KAWASAN WISATA BATANG AGAM

Ratusan Miliar Terancam Sia-sia

SEMERAWUT- Kawasan wisata baru Batang Agam, di Payakumbuh Barat, saat ini mulai tidak tertata lagi dan menjadi semerawut sehingga tidak lagi meberikan kenyamanan bagi pengunjung yang datang. Dikhawatirkan kawasan yang dibangun dengan nilai ratusan miliar rupiah ini akan menjadi sia-sia bila tidak dikelola dengan baik. (foto: Novrizal Sadewa)

Payakumbuh (Metrans) 

Berakhirnya masa PSBB dan seiring dengan dimulainya Tatanan Kehidupan Baru Normal Baru Produktif dan Aman Covid-19 membuat sejumlah objek Wisata Di Sumatera Barat mulai dibuka kembali. Salahsatunya adalah kawasan wisata baru Batang Agam yang terletak di Sei Pinago dan Tanjung Gadang serta Tanjung Pauah, Kecamatan Payakumbuh Barat .

Sejak resmi dibuka, Sabtu (20/6) lalu, objek wisata mulai dibuka dengan harapan mengikuti protokol kesehatan, begitupun dengan Taman Wisata Batang Agam, pengunjung pun sangat antusias menikmati sore hari di pinggir sungai yang membelah Kota Payakumbuh itu.


Hanya saja, kelihatan para pengunjung masih banyak yang abai terhadap protokol kesehatan untuk memutus mata rantai penyebaran virus covid-19. Lebih dari 75% dari pengunjung mengabaikan protokol kesehatan dan rata rata mereka tidak memakai masker, dan hanya digantungkan di leher, bukan untuk menutupi mulut.

Untuk itu perlu ketegasan anggota tim gugus tugas covid-19 Payakumbuh, terutama tim gugus tugas kecamatan Payakumbuh Barat, untuk mengajak pengunjung untuk tetap mengikuti disiplin melaksanakan protokol kesehatan dengan selalu memakai masker, rajin cuci tangan, selalu menjaga jarak.

Pengunjung tentunya harus terus diberipemahaman, bahwa new normal bukan berarti mengabaikan protokol kesehatan.

Menurut Rahman (48), warga setempat, semenjak dibuka kembali kawasan wisata yang dibangundengan dana  ratusan miliar ini seperti tidak terurus lagi, bukan hanya masalahprotokol kesehatan, tetapi kemerawutan yang ditimbulkan oleh pedagang juga membuat kawsan ini terlihat kotor.

“Semenjak era new normal ini pedagang seenaknya saja berjualan disembarangan tempat, sehingga mengganggu kenyamanan, sepertinya mereka bersibagak saja semenjak adanya virus corona ini,” kata Rahman, Minggu (28/6).

Rahman khawatir, kawasan wisata yang dibangun dengan dana ratusan miliar rupiah tersebut, akan kehilangan pesonanya jika tidak dikelola dengan benar, sehingga akhirnya ditinggalkan pengunjung dan menjadi sia-sia.

Senada dengan itu, Rina pengunjung dari Situjuah juga merasakan ketidaknyamanan di kawasan tersebut, terutama masalah pungutan parkir yang dilakukan oleh sekolompok orang.

“Mereka seperti preman begitu, kita datang mereka tidak ada, begitu mau jalan mereka tiba-tiba muncul tanpa karcis parkir, dan mereka meminta uang parkir dengan cara yang kurang sopan,” kata dia.

Sementara itu pengamat sosial dan penggiat wisata kuliner di Payakumbuh Ojie Fahruzi menilai, kawasan wisata tersebut harus dikelola secara terpadu dan mendapat perhatian khusus dari sejumlah instansi terkait agar betul-betul dapat menjadi andalan Kota Payakumbuh dalam menggenjot Pendapatan Asli Daerah (PAD), apalagi dengan nilai pembangunan yang fantastis mencapai ratusan miliar rupiah.

“Dengan nilai proyek yang fantastis tersebut tentu seharusnya hasil yang diperoleh harus fantastis juga, selain itu dampak kepada masyarakat tentu juga harus fantastis, bukan sekedar hasil bangunan fisik semata,” kata dia.

Menurut Ojie, saat ini justru kawasan tersebut sepertinya tidak berdampak bagi masyarakat umum, dan hanya dimanfaatkan sekelompok orang secara liar.

“Harusnya semua pihak terkait bekerjasama dan menata dengan baik kawasan itu, seperti tempat berdagang, parkir, arena keluarga dan sebagainya, sehingga orang yang datang bisa menikmati dan pedagang pun kalau tertata akan lebih mendapatkan untung,” kata Ojie, Minggu (28/6).

Selain itu, Ojie menilai sepertinya ada tarik ulur antar SKPD tentang siapa yang akan mengelola kawasan tersebut, akibatnya kawasan tersebut terlantar dan seperti sia-sia saja.

Pemko Payakumbuh harus cepat memutuskan siapa pengelolanya, apakah PUPR atau Disparpora, atau diserahkan kepada pengelola mandiri atau swasta,” tambah dia.

Sebelumnya, melihat perkembangan zona baru destinasi wisata handalan yang cukup menjanjikan itu, Wakil Wali Kota Payakumbuh Erwin Yunaz,.SE.,MM mengatakan akan menyiapkan pengelolaan mandiri untuk kawasan Batang Agam yang saat ini semakin ramai dikunjungi wisatawan dan masyarakat dengan harapan sektor ekonomi di kawasan tersebut semakin bergeliat.

Program normalisasi dan penataan sungai Batang Agam ini telah berjalan sejak tahun 2015 hingga Semester I tahun 2017. Pemko Payakumbuh telah membebaskan daerah sekitar DAS Batang Agam baik kiri dan kanan aliran sungai sepanjang kurang lebih 4,02 km dengan luas lahan 79.274 m3 dengan anggaran sebesar Rp13,47 Miliar.

Selanjutnya pada semester II tahun 2017, pembebasan lahan sepanjang 2,27 km yang berada di sejumlah kelurahan diantaranya Tanjuang Gadang Sungai Pinago, Bulakan Balai Kandi, Pakan Sinayan dan Ibuah diperkirakan akan menelan anggaran sebanyak Rp6,02 Miliar lebih.

Kegiatan normalisasi dan penataan sungai Batang Agam tahap II ini dilakukan dengan kontrak tahun jamak (multiyears), dari 2017 hingga 2019. Total nilai proyek keseluruhan Rp 195 Miliar, dimana Rp 187 Miliar untuk kontruksi dan sisanya Rp8 Miliar digunakan untuk supervisi. n Novrizal Sadewa.


Jangan Lewatkan