Salat Idulfitri di Padang Boleh Berjamaah di Masjid, Ini Syaratnya

Ilustrasi salat Idulfitri. (ist/net)

PADANG (Metrans)

Penyelenggaraan salat Idulfitri 1441 Hijriah di Kota Padang masih tetap boleh dilaksanakan secara berjamaah di masjid-masjid atau mushalla dengan tetap memperhatikan Protokol Covid-19. Hal itu setelah Wali Kota Padang, Mahyeldi Ansharullah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh camat di kota itu.

Selain memperhatikan Protokol Covid-19, kata Mahyeldi, pengurus masjid atau mushalla harus melengkapi syarat-syarat yang telah ditentukan. Dalam surat dengan nomor 451.172/Kesra-2020 tanggal 19 Mei 2020 itu, terlampir 15 poin tentang teknis pelaksanaan salat Idulfitri berjamaah.


Kemudian pengurus masjid mengajukannya ke camat masing-masing.

"Kalau ada rencana untuk menyelenggarakan salat Idulfitri, maka silakan buat surat permohonan kepada camat," kata Mahyeldi, Kamis (21/5/2020).

Kemudian camatlah yang akan membuat komitmen dengan pengurus masjid tersebut.

Berikut ini syarat-syarat yang harus dilengkapi pengurus masjid/mushalla yang hendak melaksanakan salat Idulfitri berjamaah berdasarkan Surat Wali Kota Padang tersebut:

1. Lokasi Masjid/Mushalla tidak berada di jalan perlintasan atau jalan raya," begitu isi surat pada poin pertama tentang teknis pelaksanaan Salat Idulfitri tersebut.

2. Tidak ada kasus positif Covid-19 di wilayah kelurahan masjid/mushalla yang bersangkutan. 

3. Tidak ada jamaah pendatang di luar jamaah tetap di lingkungan masjid/mushalla tersebut.

4. Jamaah masuk masjid/mushalla pada satu pintu dan harus dilakukan pengukuran suhu tubuh (thermogun disediakan oleh pengurus masjid/mushalla).

5. Jamaah adalah warga yang dikenal oleh pengurus dan dalam kondisi sehat (tidak batuk/pilek/demam).

6. Jamaah tidak memiliki riwayat penyakit kronis (sakit gula, tekanan darah tinggi, penyakit jantung dan stroke).

7. Seluruh jamaah masjid/mushalla wajib memakai masker.

8. Pengurus masjid/mushalla wajib menyediakan sabun cuci tangan di tempat berwudhu.

9. Mengatur jarak antara jamaah (60cm).

10. Jamaah membawa sajadah/tikar masing-masing.

11. Khutbahnya iqtishor/dipendekkan (maksimal 15 menit).

12. Keluar masjid/mushalla tetap jaga jarak dan tidak boleh berkerumun.

13. Pengurus masjid/mushalla harus membentuk tim khusus yang akan mengawasi pelaksanaan ketentuan-ketentuan sebagaimana tersebut di atas.

14. Pengurus masjid/mushalla membuat surat pernyataan (contoh terlampir) dan ditanda tangani di atas materai 6000.

15. Rekomendasi bisa diberikan jika memenuhi seluruh pernyataan 1 s.d 13 sebagaimana tersebut di atas.

Kemudian, catatan terakhir, pelaksanaan takbiran dilakukan di masjid/mushalla dengan pengeras suara dan boleh menggunakan mobil di sekitar kelurahan dengan mengikuti aturan PSBB (dalam satu mobil hanya diisi oleh 3 orang termasuk sopir).


Jangan Lewatkan