Prostitusi Berkedok Indekos di Lubuk Buaya Disebut Dibekingi Orang Kuat, Polisi: Pasti Kita Proses

Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Stefanus Satake Bayu Setianto saat diwawancarai awak media di Mapolda Sumbar, Kamis (16/1). (Foto: Raihan Al Karim)

PADANG (Metrans)

Beredar kabar bahwa lokasi prostitusi berkedok kos-kosan di Jalan Adinegoro, Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang yang digerebek Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumatera Barat (Sumbar), memiliki beking kuat. Hal itu diungkapkan beberapa warga di sekitar lokasi tersebut.

Menanggapi informasi tersebut, Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Stefanus Satake Bayu Setianto mengatakan, hingga saat ini, pihaknya masih melakukan penyelidikan dan pengembangan kasus tersebut. Sejauh ini, belum terungkap orang yang disebut beking kuat yang membentengi prostitusi berkedok kos-kosan itu.


"Nanti kalau hasil penyelidikannya ada dia (tersangka) sampaikan siapa yang membeking, pasti akan kita proses. Kalau polisi, bisa dilakukan tindakan-tindakan dari kita sendiri. Kalau misalnya dia TNI, kita serahkan ke Polisi Militer (PM), misalnya seperti itu. Tetapi sementara belum ada," kata dia ketika diwawancarai di Mapolda Sumbar, Kamis (16/1).

Di samping itu, berdasarkan pengakuan tersangka, kata dia, sebelumnya lokasi prostitusi tersebut memang pernah beroperasi, namun berkedok salon.

"Mungkin sebelumya pernah dalam bentuk salon, bukan bentuk seperti itu (kedok kos-kosan), dia buka dalam bentuk salon. Karena mereka sering digerebek oleh Satpol PP, dia berhenti. Cuma memang ada pegawainya yang menyalahgunakan untuk hal-hal yang tidak baik, makanya dia berhenti. Berlanjutnya 4 bulan yang lalu mereka memulai kegiatan itu lagi," jelasnya.

Sebelumnya diberitakan, Ditreskrimum Polda Sumbar mengungkap kasus prostitusi berkedok kos-kosan di Jalan Adinegoro, Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah Kota Padang. Polisi menangkap dua orang sebagai otak bisnis prostitusi kos-kosan tersebut, yakni ibu dan anaknya.

Ibu dan anak itu yakni wanita berinisial H (54) dan anaknya berinisial D (30). Sang ibu sebagai mami yang mengendalikan operasional bisnis prostitusi dan menerima semua uang hasil bisnis tersebut. Sementara anaknya berperan mencarikan wanita dewasa maupun anak di bawah umur untuk dipekerjakan melayani lelaki hidung belang.

Saat penggerebekan, polisi juga menemukan tiga orang wanita dan salah satunya anak di bawah umur. Mereka ditetapkan sebagai korban kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).

Berdasarkan pengakuan tersangka, aktivitas prostitusi yang dijalankan ibu dan anak itu sudah berjalan sejak lima bulan yang lalu. Kedua pelaku menjual wanita kepada lelaki hidung belang dengan bayaran rata-rata Rp 300 ribu.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya, kedua tersangka dijerat dengan tindak pidana undang-undang perlindungan anak. Di antaranya Pasal 76I jo Pasal 88 Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014 dan Pasal 2 jo Pasal 17 Undang-Undang nomor 21 tahun 2007 tentang tindak pidana perdagangan orang.

[Raihan Al Karim]


Jangan Lewatkan