oleh


Yudi Latif: Pancasila itu Ideologi Terbaik Dunia

PADANG (Metrans)

Ketua Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP), Yudi Latif, MA., mengatakan, Pancasila merupakan ideologi terbaik di dunia. Ia katakan pernyataan itu sesuai pengakuan politisi dari berbagai negara, baik dari negara di Asia, Eropa, maupun Timur Tengah.

“Kita bersyukur punya Pancasila, negara lain saja iri dengan kita. Malaysia sampai saat ini tidak pernah padu dalam kesatuan, baik bangsa Melayu, China, serta India. Di Eropa, dalam satu pulau terdiri banyak negara, di Timur Tengah sampai saat ini masih ada yang perang. Indonesia dari banyak pulau masih bisa bersatu,” ujar Yudi saat Kuliah Umum di Universitas Bung Hatta (UBH), Kamis (1/3).


Dalam Pancasila ia katakan, terdapat tiga ideologi yang seharusnya saling memberi penguatan terhadap keberlangsungan NKRI, yakni Islamis, Nasionalis, dan Sosialis. Ketiga ideologi ini wujud keberagaman dan kemajemukan bangsa yang harus saling melengkapi dalam persatuan bukan meretakkan kesatuan bangsa.

Ia jelaskan lagi, bahwa Pancasila menautkan keberagaman atau perbedaan suku, ras, etnik, agama, ideologi, budaya, warna, serta geografis. Hal ini karena ia menilai di dalam Pancasila merupakan titik temu, pijakan, dan titik tuju untuk membangun kebhinekaan sesuai visi-misi negara yang tertuang dalam UUD 1945 alinea ke-2, yakni menuju warga yang bahagia, adil, sejahtera, dan makmur.

“Pancasila itu wujud kemajemukan, Allah juga telah menuangkan dalam Al-Qur;an bahwa kita diciptakan berbeda-beda. Bila ada yang anti kemajemukan, berarti bisa dikatakan anti Tuhan. Setiap ras, suku, agama, budaya dan lainnya harus dilindungi tanpa perbedaan,” tegasnya.

Lebih lanjut ia paparkan, bahwa di dalam Pancasila mengandung visi kesejateraan umum, bukan kesejahteraan perorangan, konglomerat, dan elit politik saja. Apabila kesejahteraan disetiap lapisan masyarakat tercapai dengan penuh keadilan, artinya visi bangsa sesuai cita-cita tokoh pendahulu tercapai.

Ia menilai perbedaan bukan untuk membatasi segalanya, tapi justru untuk saling melengkapi. Berdasarkan hal itu pula, hendaknya generasi muda mencari titik temu untuk menjaga persatuan dan kesatuan. Hal itu katanya sesuai cita-cita Soekarno-Hatta dalam membangun negara ini agar semua masyarakatnya bisa bahagia.

“Kita perlu menggali kembali bahwa dalam Pancasila terdapat lima isu strategis, yakni pemahaman tentang Pancsaila, eklusivisme, keadilan dan kesenjangan sosial, pelembagaan atau institusionla, dan keteladanan (role model). Jika ini diamalkan, tidak akan terjadi berbagai persoalan kritis tentang kebangsaan saat ini,” sebut Yudi.

Dalam kuliah Umum yang bertemakan “Revitalisasi Ideologi dan Dasar Negara Pancasila bagi Seluruh Komponen Bangsa Guna Menjaamin Kelangsungan NKRI”, ini Yudi juga menyampaikan keteladan pendahulu bangsa, terutama The Founding Fathers yakni Ir. Soekrano dan Drs. Mohammad Hatta yang telah meninggalkan teladan bagi masyarakat saat ini.

Ia mengibaratkan Bung Karno dan Bung Hatta tokoh bangsa yang memberi teladan, sebagai wujud dwitunggal yang tidak dapat dipisahkan satu diantaranya dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dalam artian katanya, Seokarno-Hatta saling melengkapi dalam memperjuangkan cita-cita politik Indonesia untuk merdeka.

“Seokarno-Hatta diibaratkan sayap burung garuda, yang seimbang atau saling melengkapi sebagai wujud keteladanan cita-cita politik untuk kesatuan Indonesia. Bila satu sayap patah, maka tidak akan seimbang, dan negara ini belum tentu ada,” jelasnya di hadapan ratusan mahasiswa di Aula Balairung Caraka Gedung B Kampus Proklamtor I UBH Ulak Karang Padang.

Lebih lanjut, ia menjelaskan Pancasila Bung Hatta merupakan tokoh yang selalu memperjuangkan kemajemukan, kebhinekaan dan keindonesia. Sebaliknya, Bung Karno menekankan persatuan dan kesatuan bangsa. Di sisi lain, Bung Hatta dengan kebeningan dan kedalaman samudera pemikirannya sebagai teladan, sebaliknya Bung Karno semangatnya menjulang tinggi seperti mercusuar.

The Founding Fathers ini mengajarkan perjuangan yang keras mencapai masa depan bangsa. Sesuai pesannya, setiap yang memimpin Indonesia harus memiliki keluasan mental seperti luasnya Indonesia, dan kekayaan rohani sebanyak jumlah penduduk Indonesia,” tambahnya.

Sebelum mengakhiri Kuliah Umum, Yudi berpesan agar generasi muda tidak mudah termakan hoax, sekaligus tidak mudah terpecah-belah keutuhan serta keberagaman yang sudah terjalin puluhan tahun ini. Ia berharap mahasiswa UBH bisa menjadi Bung Hatta masa depan yang nasionalis sekaligus religius, sebab Bung Hatta ialah tower nalar dan nurani Indonesia.

“Jangan mudah diadu domba dan terkota-kotak, jadilah seperti jejak hidup Bung Hatta yang telah memberi keteladanan bagi bangsa ini, dengan persemaian ilmu serta prinsip hidup yang kuat,” tutupnya.

Sementara itu, Rektor UBH, Prof. Dr. Azwar Ananda, MA., sangat mengapresiasi hadirnya Ketua UKP-PIP yang kini telah berganti nama menjadi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini, atas ilmu serta pemahaman tentang Pancasila bagi civitas akademika UBH.

Ia berharap, dengan adanya Kuliah Umum ini semakin menguatkan pemahaman, menumbuhkan, serta mengamalkan semangat kebhinekaan sesuai yang tercantum dalam Pancasila. Selain itu, ia juga mengatakan di kampus juga menanamkan nilai Pancasila dalam mata kuliah Pancasila dan Kewarganegaraan.

Kemudian, ia katakan saat ini UBH memiliki 7 fakultas, dengan 303 dosen, serta 61 diantaranya sudah bergelar doktor. Selain itu, UBH juga dinilai sebagai peringkat 71 pergaruan tinggi swasta terbaik di Indonesia, sekaligus juga rangking 105 secara nasional. Ia menargetkan, tahun 2031 bisa mencapai akreditasi “A” yang kini masih terakreditasi “B”.

“Kuliah Umum ini digelar karena banyaknya isu-isu keretakan Pancasila dengan berbagai kasus kriminalisasi, serta gonjang-ganjing keberagaman akhir-akhir ini. Semoga nilai-nilai Pancasila bisa terusa kita amalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegasnya. (why)


Editor :  John Edward Rhony

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2018



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru