oleh



Tradisi Mandi Balimau Itu Kini Tinggal Simbol Semata

​​​​​​Oleh: Raihan Al Karim (Wartawan Muda)

 

Dalam praktiknya, "Balimau" adalah tradisi mandi menggunakan jeruk nipis yang berkembang di kalangan masyarakat Minangkabau yang biasanya dilakukan pada kawasan tertentu yang memiliki aliran sungai dan tempat pemandian. Mandi "Balimau" ini lazimnya dilakukan masyarakat dalam menyambut bulan suci Ramadhan yang diwariskan secara turun temurun dan dipercaya telah berlangsung selama berabad-abad.


Tradisi ini memiliki makna konotatif, yang membersihkan hati dan jiwa sebelum memasuki bulan puasa sesuai dengan ajaran agama Islam, yaitu mensucikan diri sebelum menjalankan ibadah puasa, serta sebagian kalangan masyarakat memanfaatkan momen tersebut untuk mempererat silaturahmi antar keluarga dan kerabat-kerabat mereka. 

Zaman dahulu, masyarakat Minang menyambut bulan suci Ramadhan dengan mandi balimau bersama-sama hingga menyewa mobil pick-up hingga angkutan umum.

Mensucikan diri yang dimaksud adalah mandi yang bersih. Sebab, zaman dahulu tidak setiap orang bisa mandi dengan bersih, baik karena tak ada sabun, beberapa wilayah yang kekurangan air, bahkan karena sibuk bekerja maupun sebab lainnya. Saat itu, pengganti sabun di beberapa wilayah Minangkabau adalah limau (jeruk nipis), karena sifatnya melarutkan minyak atau keringat yang melekat di badan. 

Dari tahun ke tahun, biasanya lokasi yang sangat ramai dijadikan tempat mandi "Balimau" bagi warga Minang, khususnya di Kota Padang, yaitu di sekitaran Lubuk Minturun dan Lubuk Paraku. Bahkan, jumlah masyarakat Minang yang menjalankan tradisi "Balimau" itu mencapai ribuan.

Namun sangat miris, makna mensucikan diri tak lagi lekat, tradisi itu kini disalahartikan oleh sebagian besar masyarakat. Bahkan, tradisi itu kini "ternodai" dan telah bergeser menjadi tamasya ke tempat-tempat pemandian yang biasa dilakukan para remaja, seperti modus para muda-mudi berpasang-pasangan untuk pergi berpacaran. Pergi berduaan dengan yang tidak mukhrim, bercampurnya laki-laki dan perempuan di tempat pemandian umum, tentu melanggar nilai adat dan terlarang oleh Agama. 

Sebab dari itu, saat ini tradisi "Balimau" itu tidak dianjurkan, bahkan dilarang. Karena hal tersebut dinilai telah melanggar adat dan agama. Bahkan, tak jarang mereka bermaksiat.

Sebetulnya, dalam menjalankan tradisi ini, perempuan tidak perlu mandi di sungai agar tidak bercampur dengan lelaki, tetapi bisa dilakukan di rumah masing-masing. Namun dalam perkembangan zaman kebiasaan ini berkembang di masyarakat secara tak agamis lagi. Mandi bersama dilakukan di sungai dengan mayoritas alasan sebagai ajang rekreasi sehingga bercampur antara laki-laki dan perempuan. 

Kebiasaan baru inilah yang bertentangan dengan agama Islam, sedangkan pada dasarnya tradisi balimau tidak demikian. Apalah daya, tradisi balimau yang dipercaya sudah ada sejak abad ke-19 pada masa penjajahan Belanda itu kini tinggal simbol semata. (*)


Tag:

Editor :  Devy Diany

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2018



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru