EMZALMI-DESRI SUDAH BERAKSI

Pilwako Padang, Mahyeldi Dinilai Masih "Bingung" Menentukan Siapa Wakilnya

Asrinaldi

PADANG (Metrans
Perkembangan politik lokal di Kota Padang makin menarik jelang Pilkada Kota Padang 2018. Sejumlah calon sudah mulai melakukan manuver politik untuk mencari dukungan. Namun, kondisi berbeda dialami petahana Mahyeldi Ansharullah. Walikota Padang itu bersama partainya PKS masih bingung menentukan wakilnya.

"Situasi politik jelang Pilkada Kota Padang 2018 semakin memanas. Satu pasang calon sudah mulai melakukan manuver, Emzalmi-Desri Ayunda. Sementara calon lawannya, petahana Mahyeldi Ansharullah masih 'bingung' menentukan pilihan pasangannya " kata pengamat politik Universitas Andalas (Unand) Padang, Dr. Asrinaldi, M.Si kepada Metrans, Senin (16/10) di Padang.

Menurut Ketua Jurusan Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Unand itu posisi petahana Mahyeldi sedang berada di atas angin. Sejumlah lembaga survei mengunggulkan Mahyeldi berada di posisi teratas, ditambah dengan posisinya sebagai petahana. Dengan kondisi itu, Mahyeldi banyak diincar calon lainnya untuk menjadi wakil.


"Sejumlah calon yang muncul berusaha untuk mendekatkan diri kepada Mahyeldi dengan harapan bisa menjadi wakilnya. Hal itu jelas membuat Mahyeldi dan PKS bingung mau memilih yang mana," katanya.

Selain itu, Mahyeldi dan PKS memiliki kegalauan untuk menjaga trah PKS di Kota Padang dan Sumbar. PKS mesti harus berhati-hati memilih wakil Mahyeldi supaya hegemoni PKS di Padang tetap terjaga. Maklum, saat ini Mahyeldi adalah kader terkuat PKS yang dimunculkan dan bahkan bisa diproyeksikan ke Pilgub Sumbar 2020 mendatang.

"Inilah yang bisa membuat PKS galau. PKS harus hati-hati memiliki wakil Mahyeldi di Pilkada Padang 2018. Sebab ada peluang Mahyeldi diproyeksikan ke Pilgub Sumbar 2020 mendatang. Nah, jika pasangan Mahyeldi menang maka otomatis wakil Mahyeldi bisa menjadi walikota jika Mahyeldi turun di Pilgub Sumbar 2020," kata Asrinaldi.

Menurut Asrinaldi, PKS tidak bisa mengusung calon sendiri karena kursi PKS tidak cukup. PKS harus berkoalisi sehingga hal ini semakin menyebabkan PKS bingung harus memilih siapa. PKS sepertinya akan memilih wakil yang 'dekat' dengan PKS supaya hegemoni PKS bisa terjaga.

"Calon yang muncul sekarang banyak dari partai. Tentu membuat PKS dan Mahyeldi harus berpikir ulang. Nah, mereka tentu akan mencari wakil di luar orang partai untuk menjaga hegemoni PKS. Pertanyaannya siapa orangnya? Kemudian ditambah syarat harus bisa mendapatkan perahu partai lain untuk koalisi. Ini persyaratan yang berat," kata Asrinaldi.

Pilihan yang pas, menurut Asrinaldi adalah mencari wakil yang memiliki kedekatan dengan PKS sehingga hegemoni PKS tetap terjaga. Hal ini membuka peluang bagi calon-calon 'baru' yang belum muncul. Kemudian syarat mendapatkan perahu partai lain juga sudah didapatkan oleh calon tersebut.

"Saya prediksi PKS akan berkomunikasi dengan partai politik lain dengan deal-deal tertentu. Siapa wakil Mahyeldi tentu akan terikat dengan deal-deal itu," tegasnya.

Menurutnya, langkah yang tepat adalah menempatkan orang profesional di posisi wakil. Mengingat, Mahyeldi selama ini lebih dikenal sebagai politisi tulen. Dia memulai karirnya dari PKS, tidak pernah pada profesional apalagi birokrat. Dengan itu, Mahyeldi membutuhkan pasangan yang mengimbangi dirinya sebagai orang politik.

Selama ini, Mahyeldi memang dikenal orang politik. Memulai dari Anggota DPRD Padang, kemudian Wakil Ketua DPRD Porvinsi Sumbar. Kemudian dilanjutkan mendapingi Fauzi Bahar  menjadi Wakil Walikota.  Kemudian Mahyeldi berpasangan dengan Emzalmi untuk mendapatkan posisi Walikota Padang, belakangan pasangan ini tidak sejalan lagi. (pep)


Jangan Lewatkan