Sepanjang Waktu Adalah Kesempatan Kedua!

Raihan Al Karim. (dok)

Oleh: Raihan Al Karim (Wartawan Muda)

Tirai tahun 2020 telah terjurai, tahun 2019 telah digulung. Rasanya baru saja 2019 menyapa kita, namun kini telah pergi dan tidak akan pernah kembali. Sungguh perjalanan waktu itu terus melaju dan seakan berpacu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 00.00 WIB dan tanggal di kalender resmi berubah menjadi 1 Januari 2020, tak sedikit para netizen mengawali semangatnya di tahun baru ini dengan mengunggah berbagai resolusi yang mesti dicapainya pada tahun baru ini. Contohnya saja, ada yang ingin fokus menata jenjang karir dan menambah penghasilan, segera menyelesaikan pendidikan di bangku perkuliahan, mendapatkan pekerjaan bagi yang belum bekerja, mendapatkan jodoh bahkan ingin menikah bagi yang merasa siap.


Memang, resolusi-resolusi tersebut merupakan semangat untuk mengawali aktivitas yang akan mereka laksanakan di tahun baru ini. Saya sangat apresiasi dan acungkan dua jempol. Namun, masih ingat kah tanggung jawab atas resolusi-resolusi yang dibuat pada tahun sebelumnya? Apa semua resolusi itu telah tercapai? Bukankah seharusnya program atau resolusi baru dipancangkan setelah program lama dituntaskan? 

Prasangka buruk pun muncul dari dalam hati saya yang terlihat kotor dan julid ini. Saya justru berpandangan bahwa orang-orang itu menampilkan resolusi tahun baru hanya demi menutupi kegagalan atas bermacam jilid resolusi di tahun-tahun sebelumnya. Saya tidak mencemooh kaum yang gagal mencapai bermacam jilid resolusi di tahun sebelumnya itu. Saya pun tidak merasa sempurna, karena memang tak ada yang sempurna di dunia ini.

Lantas, kenapa saya berkata seperti itu? Karena setiap pergantian tahun, saya tidak pernah membuat dan punya resolusi. Bukannya tidak ingin berkembang dari tahun sebelumnya, tapi menurut saya itu tidaklah suatu hal yang sangat penting. Saya memutuskan untuk tidak memiliki resolusi setiap mengawali aktivitas di tahun baru karena saya menganalogikan tahun baru layaknya ulang tahun yang tak pernah menjadi momen penting dalam perjalanan hidup. Sekarang saya bertanya, di mana pentingnya?

Setiap orang tentunya ingin berubah ke arah yang lebih baik, dan membuat resolusi tidaklah suatu hal yang salah. Tetapi ada baiknya tidak merencanakan perubahan itu menggunakan skala waktu, apalagi dengan waktu sesingkat itu. Mengapa? ketika resolusi itu gagal atau belum tercapai pada masa tenggat waktunya tiba, di situlah kita berpura-pura bikin resolusi baru, sambil "melupakan" resolusi lama yang tak kunjung tercapai.

Memang, tak sedikit dari mereka yang sukses dengan program dan resolusi-resolusi yang mereka buat pada tahun-tahun sebelumnya. Tetapi percayalah, masih banyak di antara mereka yang masih stagnan menjalai hidupnya, alias begitu-begitu saja. Apakah itu karena malas, merasa cukup. atau mungkin karena tiada pilihan hidup.

Percayalah, tahun hanyalah satu jenis rentang waktu yang berisi 365 hari berturut-turut. Perbanyak lah bersyukur dengan apa yang telah berhasil dicapai hingga saat sekarang ini. Tak ada salahnya kan, jika tidak menjadikan rentang waktu sebagai skalanya? Menurut saya, setiap hari adalah kesempatan kedua. Jika jatuh dan gagal, bangkit dan coba lagi. Perbanyaklah belajar dari kaleidoskop tahun sebelumnya.

Memang aneh jika saya mengatakan "sepanjang waktu adalah kesempatan kedua", karena kita sering mendengar orang mengatakan "kesempatan tidak datang dua kali", sehingga apa yang disebut kesempatan kedua biasanya terungkap dalam pengandai-andaian yang mengandung janji. Beri aku kesempatan kedua, saya berjanji tak akan mengulangi dan berubah menjadi lebih baik.

Ungkapan yang terdengar bernada pasrah itu memang tidak asing lagi di telinga kita. Tapi benarkah apa yang disebut "kesempatan kedua" itu memang nyatanya ada? Tak sedikit di antara kita yang mungkin sering ditimpa kegagalan akibat kesalahan-kesalahan yang membuat hidup kita berantakan. Jangan pernah merasa berada di titik terendah ketika sedang terpuruk dan jatuh.

Percayalah, kesempatan kedua untuk memperbaiki diri, berusaha lebih keras, lebih berbalas kasih, hidup lebih sehat, menepati janji, melupakan rencana yang tak perlu, menata rencana baru dan mewujudkan mimpi ada di sepanjang waktu. Mengapa harus menunggu tahun baru untuk memulai hal-hal baru dengan menamakannya dengan sebuah "resolusi"?

Jika kita selalu ingat bahwa setiap hari adalah hari baru, maka kita punya jauh lebih banyak momen dan "alasan" untuk selalu memulai apa saja, membuat resolusi-resolusi, sekaligus terbentang kesempatan yang tak habis-habis untuk mewujudkan resolusi yang belum tercapai. Karena setiap hari adalah kesempatan kedua. Selamat berjuang, semoga hari esok lebih baik dari hari ini. (*)

*) Penulis adalah Jurnalis Metro Andalas.


Jangan Lewatkan