oleh



BI Beri Masukan Kinerja Sektor Pertanian untuk Sumbar

PADANG (Metrans)

Bank Indonesia sadar betul sektor pertanian perlu mendapat sokongan untuk peningkatan produksi sekaligus sebagai upaya pengendalian inflasi daerah.  Untuk itu, BI Sumbar menggelar diskusi mengenai Sinergi Pengendalian Permasalahan Pertanian dengan Pengendalian Inflasi.

“Sumatera jadi catatan BI dalam pengendalian inflasi. Pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang cukup besar dalam mempengaruhi pertumbuhan ekonnomi di Sumbar,” kata Kepala Perwakilan BI Sumbar Puji Atmoko dalam diskusi Kamis (6/4) pagi di Padang.


Lebih jauh dikatakan, fluktuasi inflasi Sumbar tinggi terutama disebabkan oleh faktor gangguan produksi pangan akibat cuaca dan kenaikan tarif angkutan udara pada momen tertentu. Secara tahunan, dikatakan, fluktuasi laju inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) Sumbar merupakan cerminan tingginya fluktuasi kelompok volatile foodi yang sangat dipengaruhi oleh pasokan dan distribusi bahan makanan.

Fluktuasi juga terkait dengan tantangan dalam ketahanan pangan, yaitu peningkatan produksi dan pasokan, infrastuktur pertanian, pembiayaan, distribusi logistik dan tata niaga, serta struktur pasar.

“Dalam hal tantangan infrastruktur, terlihat Sumbar membangun lahan irigasi seluas 6.260 ha, namun melakukan rehabilitasi irigasi hanya pada 6.279 hektar. Untuk tantangan pembiayaan, level hulu kegiatan budidaya, yang memerlukan dukungan pembiayaan Lembaga Keuangan, justeru dinilai masih paling beresiko karena kelemahan faktor kelembagaan dan jaminan,” ungkap Puji.

Berdasarkan kajian yang dilakukan BI Sumbar, Puji menyampaikan beberapa hal diajukan untuk rekomendasi kebijakan.

“Rekomendasi kebijakan yang Kami berikan adalah perlunya peningkatan kelembagaan petani, memperbaiki tata niaga distribusi dan logistik, dan menjaga kecukupan pasokan serta permintaan. Pemasangan informasi harga oleh pemerintah perlu dilakukan,” ujarnya.

Dalam kegiatan diskusi yang digelar BI dan dihadiri pula oleh Gubernur Sumbar Irwan Prayitno yang juga memberikan pemaparannya, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga memberi input berupa success story kinerja pertanian yang dilakukan provinsi tersebut.

Dalam diskusi tersebut, Pemprov Jawa Tengah, diwakili Staf Ahli Gubernur Jawa Tengah Bidang Kedaulatan Pangan, Whitono, mengungkapkan beberapa item penting. Keberhasilan Jawa Tengah mengantarkan petani mendapat penguatan modal tanpa perlunya agunan menjadi masukan berarti yang bisa ditiru Sumbar.

“Pengendalian inflasi Kami lakukan dengan upaya-upaya berupa pengembangan klaster pengendalian inflasi komoditas bawang putih, kampung cabai inovatif, menggelar pasar murah dan operasi pasar, kerjasama perdagangan antardaerah, berbagai program pengelolaan ekspektasi masyarakat, optimalisasi pantauan harga dan pasokan harga melalui SIHATI (red-aplikasi mobile phone berbasis android yang sudah diinstalkan kepada 35 Kepala Daerah dan Ketua TPID kota/kabupaten se-Jawa Tengah),” jelasnya. (yyn)


Editor :  John Edward Rhony

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2018



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru