oleh

REVITALISASI RUMAH GADANG

Berbagialah Kaum Suku Koto Dalimo Supayang Tanah Datar

BATUSANGKAR (Metrans)

Berbahagialah kaum suku Koto Dalimo di Nagari Supayang Kecamatan Salimpaung Tanah Datar karena rumah gadang kaum tersebut kini sudah bisa tegak kukub lagi setelah nyaris rubuh dimakan usia.

Kebahagiaan itu terpancar dari wajah KH Datuk Sati, karena rumah gadang itu sudah lama dicitakan untuk bisa tegak kembali seperti ketika dibangun pada tahun 1910. Rumah gadang kaum yang dipimpinnya itu tahun silam terpilih sebagai salah satu objek yang dibantu dalam paket program Revitalisasi Desa Adat (RDA) Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


“Banyak rumah gadang rubuh atau rubuh dimakan usia lantaran tak kuasa anak kemenakan merehabilitasi. Biaya untuk membangun rumah gadang memang tak sedikit. Tapi syukurlah ada perhatian dari pemerintah,” kata Datuk Sati.

Akan halnya rumah gadang milik kaum Datuk Sati ini dari cerita yang diterima turun temurun pertama kali dibangun oleh tukang bernama Katik dari Tungka. Tungka adalah kawasan yang tak jauh dari Nagari Supayang.

Layaknya rumah gadang tempo dulu, pada umumnya merupakan rumah gadang yang bahannya hampir seratus persen kayu. Satu persatu para tungganai di rumah gadang mulai berkembang hidup dan meninggalkan kehidupan komunal yang menjadi ciri utama sistem kekerabatan begenre matrilinial di Minangkabau. Mereka pun membuat rumah untuk keluarga kecilnya masing-masing. Maka tinggallah dengan kesepiannya rumah gadang yang tadinya dihuni beberapa keluarga.

Rumah tak berpenghuni biasanya terbawa lapuk, ruhnya juga ikut meninggalkan bangunan. Maka satu persatu rumah gadang itu tinggal sepi, tempat ngengat dan kumbang hitam berpesta menggirik kayu-kayu bangunan. “Rumah gadang pun tak bisa menghindarkan kehancurannya,” kata Datuk Sati.

Satu di antaranya mulai dibangun kembali pada paruh 2018 dan selesai Februari 2019 ini. Ya, rumah gadang Datu Sati inilah. Rumah tersebut diberi nama Rumah Gadang Kaum Datuak Sati direvitalisasi melalui bantuan pemerintah dengan program bernama revitalisasi desa adat 2018 dari Dirjen Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Kini rumah gadang itu ditegakkan lagi dengan ukuran lima ruang. Di tengah-tengah ada anjung, menandakan ini adalah rumah dari kelarasan Koto Piliang yang ujung dan pangkalnya dibuat berundak-undak tempat bangsawan dan ninik mamak didudukkan dalam perjamuan.

Pelengkapnya, di halaman rumah gadang dibangun pula sebuah rangkiang. Rangkiang dalam diksi adat adalah tempat menyimpan logistik untuk anak kemenakan. Meskipun di zaman sekrang itu hanya artifisial, tetapi setidak-tidaknya rumah gadang yang dilengkapi rangkiang di halaman adalah rumah gadang yang komplit. Apalagi kalau ada lesung batu dan hamparan tempat ayam bermain.

"Alhamdulillah kini sudah selesai, tinggal katam haluih saja lagi. Agak susah juga kita mencari tukangnya karena kesulitan utama adalah ketika membentuk dan memasangb gonjong. Untuk memasang gonjong kita harus bayar tukangnya Rp200ribu sehari,” kata Datuk Sati.

Menurutnya, kelak , karena fungsi untuk tempat tinggal komunal tidak ada lagi, maka rumah gadang ini akan dijadikan tempat bermusyawarah oleh kaum. Selain itu apabila ada yang herelat, tentu bisa menggunakan atas persetujuan kaum. (eko)


Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru