Sidang Dugaan Penganiayaan Antar Guru di Padang, Korban Ngaku Diancam Dibunuh

Suasana sidang kasus dugaan penganiayaan antar guru di salah satu SMP di Kota Padang diwarnai hiruk pikuk.

PADANG (Metrans)

Sidang dugaan tindak pidana penganiayaan yang dilakukan oleh seorang guru berinisial D, di salah satu SMP Negeri di Kota Padang kembali digelar di Pengadilan Negeri Klas IA Padang. Dalam sidang tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Kejaksaan Negeri (Kejari) Padang, Suci cs menghadirkan lima orang saksi. Para saksi yang dihadirkan adalah Ermayeti (korban), Maiyofa selaku mantan kepala SMP, Irlamsera, Ezita dan Nurjalisma.

Menurut keterangan Ermayeti, saat kejadian tersebut, dirinya diserang oleh terdakwa dengan alasan yang tidak jelas. 


“Waktu kejadian itu, saya sedang mengajar di kelas, lalu datanglah salah seorang anak magang, memanggil saya untuk ke ruangan kepala sekolah. Tak beberapa lama kemudian, saya menemui kepala sekolah, dan bertanya apakah ibu kepala sekolah memanggil saya, lalu dijawab tidak. Selanjutnya saya kembali ke kelas. Sewaktu hendak ke kelas sebanyak 23 guru berkumpul di depan kelas. Terdakwa mengejar saya dan mengambil tengkelek lalu dilemparkan ke saya, dan mengenai dagu. Tak hanya itu, terdakwa juga mengambil piring dan melemparkan kearah saya, serta mengena bahu,” katanya, Kamis (19/3).

Korban juga bercerita di hadapan majelis hakim, bahwa dia juga diancam akan dibunuh oleh terdakwa.

“Saat kejadian itu, dia mengatakan akan membunuh saya, saya pun langsung lari ke ruang perlengkapan,” ujarnya.

Korban juga menambahkan, bahwa setelah kejadian tersebut, dia melaporkan kepada polisi dan juga dilakukan visum.

“Berdasarkan visum, saya mengalami luka yang disebabkan benda tumpul,” tuturnya.

Korban juga mengaku, sampai saat ini, terdakwa belum melakukan upaya perdaiman ataupun permintaan maaf. Namun keterangan korban, dibantah oleh terdakwa.

”Saya telah berdamai dan sudah ada tanda tangan yang disaksikan oleh, Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang,” ujar terdakwa

Mendengarkan hal tersebut, korban pun langsung membantahnya.

“Saya terpaksa menanda tanganinya majelis hakim, saya dipaksa oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang, Barlius. Namun demikian saya tetap tidak memaafkannya,” imbuhnya.

Menanggapi hal tersebut, majelis hakim meminta kepada JPU untuk menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang ke persidangan.

“Ya sudah, kalau begitu buk jaksa, hadirkan saja kepala dinasnya,” kata salah seorang Hakim Anggota, Nasorianto. Namun JPU hanya diam, atas permintaan dari majelis hakim.

Saksi lain, yakninya Maiyofa mengaku tidak mengetahui permasalahan yang sebenarnya.

“Saya tidak tahu permasalahan apa yang terjadi sebenarnya, karena saya baru lima bulan bertugas di SMP tersebut, tentunya saya mengenal lingkungan dulu. Sedangkan tugas sama yang saya berikan,” tuturnya sembari menyebutkan, sejak kejadian itu, dirinya tidak lagi menjabat sebagai kepala sekolah.

Saksi Irlam Sera menerangkan, dirinya sempat didorong oleh para guru yang berkumpul pada saat itu, karena berusaha untuk meredamnya.

“Pada waktu di dalam korban masuk ke ruang perlengkapan, terdakwa mengejar korban dan terdakwa pun berkata-kata kotor,” terangnya.

Saksi Ezita dan Nurjalisma juga membenarkan peristiwa tersebut. Dalam sidang tersebut, tampak puluhan guru datang melihat proses berjalannya sidang, bahkan para guru sempat bersorak kecil. Petugas penjaga ruang sidang dan JPU, sempat menenagkan para guru.

“Ibu-ibuk tenang kalau tidak tenang nanti disuruh keluar,” ucap penjaga ruang sidang.

Sebelum sidang ditutup, majelis hakim memberikan nasihat kepada para guru.

“Ibu-ibuk ini kan guru, berikanlah contoh yang baik kepada siswanya, jangan seperti ini, jangan membuat malu sekolah tersebut,” kata hakim ketua sidang, Merry yang didampingi hakim anggota Nasorianto dan Ade Zulfiana Sari.

Atas keterangan para saksi, terdakwa beriniasial D yang tidak didampingi Penasihat Hukum (PH) dan tidak dilakukan penahanan badan, membantah semua keterangan saksi.

“Saya tidak terima keterangan para saksi, karena saya tidak pernah melempar korban dengan tengkelek, tapi kalau melempar piring memang ada,” tandasnya.

Meskipun terdakwa menyangkal, lima orang saksi yang sudah disumpah di bawah Al-Quran, tetap pada keterangannya. Usai menjalani sidang, terdakwa dan para saksi meninggalkan ruang sidang, sehingganya dilanjutkan pekan depan.             

Dalam dakwaan disebutkan, terdakwa D melakukan penganiayaan terhadap korban, sehingganya korban mengalami luka yang disebabkan benda tumpul. Kejadian tersebut, terjadi pada tanggal 4 Maret 2019 lalu. Atas perbuatannya, terdakwa dikenakan pasal 351 Ayat (1) KUHPidana.


Jangan Lewatkan