Polisi Ungkap Praktik Prostitusi Online di Padang, Dua Muncikari dan Korban Masih di Bawah Umur

Kapolresta Padang, Kombes Pol Yulmar Try Himawan didampingi Kasat Reskrim, AKP Edriyan Wiguna saat memberikan keterangan pers di hadapan para tersangka.

PADANG (Metrans)

Jajaran Polresta Padang mengungkap praktik prostitusi online di Kota Padang. Tiga orang tersangka yang berposisi sebagai muncikari adalah FE (33 tahun), AS (16), dan AP (16). Ketiga tersangka diringkus saat berada di sebuah kafe di kawasan GOR H. Agus Salim Padang, Rabu (15/1). Dua dari tiga pelaku muncikari tersebut merupakan anak di bawah umur yang putus sekolah.

Kapolresta Padang, Kombes Pol Yulmar Try Himawan didampingi Kasat Reskrim, AKP Edriyan Wiguna mengatakan, pihaknya akan terus mendalami peristiwa yang menggegerkan itu. Sejauh ini, sebanyak dua wanita di bawah umur telah menjadi korban dari aktivitas hitam para tersangka.


"Dua anak di bawah umur yakni AY (15) dan YM (15) yang masih berstatus pelajar telah menjadi korban para tersangka. Dari pemeriksaan polisi terungkap bahwa modus yang dilakukan tersangka adalah dengan memasukkan foto korban ke sebuah aplikasi chatting berbasis online," ungkap Yulmar saat menggelar jumpa pers," Kamis (16/1).

Ia mengatakan, terungkapnya kasus ekploitasi anak di bawah umur ini berawal dari laporan salah seorang kakak korban yang merupakan warga asal Pesisir Selatan yang melaporkan bahwa adiknya yang sudah tidak berada di rumah sejak tanggal 1 hingga 15 Januari 2020.

"Ketiga tersangka merupakan warga Padang yang ditangkap di kawasan Gor H Agussalim Padang saat mereka tengah duduk di sebuah kafe, dan saat ditangkap tidak melakukan perlawanan," bebernya.

Kemudian berdasarkan laporan kakaknya tersebut, sambung Yulmar, ia mencurigai adik beserta teman adiknya berada di Kota Padang, sehingga dilakukanlah penyelidikan dan pencarian terhadap keduanya dan diketahui keduanya tengah beristirahat di salah satu Hotel yang ada di Kota Padang.

"Setelah kedua anak ditemukan, terungkaplah bahwa keduanya merupakan korban eksploitasi anak yang dilakukan oleh tiga orang tersangka yang menjajakan keduanya melalui aplikasi berbasis online MiChat," tambahnya.

Lebih lanjut kata dia, dari keterangan para tersangka, diketahui modus operandi yang dilakukan yaitu memasukkan foto korban ke dalam aplikasi MiChat, kemudian menawarkannya kepada pelanggan. Setelah tercapai kesepakatan, kemudian para tersangka mengantarkan korban ke hotel yang telah disepakati dan hal itu telah terjadi sejak tanggal 10 hingga 12 Januari 2020.

Sementara itu diketahui, perkenalan korban dengan tersangka berawal dari teman-teman tersangka yang mengatakan adanya dua anak asal Pesisir Selatan yang putus sekolah dan membutuhkan pekerjaan di Kota Padang.

Pertemuan pertama korban yaitu dengan tersangka FE pada tanggal (8/1), yang selanjutnya memperkenalkan keduanya kepada tersangka AS. Setelah itu, kedua tersangka tersebut membawa kedua korban berkeliling Kota Padang menggunakan mobil tersangka. Keesokan harinya para tersangka menjemput tersangka lainnya yaitu AP ke rumahnya yang akhirnya tersangka ketiga inilah yang memasukkan foto korban ke aplikasi MiChat.

Barulah keesokan harinya, pada tanggal (10/1), para tersangka memberikan pelanggan kepada korban, dimana hingga tanggal (12/1) masing-masing korban telah melayani tamu sebanyak 3 hingga 5 kali di beberapa hotel yang berbeda, dan setelah korban melayani tamu mereka beristirahat di kamar hotel.

Dari sekali transaksi, para tersangka mematok harga Rp500 ribu untuk sekali kencan. Uang tersebut dibagi dua antara tersangka dan korban serta ada yang digunakan secara bersama-sama untuk mereka adakan pesta kecil-kecilan.

Sementara ketiga tersangka dijerat dengan pasal 76 i Juncto (Jo) pasal 88 Undang-undang nomor 17 tahun 2016 tentang Perpu UU nomor 1 tahun 2016, tentang perubahan kedua atas UU 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dengan hukuman maksimal 10 tahun penjara dan denda Rp200 juta.

[Buliza Rahmat]


Jangan Lewatkan