13 Okt 2017 | 06:46:28 WIB
Pewarta : Wahyu Amuk



Pemkab Mentawai Serius Kembangkan Pariwisata

Pemkab Mentawai Serius Kembangkan Pariwisata

upati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet sedangkan menjelaskan konsep pariwisata di Axana Hotel Padang, Kamis (12/10).


PADANG (Metrans)

Sumatera Barat memang patut sebagai tujuan wisatawan, baik lokal, nasional, bahkan manca negara. Selain beraneka ragam kuliner, dan budayanya, Sumbar juga sangat dikenal oleh keindahan alamnya.

Salah satu keindahan alam yang menakjubkan terdapat di kabupaten Kepulauan Mentawai. Bukan hanya dikenal dengan budaya kearifan lokalnya yang tetap terjaga, atau ombak lautnya yang eksotis, tetapi juga berbagai keindahan alamnya yang memesona.


Dengan banyaknya kekayaan alam yang dimiliki Kepulauan Mentawai, pemerintah daerah setempat mulai serius mengembangkan pembangunan masyarakatnya melalui pariwisata. Pengembangan pariwisata ini diyakini sebagai salah satu alternatif bagi Pemda untuk menunjang ekonomi masyarakat ke depan.

"Mentawai ini sangat kaya alamnya, banyak sektor pariwisata yang bisa digarap, selama ini yang dikenal orang hanya surfing saja. Padahal, banyak objek wisata lain yang belum terekspos," sebut Bupati Kepulauan Mentawai, Yudas Sabaggalet, SE.,MM., saat Workshop Pengelolaan dan Perlindungan Kawasan Air Terjun Simatobat (Bungo Rayo) Mentawai, di Axana Hotel, Kamis (12/10).

Pada kesempatan itu, Yudas menyampaikan bahwa Pemerintah Sumbar harus berbenah, dan memiliki visi yang lebih besar untuk pembangunan kawasan Mentawai masa depan. Salah satu jalan membangun Mentawai yakni dengan mengoptimalkan objek yang ada di kepulauan itu.

Mengembangkan potensi pariwisata di kabupaten kepulauan ini salah satu langkah yang ditempuh yakni membuka akses jalan. Namun katanya, pengelolaan dan pengembangan pariwisata tidak lepas dari pertimbangan aspek ekonomi, ekologi, dan sosial.

"Kita tidak boleh hanya memikirkan aspek ekonomi, tetapi menghilangkan aspek sosial dilupakan masyarakat akan jadi penonton, kalau aspek dilupakan lambat laun masyarakat Mentawai akan tersingkirkan," sebutnya.

Salah satu objek wisata Mentawai yang potensial saat ini menurut Yudas, yakni Air Terjun Simatobat di Bungo Rayo di Pagai Selatan.

Demi menunjang pariwisata air terjun ini, pihaknya telah membangun jalan dari Polaga Pagai Selatan sampai ke daerah Simatobat.

Jalan ini dibangun dengan lebar 3 - 4 meter, dan akan dicor untuk memudahkan akses jalan menuju objek wisata kebanggaan masyarakat Bungo Rayo tersebut.

Hanya saja kendala saat ini, katanya masih ada syarat-syarat yang dipenuhi sesuai peraturan dari dinas provinsi dan pusat.

Terkait jalan dari kawasan pemukiman masyarakat hingga ke objek wisata tersebut, pihaknya akan membangunnya melalui P2D di kecamatan atau desa. Namun yang terpenting saat ini, menurutnya harus ada akses yang bisa menjangkau kemudahan bagi wisatawan.

"Kita sudah siapkan semennya untuk mengecor jalan, meskipun belum ada kesepakatan dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP). Namun kita tetap berjuang untuk memenuhi secepatnya syarat-syarat yang dari provinsi atau pusat," ujar Yudas.

Selain Air Terjun Bungo Rayo lima tingkat ini, di kawasan Mentawai ini juga terdapat potensi wisata lain, yakni Goa, burung walet, serta ikan Sidat.

Ia menyebutkan, potensi ikan Sidat ini bisa menunjang ekonomi masyarakat, sebab harganya sangat tinggi, terutama oleh masyarakat Jepang.

"Ikan Sidat ini selain di Jawa, hanya ada di Mentawai, ini sangat berpotensi untuk ekonomi masyarakat nanti, termasuk pengembangan sarang burung walet," ungkapnya.

Sebelum mengakhiri pemaparannya, Yudas menegaskan bahwa pemerintah dan seluruh elemen masyarakat harus membangun paradigma baru. Salah satunya, dana CSR yang ada harus tepat sasaran. Berpijak selama ini, bahwa dana CSR kurang tepat guna, tetapi ketika bermasalah dibebankan pada pemerintah daerah.

Tentu hal ini Yudas juga sangat menyayangkan, bahwa sejak tahun 1971 Mentawai hanya dikembangkan dari perusahaan kayu saja. Dampaknya, sampai saat ini masyarakat Mentawai mayoritas masih di bawah kemiskinan. Kemudian dengan adanya eksploitasi hutan untuk kayu itu, masyarkat Mentawai semakin sering diserang banjir.

"Arah pembangunan kita harus dialihkan, jangan dari kayu terus. Sudah saatnya kita bangun wisata yang memadai, dengan melibatkan masyarakat, tanpa merusak ekosistem hutan. Melalui wisata ini, secara perlahan ekonomi masyarakat bisa bangkit, bila semakin banyak wisatawan yang datang," tambahnya.

Kemudian Plt. Kepala UPTD KPHP Kepulauan Mentawai Dinas Kehutanan Provinsi Sumbar, Tasliatul Fuaddi, S.Hut., menambahkan Air Terjun Simatobat (Bungo Rayo), merupakan Areal Bernilai Konservasi Tinggi (ABKT). Objek wisata ini berjarak 4 kilometer dari pemukiman penduduk Dusun Kinumbuk, atau 1 kilometer dari jalan poros utama HPH. PT Minas Pagai Lumber.

Menurut pemaparannya, Air Terjun Bungo Rayo ini terdapat lima tingkat yang tersusun indah, yang berjarak 50-75 meter, dengan rata-rata 1-3 meter. Lebar sungai ini sekitar 10-12 meter.

Di kawasan air terjun ini banyak ditemukan jejak rusa, adanya suara primate endemik Mentawai (Bilou dan Bokoi), dan adanya burung udang, burung wallet, serta di masih banyak ikan Sidat, ikan gabus, dan udang, serta berbagai jenis tumbuhan, seperti Meranti, Mencimin, Medang dan lainnya.

Berdasarkan penjelasan itu, ABKT ini merupakan hamparan yang memiliki nilai penting bagi konservasi keanekaragaman hayati, yang akan menghasilkan jasa lingkungan (ekosistem) bagi masyarakat lokal. Maka sangat disarankannya, agar kawasan air terjun dan sarang burung walet sebagai hutan konservasi tinggi (HCVF) yang dikelola sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kita dengan Pemda Mentawai akan mengkaji lebih lanjut tentang pengelolaan kawasan ini, baik pengembangan pembangkit listrik, sumber air bersih (PAM), sekaligus pengembangan jasa lingkungan wisata, dan pengembangan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Sementara Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumbar, Ir. Hendri Octavia, M.Si., juga menyebutkan bahwa kawasan konservasi ini harus dikelola dengan pelestarian yang memerhatikan kearifan lokal masyarakat Mentawai. Potensi wisata yang dimiliki Mentawai harus dikelola secara optimal.

Ia mendorong adanya peran masyarakat, kelembagaan masyarakat, dan semua stake holder terkait. Kerjasama semua elemen masyarakat ini untuk meningkatkan kemajuan ekonomi, tanpa menghilangkan aspek sosial, dan ekologi di kawasan objek wisata.

“Kita harus mengkajinya lebih mendalam, sebab perlu kolaborasi dalam mengelola objek wisata ini, untuk menunjang pembangunan di Mentawai,” ungkapnya. (why)

 

Editor :  Raihan Al Karim

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2017





Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook