Wapres JK Menilai, Tiga Karakter Minang Alami Penurunan

Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika berada di Universitas Negeri Padang untuk memotivasi para calon enterpreneur kalangan mahasiswa. Sebelum ke UNP, JK meresmikan Pertemuan Ilmiah Tahunan Riset Kebencanaan di Unand.

PADANG (Metrans)

Presiden RI, Jusuf Kalla mengemukakan pendapatnya tentang orang Minang saat ini. Kata dia, sejak lama orang Minang terkenal dengan tiga karakter, sebagai pedagang atau pengusaha yang ulet, pemuka agama, dan para cerdik pandai (cendikiawan). Hanya saja, saat ini ketiga hal tersebut dinilai JK mengalami penurunan.

Menurutnya, ketiga karakter itu muncul karena orang Minang zaman dahulu memiliki salah satu ciri yakni kegigihan dalam memperjuangkan sesuatu. Mereka pejuang yang ulung, dan keingintahuan yang sangat tinggi. Ia menilai semua karakter itu berawal dari dunia pendidikan, baik pendidikan formal maupun non formal (pendidikan surau) saat itu.


“Zaman dulu itu, dari sepuluh masjid di Jakarta, sembilan diantaranya khatibnya berasal dari Minangkabau. Sekarang kebalikannya, bahkan tidak ada lagi orang Minang jadi khatib di Jakarta,” ujar Wakil Presiden RI yang akrab dipanggil JK itu usai menerima piagam Tokoh Penggerak Kewirausahaan Mahasiswa se-Sumatera Barat (Sumbar), di Auditorium Universitas Negeri Padang (UNP), Rabu (2/5).

Ia juga menyinggung, bahwa daerah Sumbar bukan lagi tujuan bagi orang yang ingin mendalami ilmu agama. Semua itu ia nilai sudah berkurangnya pemuka dan tokoh agama dari Sumbar saat ini. Terbukti katanya, saat ini banyaknya masyarakat Minangkabau belajar agama di luar Sumbar.

“Dulu, orang dari provinsi lainnya di Indonesia ini belajar agama di Padang Panjang, saat ini kebalikannya, orang Minang malah belajar agama ke Gontor Jawa Timur. Artinya adanya penurunan kualitas orang Minang sekarang,” sebut JK di hadapan 2.500 mahasiswa kewirausahaan yang hadir.

JK mengakui, dulu banyak para cendikiawan, pemuka agama, pengusaha, sekaligus pejuang yang lahir dari rahim orang Minangkabau ini. Ia menyebutkan zaman dahulu banyak tokoh-tokoh nasional, bahkan terkenal di dunia internasional berasal dari Minangkabau, seperti Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Agus Salim, M. Yamin, Hamka, dan puluhan tokoh lainnya.

Ia menilai tokoh-tokoh Minang zaman dahulu itu dikenal bukan karena fisik atau pedang, tapi karena memiliki kecerdasan. Jadi menurutnya tokokh Minang, sangat berbeda dengan tokoh daerah lainnya yang terkenal karena kehebatannya berperang dan menggunakan pedang.

“Pejuang Minang dulu pintar-pintar. Mereka semua dulu dikenal karena visi serta kecerdasannya, bukan karena membawa pedang,” papar JK saat mendampingi mahasiswa kewirausahaan PTN-PTS se Sumbar ini.

Pada saat itu, Wapres RI ini juga menghimbau agar generasi Minang saat ini bisa mengembalikan kejayaan serta bangkitnya tokoh Minang ke nantinya. Salah satu cara menurutnya, harus dimulai dan diwujudkan dari perguruan tinggi. Jadi ia berharap generasi muda Minang saat ini harus bersungguh-sungguh belajar, berusaha, taat bergama, serta mandiri.

Selain itu, ia menyebutkan jika mahasiswa masih berkeinginan jadi pegawai negeri, setiap tahun paling banyak pembukaan lowongan untuk menjadi pegawai hanya sekitar 50 ribu. Sebaliknya, jumlah lulusan perguruan tinggi setiap tahunnya bisa mencapai 1 juta orang.
"Peluang menjadi pegawai negeri saat ini sangat kecil, hanya 0,5 persen. Sebab, banyak bidang tertentu yang tidak dibutuhkan zaman sekarang, misalnya tukang ketik surat dulu dibutuhkan, tapi saat ini bisa dicopy pastekan saja. Kecuali bidang-bidang tertentu masih dibutuhkan, misalnya guru, bidang kesehatan tertentu, dan lainnya,” paparnya.

Maka dari itu pula, JK sangat mendorong mahasiswa di Sumbar agar giat menjadi pengusaha. Salah satunya dimulai dengan menggeluti kewirausahaan ketika masih aktif di kampus. Ia menilai, dunia kampus merupakan peluang bagi mahasiswa untuk mengembang ide, mencari peluang, serta memperluas jaringan.

“Mahasiswa mulailah berwirausaha, dengan memperbanyak jaringan dengan teman, dosen, atau menimba ilmu dengan pengusaha lainnnya. Jangan hanya bermimpi lagi untuk jadi pegawai, karena peluangnya kecil,” pesannya.

Sementara Rektor UNP, Prof. Dr. Ganefri, Ph.d., menilai bahwa mahasiswa harus didorong terus untuk menggeluti jiwa wirausaha atau enterpreneur demi menguatkan taraf hidup ke depannya. Apabila, semakin banyak lahir wirausaha muda dari daerah Minang, otomatis akan bisa membangkitkan eknonomi masyarakat Sumbar.

Ia Juga menilai, JK layak mendapat penghargaan Tokoh Penggerak Kewirausahaan Mahasiswa dari PTN-PTS di Sumbar. Menurut Ganefri, selama ini JK sudah banyak berkontribusi dalam mendorong mahasiswa di Sumbar untuk menjadi pengusaha. Salah satunya, ia sebutkan Minang Entrepreneur Award (MEA) Tingkat Mahasiswa Sumbar berasal dari inisiatif JK.

“Banyaknya kewirausahaan mahasiswa tidak terlepas dari peran Wapres JK, tahun 2017 yang lalu juga meresmikan MEA, sebagai cikal-bakal melahirkan wirausaha muda dari ranah Minang nantinya,” tutur Ganefri.

Turut hadir dalam kegiatan Pendampingan Kewirausahaan Mahasiswa Tahun 2018 ini, beberapa Kementerian Kabinet Kerja, Gubernur Sumbar, Saudagar Minang, Forkopimda Sumbar, Polda Sumbar, Danrem 032/Wbr, dan civitas akademika UNP, serta perwakilan mahasiswa PTN-PTS se-Sumbar. (why)


Jangan Lewatkan