidak pernah mengalami kenaikan.

"Tarif listrik tidak mengalami kenaikan sejak tahun 2017. Untuk rumah tangga R1/2.200 VA per kWh masih Rp1.467,28. Stimulus Covid-19 berupa gratis tagihan listrik hanya untuk pelanggan rumah tangga 450VA dan diskon 50 persen bagi pelanggan rumah tanggah 900VA subsidi," tambah dia.

Lebih lanjut kata dia, jika memang tagihan listrik para pelanggan PLN tidak sesuai dengan pemakaian dengan kWh yang ditagih, pihaknya juga mempersilakan untuk mengajukan keberatan, dan akan langsung diproses sebagaimana mestinya.

"Ya jika memang tagihan tidak sesuai pemakaian dengan kWh yang ditagih, kami persilakan untuk mengajukan keberatan dan kami akan layani dan perbaiki sebagaimana mestinya," kata dia.

Afriman juga menjelaskan, pemakaian kWh di rekening listrik setiap pelanggan pascabayar didapat dari perhitungan stand meter yang dibaca saat petugas mendatangi rumah pelanggan, dikurangi hasil pembacaan stand meter pada periode bulan lalu (stand meter baca saat ini dikurangi stand meter baca periode sebelumnya).

"Kemudian pemakaian kWh bukan dari hari bulan berjalan, tapi adalah periode tanggal baca bulan sebelumnya sampai dengan tanggal baca bulan berikutnya. Dari foto di atas dapat dilihat bahwa jadwal baca meter di rumah Pak John adalah rentang tanggal 23-26 setiap bulan. Jika petugas membaca meter ke rumah pelanggan, maka data koordinat lokasi pelanggan tersimpan otomatis by system," beber dia.

Dia pun mengakui, untuk pembacaan stand meter para pelanggan sejak berlakunya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), tidak semua pelanggan yang dibaca oleh petugas di lapangan. Beberapa petugas ada yang membaca stand meter pada hari baca tertentu.

"Rumah Pak John dan sekitarnya adalah contoh salah satu yang tetap dibaca oleh petugas. Hal itu dibuktikan dengan adanya titik koordinat yang tersimpan by system dan foto kWh meter pada sistem kami," kata Afriman.

Terkait kalkulasi pembayaran tagihan listrik setiap bulannya, kata Afriman, ada beberapa item lain yang harus dibayarkan pelanggan setiap bulannya. Salah satunya, biaya PPJ (Pajak Penerangan Jalan) dari biaya pemakaian sesuai peraturan masing-masing Pemerintah Daerah.

"Tagihan sebesar Rp621.165 yang dibayar Pak John sudah benar. Kalkulasinya begini, pemakaian listrik pada periode itu adalah 383 kWh. Artinya, 383 dikalikan Rp1.467,28 adalah Rp561.968. Kemudian ditambah dengan PPJ 10 persen, yakni sebesar Rp56.196 dan ditambah biaya materai Rp3.000. Jadi totalnya pas Rp621.165," kata dia menjelaskan.

Untuk mendapatkan informasi terkait layanan PLN, kata Afriman, pelanggan dapat menghubungi contact center dengan menhubungi 123, website PLN atau dapat juga diakses melalui aplikasi PLN Mobile.

Tarif Dasar Listrik PLN

Jika memang PLN mengklaim bahwa pihaknya tidak pernah menaikkan tarif listrik sejak tahun 2017, artinya tarif dasar listrik pada periode saat ini untuk golongan R1-450 VA masih digratiskan sampai Juni 2020. Kemudian R-1 900VA bersubsidi  mendapatkan diskon 50 persen setiap bulan hingga Juni nanti.

Sementara untuk golongan R-1 900 VA RTM atau non subsidi sebesar Rp 1.352 per kWh. Lalu untuk pelanggan R-1 1.300 VA ke atas dikenakan biaya Rp 1.467 per kWh yang sebenarnya tak mengalami perubahan sejak tahun 2017.

PLN Sempat Tangguhkan Pencatatan Stand Meter

Sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19, PLN sempat menangguhkan sementara proses pencatatan dan pemeriksaan stand meter bagi pelanggan pascabayar. Sebagai gantinya, untuk mulai rekening bulan Mei 2020, PLN menyiapkan layanan melalui WhatsApp terpusat bagi pelanggan yang ingin melaporkan angka stan dan foto kWh meter.

Namun pada 19 Mei 2020 yang lalu, PLN memastikan akan melakukan pencatatan meter secara langsung ke rumah pelanggan pascabayar untuk tagihan rekening bulan Juni 2020. Pembacaan meter dilakukan dengan tetap memperhatikan pedoman pencegahan pengendalian Covid-19 Kementerian Kesehatan RI untuk antisipasi penyebaran Covid-19 yaitu dengan menggunakan standar APD (Alat Pelindung Diri).

"Akhir bulan Mei ini petugas kami akan kembali mencatat ke rumah pelanggan untuk rekening bulan Juni. Hal ini dilakukan untuk memastikan kesesuaian tagihan rekening listrik dengan penggunaan listrik oleh pelanggan," ungkap Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PT PLN (Persero), Bob Saril melalui keterangan tertulis yang diterima Khazanah, Selasa (19/5) lalu.

Ia mengatakan, PLN juga menyiapkan layanan lapor stand meter mandiri (baca meter mandiri) melalui aplikasi WhatsApp Messenger (WA) PLN 123 dengan nomor 08122123123, pelaporan mandiri pelanggan bisa dilakukan pada tanggal 24-27 setiap bulannya. Pelaporan mandiri pelanggan yang valid akan dijadikan prioritas utama dasar perhitungan rekening listrik.

"Jadi kalau pelanggan mengirimkan angka stand kWh meter dan kami nyatakan valid, kami akan menggunakan laporan tersebut sebagai dasar perhitungan rekening. Meskipun petugas catat meter mengunjungi rumah pelanggan," tutur Bob.

Pilihan terakhir, jika pelanggan tidak mengirimkan laporan mandiri melalui WhatsApp dan lokasi rumah pelanggan tidak bisa didatangi oleh petugas, maka PLN akan menggunakan rata-rata 3 bulan sebagai dasar perhitungan rekening listrik. Implikasinya akan ada penyesuaian tagihan rekening listrik ketika nanti petugas PLN melakukan pencatatan meter ke rumah pelanggan.

"Meskipun demikian, ada wilayah yang ditutup karena protokol Covid-19, tentu kami tidak bisa melakukan pencatatan. Jika demikian kami akan menggunakan rata-rata 3 bulan sebagai dasar tagihan rekening listrik," pungkasnya. 

Ia mengatakan, perhitungan pemakaian energi listrik bulan Maret dan April dihitung berdasarkan rata-rata perhitungan tagihan 3 bulan terakhir. Hal tersebut terpaksa dilakukan mengingat pencegahan penularan penyakit COVID 19 oleh petugas di lapangan. Selanjutnya mulai bulan Mei petugas catat meter PLN kembali mengunjungi pelanggan PLN untuk melakukan pencatatan angka stand meter.

Yang dimaksud dengan metode perhitungan rata rata adalah perhitungan tagihan listrik bulan April adalah berdasarkan rata rata pemakaian 3 bulan sebelumnya (Desember 2019 dan Januari , Februari 2020), tentu tidak akan sama dengan pemakaian sebenarnya yang bisa lebih besar atau lebih kecil.
Dan hal ini berlanjut sampai dengan tagihan listrik bulan Mei. 

Bagaimana dengan tagihan listrik bulan Juni? PLN kembali melaksanakan pencatatan angka meter oleh petugas ke rumah pelanggan sehingga energi yang tercatat adalah sesuai dengan penggunaan pelanggan. Akibat pemakaian yang meningkat namun ditagih berdasarkan rata-rata bulan sebelumnya maka dampaknya adalah ada selisih yang tidak tertagih yang akan dihitung pada tagihan berikutnya.

PLN Keluarkan Skema untuk Hindari Lonjakan Tagihan

PLN merilis skema penghitungan tagihan untuk melindungi pelanggan Rumah Tangga yang tagihan listriknya melonjak pada bulan Juni. Dengan skema tersebut, pelanggan yang mengalami tagihan pada bulan Juni melonjak lebih dari 20 persen daripada bulan Mei akibat penagihan menggunakan rata-rata tiga bulan terakhir, maka kenaikannya akan dibayar sebesar 40 persen, dan sisanya dibagi rata dalam tagihan 3 bulan ke berikutnya. 

"Diharapkan, skema tersebut dapat mengurangi keterkejutan sebagian pelanggan yang tagihannya meningkat tajam. Dengan skema perlindungan terhadap lonjakan tersebut, PLN harus melakukan pemeriksaan data setiap pelanggan satu per satu, untuk memastikan supaya kebijakan tersebut tepat sasaran pada pelanggan yang mengalami lonjakan tidak normal," tambah Afriman.

Lebih lanjut dijelaskan, oleh karena itu, tagihan pelanggan yang biasanya sudah bisa dilihat pada tanggal 2 atau 3 pada tiap awal bulan, baru bisa diterbitkan dan bisa diakses pada tanggal 6 Juni. Selain itu, PLN juga masih terus melakukan pengecekan ulang terhadap pelaksanaan pemberian subsidi pembebasan tagihan listrik.

"Kita terus lakukan pengecekan ulang pelaksanaan pemberian subsidi untuk pelanggan golongan rumah tangga, bisnis kecil, dan industri kecil berdaya 450 VA dan diskon 50 persen bagi pelanggan rumah tangga 900VA bersubsidi. Pengecekan tersebut dilakukan dari bulan ke bulan, untuk memastikan bahwa stimulus kelistrikan yang diberikan oleh pemerintah tersebut benar-benar tepat sasaran," pungkasnya.


Jangan Lewatkan