oleh



Sisi Lain Apel Gelar Pasukan Operasi Mantap Brata 2018 di Mapolres Solok Kota

Bukan Polres Solok Kota namanya, jika tidak bisa menyajikan sesuatu yang beda dalam sebuah giat. Operasi "Mantap Brata 2018", digelar di seluruh Polres se-Indonesia. Namun di Polres Solok Kota, pelaksanaannya tidak berlangsung seremonial. Berbagai atraksi ditampilkan oleh berbagai elemen di Kota Solok dan Kabupaten Solok. Seperti apa?

SOLOK (Metrans)

Polres Solok Kota melaksanakan Apel Gelar Pasukan Operasi "Mantap Brata 2018" di Lapangan Upacara Mapolres Solok Kota, Rabu (19/9). Kegiatan ini mengangkat tema "Melalui Apel Gelar Pasukan Operasi Mantap Brata 2018, Kita Tingkatkan Sinergi Polri Dengan Instansi Terkait dalam Rangka Mewujudkan Keamanan dalam Negeri yang Kondusif".


Begitu kegiatan dimulai, kesan pertama langsung terlihat dengan tampilnya komandan upacara, Ipda Junia Rakhma, S.Trk memimpin ratusan peserta gelar pasukan. Polwan lulusan Akpol tahun 2018, yang baru beberapa minggu bertugas di Mapolres Solok Kota ini, sama sekali tidak terlihat canggung. Dengan suara yang lantang, Ipda Junia terlihat nyaman menjalani prosesi upacara. Termasuk saat mendampingi Inspektur Upacara, Kapolres Solok Kota AKBP Dony Setiawan, melakukan pemeriksaan pasukan.

Hadir dalam prosesi tersebut, Walikota Solok Zul Elfian, Dandim 0309 Solok diwakili Kapten Inf Baskir, Ketua Pengadilan Negeri Solok Doni Dortmund, Kepala Kejaksaan Negeri Solok Aliansyah, Ketua KPU Kota Solok Asraf Danil Handhika, Ketua Bawaslu Kota Solok Triati, Ketua KPU Kab Solok Gadis, Ketua Bawaslu Kab Solok Afri Memory, Ketua MUI Kota Solok Afrizal Thaib, Ketua LKAAM Kota Solok H. Rusli Khatib Sulaiman, Dan Subden POM Solok Lettu Cpm Taufik, Kasat Pol PP Kota Solok Bujang Putra, seluruh pimpinan Parpol se-Kota Solok, dan rekan-rekan pers.

Sementara, peserta upacara Gelar pasukan terdiri dari satu pleton TNI dari Kodim 0309/Solok, satu pleton Dalmas, satu pleton Lantas, satu pleton Bhabinkamtibmas, satu pleton Reskrim Intel, satu pleton Satpol PP, satu pleton Damkar, satu pleton Linmas. 
Usai pemeriksaan pasukan, kegiatan dilanjutkan dengan pemasangan pita operasi oleh Inspektur Upacara, Walikota Solok dan Dandim 0309 Solok. Kemudian dilanjutkan amanat dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian dan ditutup dengan doa.

Usai seluruh undangan, acara kegiatan "ekstra" dimulai dengan pemotongan pita Launching Sentra Penegakan Hukum Terpadu Kota Solok oleh Kapolres Solok Kota, Kajari Solok dan Ketua Bawaslu Kota Solok. Setelah itu, berbagai elemen unjuk kebolehan dengan menampilkan berbagai atraksi.

Diawali dengan penampilan drama kolosal dari Himpunan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia (Himapindo) UMMY Kota Solok dengan judul "Masyarakat Kota Solok Menolak Money Politic". Kemudian dilanjutkan dengan penampilan Puisi Orasi Kebangsaan oleh Bengkel Sastra Wajah UMMY Kota Solok dengan judul “Tenggang Rasa Ciptaan Bambang Priantono”, “Suara-suara Penentu Ciptaan Fitri Y. Yeye”, dan “Ketika Indonesia Dihormati Dunia Ciptaan Taufik Ismail". Ragam penampilan langka oleh mahasiswa di kantor polisi ini seketika menarik minat para hadirin dan membuat mereka mau bertahan di lokasi.

Tak hanya itu, selanjutnya juga ada penampilan parade poster-poster oleh masyarakat Kota/Kabupaten Solok tentang harapan pada Pemilu 2019 yang aman, damai dan badunsanak. Isi poster sangat menggugah, karena beberapa ditulis dalam bahasa Minangkabau. Seperti "Barani Tulak Money Politic", "Pemilu 2019 Sukses Tanpa Hoax, Provokasi & Isu SARA, Jangan Politisasi Masjid", "Mari Kito Sukseskan Pemilu 2019 yang Aman Damai dan Sajuak", "Kampanye di Lapangan, Jan di Masajik", "Hargai Perbedaan Untuak Keutuhan NKRI", "Tulak! Black Campaign & Negatif Campaign", "Say No To Hoax", "Kami Urang Solok Tulak Politik Piti", "Jan Mambuek Gaduah & Provokasi", "Pilihan Buliah Beda Keutuhan NKRI Harago Mati", "Kami Siap Bantu Bawaslu Kota Solok Kawal Pemilu 2019 Yang Adil Dan Berintegritas".

Acara kemudian dilanjutkan dengan penampilan defile pengawalan kampanye oleh Sat Lantas Polres Solok Kota. Kemudian penampilan defile Patroli Tiga Pilar menggunakan ranmor dinas roda dua oleh Bhabinkamtibmas, Babinsa dan Walinagari. Lalu, penampilan Sispam TPS, dilanjutkan dengan penampilan defile pengawalan kotak suara oleh Sat Sabhara Polres Solok Kota.

Yang menarik, prosesi juga diikuti dengan penampilan Tim Negosiator Polwan Polres Solok Kota. Lalu didukung dengan penampilan Public Address Polres Solok Kota yang dipimpin Kasat Binmas Iptu Elfi Indra. Prosesi kemudian berlanjut dengan penampilan Pleton Dalmas Polres Solok Kota dan penampilan Bela Diri Sinergitas TNI-Polri dalam mengawal pelaksanaan Pemilu 2019 yang aman damai dan badunsanak.

Usai berbagai atraksi, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan Deklarasi Aparatur Sipil Negara, TNI dan Polri Kota Solok yang menyatakan netralitas dan siap mengawal pelaksanaan Pemilu 2019 yang aman damai dan badunsanak.

"Kedekatan" Kapolres Solok Kota dengan berbagai elemen di Kota Solok dan wilayah hukum Polres Solok Kota, dibuktikan dengan "dipersilakannya" dua tokoh agama dan adat menyampaikan kata sambutan. Yakni kata sambutan Ketua MUI Kota Solok Haji Afrizal Thaib, tentang menghormati perbedaan, himbauan tidak melaksanakan politik praktis di masjid/tempat ibadah dan jangan menghina/menjelek-jelekkan suatu kaum sesuai Ayat Al-Hujurat ayat 12. Lalu dilanjutkan dengan kata sambutan Ketua LKAM Kota Solok Rusli Khatib Sulaiman tentang menghormati perbedaan, tidak membuat gaduh situasi Kota Solok dan apresiasi terhadap manfaat serta edukasi kegiatan ini yang diprakarsai oleh Kapolres Solok Kota.

Tak sampai disitu, kegiatan dilanjutkan dengan Penandatangan Deklarasi Tungku Tigo Sajarangan Kota dan Kabupaten Solok yang siap menyukseskan Pemilu 2019 yang aman damai dan badunsanak. Sebagai kenang-kenangan, juga dilakukan Pembuatan video Deklarasi Tungku Tigo Sajarangan Kota dan Kab Solok siap menyukseskan Pemilu 2019 yang aman damai dan badunsanak. Kegiatan baru benar-benar ditutup dengan foto bersama seluruh hadirin dan undangan.

Kapolres Solok Kota AKBP Dony Setiawan menyatakan, selama ini pihaknya selalu berusaha menjalin sinergitas dan kebersamaan dengan semua elemen masyarakat. Menurutnya, hal itu disebabkan untuk melakukan tugas-tugas kepolisian, harus melibatkan seluruh elemen, dan tidak bisa dilakukan sendiri oleh polisi.

"Tidak mungkin bisa sendirian. Polisi juga manusia yang memiliki keterbatasan dan makhluk sosial yang selalu butuh orang lain," ujarnya berfilosofi.

Sekitar 15 bulan memimpin Polres Solok Kota, AKBP Dony Setiawan harus diakui telah memberikan "sentuhan" berbeda. Paduannya bersama Wakapolres Kompol Sumintak dan Kabag Ops Kompol Bresman Simanjuntak, serta para Kabag, Kasat, Kapolsek, Kaur, Kanit, dan seluruh personel, mampu menorehkan beragam prestasi. Padahal, penunjukan Dony ditandai dengan "kasus" dugaan persekusi terhadap seorang dokter Rumah Sakit Umum (RSU) Solok, dr. Fiera Lovita.

Mengawali kepemimpinan dengan "mendekati" seluruh elemen masyarakat, Dony Setiawan mendapat simpati. Tidak hanya dari tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh adat, tapi juga dari seluruh elemen masyarakat di wilayah hukum Polres Solok Kota. Seiring dengan penerimaan yang baik, ragam prestasipun diukir. Bahkan, personel di tingkat Bhabin Kamtibmaspun "meniru" pola tersebut, hingga mampu menciptakan inovasi. Sebut saja Bripka Maihendri yang membangun rumah pasangan Samuni dan Syahniar di Nagari Indudur Kabupaten Solok, Bripka Edwardo yang membangun rumah warga korban kebakaran dan menyulap mobilnya menjadi perpustakaan keliling, serta sederet kiprah para Bhabin Kamtibmas lainnya yang mampu mengubah citra kepolisian. Yakni mengubah stigma sebagai tukang tilang, pembeking aktivitas ilegal, dan "kinerja negatif" lainnya yang terlanjur melekat.

Kepercayaan masyarakat semakin meninggi saat pendekatan dan layanan semakin meningkat. Sejumlah kasus, seperti hal yang mudah diungkap jajaran Polres Solok Kota. "Tenar" sebagai Ketua Tim TI (teknologi informasi) dan Ketua Satuan Tugas (Satgas) Narcotics Investigation Center (NIC) Bareskrim Mabes Polri, Dony Setiawan memimpin pengungkapan peredaran ganja sekitar 90 kilogram asal Aceh, di Singkarak, pada 27 Desember 2017 lalu. Berikutnya, kasus-kasus yang jarang terungkap di wilayah hukum Polres Solok Kota, diselesaikan dalam waktu hitungan hari. Terbaru, kasus pembunuhan di Transad, dan pembakaran Ruko CFC di Taman Syech Kukut Kota Solok.

"Kita hidup di masa modern dan menjadi bagian generasi millenial. Polisi sekarang, haruslah polisi modern dan polisi millenial pula. Yakni polisi yang sesuai dengan perkembangan zaman, dan menjadi bagian integral di dalamnya. Polisi jangan lagi sebagai sosok yang ditakuti. Tapi harus sebagai sosok yang disegani dan mitra bagi masyarakat. Tentu hal ini akan terwujud, jika polisi mampu menempatkan diri menjadi bagian dari masyarakat. Yakni sebagai pelindung, pengayom dan penegak hukum," ujarnya.

Atas beragam kiprah tersebut, pada 25 November 2017, Dony Setiawan didapuk menjadi warga kehormatan Kota Solok dan disandangkan gelar Datuk Pandeka Rajo Mudo. Gelar sangsako yang diberikan kepada orang yang tidak memiliki darah Minangkabau, tapi dinilai berjasa terhadap masyarakat, daerah, bangsa dan negara. Gelar ini sangat istimewa, karena bisa dipakai seumur hidup, dan menjadi kenangan jika nanti tidak lagi bertugas di Polres Solok Kota. (rzl)


Tag:

Editor :  Raihan Al Karim

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2018



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru