oleh



Sidang ke-8 Wabup Pessel, Saksi Sebut Terdakwa Perdalam dan Perluas Sodetan di Mandeh

PADANG (Metrans)

Pengadilan Negeri Klas IA Padang kembali menggelar sidang kasus dugaan perusakan Mangrove di kawasan Mandeh, Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan dengan terdakwa Wakil Bupati Pessel, Rusma Yul Anwar, Kamis (7/11).

Pada sidang ke-8 ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU), James Eddy dan Heru Saputro Cs kembali menghadirkan tiga orang saksi yakni Masrial, Benrusdi dan Gen.


Pada kesempatan itu, Masrial mengatakan sebelum lahan itu dibeli oleh terdakwa, sodetan di lokasi tersebut dangkal dan tidak bisa digunakan dengan lebar sekitar empat meter.

Namun, lanjut Masrial, setelah dibeli oleh terdakwa, sodetan diperdalam dan diperlebar menjadi lebih kurang 15 meter dengan panjang 60 meter. Bahkan, material dari proses tersebut dibuang di sisi sodetan yang di sana terdapat mangrove.

"Sebelum lahan tersebut dibeli oleh terdakwa, sodetan di lokasi dangkal dan tidak bisa digunakan. Dan setelah dibeli sodetan di lokasi diperluas dan perdalam oleh terdakwa," kata dia.

Masrial mengaku dirinya merupakan kepala tukang yang membangun dua unit pondok berukuran 6x8 meter di lokasi dengan mempekerjakan dua tukang dan satu pekerja. Dan itu atas permintaan dari terdakwa.

"Saya membuat bangunan di lokasi itu atas permintaan terdakwa. Dengan diberi upah Rp150 ribu per hari, tukang Rp125 ribu per hari dan pekerja Rp100 ribu per hari," ujarnya.

Dijelaskanya, satu unit pondok dibangun di atas bukit dan satunya lagi di bawah antara bukit dan bibir pantai, sebelum pondok itu dibangun terlebih dahulu lokasi pembangunannya diuruk menggunakan alat berat.

Sementara itu, Benrusdi mengatakan, selain bekerja sebagai pembantu tukang, dirinya oleh terdakwa juga diminta menanam beberapa pohon di sekitar lokasi seperti bunga, durian, petai, dan jengkol.

Sementara saksi lain, Gen mengaku, ia diminta oleh terdakwa untuk memotong kayu jenis Cempedak yang ada di lokasi dengan upah Rp1,5 juta per kubik. Kayu tersebut diolah menjadi balok dan lembaran papan.

Pada sidang sebelumnya yang digelar Selasa (29/10), saksi Rifkaldi yang merupakan Kepala Seksi Penataan Ruang, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Pesisir Selatan menyebutkan, bangunan yang didirikan terdakwa berada di kawasan hutan lindung, pembangunan sodetan yang digunakan untuk menyandarkan kapal juga mengakibatkan rusaknya manggrove.

Hal itu ia pastikan setelah mengecek titik koordinat dan selanjutnya mencocokannya dengan citra satelit, khusus sodetan luasnya bertambah rentang 2015 hingga 2017.

Kasus ini merupakan dugaan perusakan hutan lindung dan penimbunan hutan bakau (mangrove) di kawasan Mandeh, Kecamatan Koto XI, Pesisir Selatan, pada 2016.

Dalam dakwaan pertana, Rusma Yul anwar dikenakan pasal 98 ayat (1) Undang-undang Republik Indonesia Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Sementara dakwaan kedua, pasal 109 Undang-undang republik Indonesia nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun, sidang ditunda dan kembali dilanjutkan pada Kamis (14/11) mendatang. (mil)


Tag:

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru