oleh

INI MARKISA, BUKAN MANGKISEK

Buah Khas Kabupaten Solok Terancam Menghilang

Keberadaan salah satu buah khas Kabupaten Solok, markisa, terancam! Petani mulai melengahkan ladang-ladang markisa dan menggantinya dengan komoditi lain. Perhatian dari Pemkab Solok terkesan tidak ada untuk menyelamatkkan buah yang hanya tumbuh subur di wilayah selatan Kabupaten Solok ini.

Laporan: RIJAL ISLAMY - Solok

Selama ini, Kabupaten Solok dikenal dengan julukan "Bumi Markisa".Julukan ini menjadi sangat khas, karena daerah ini menjadi satu-satunya di Indonesia dan bahkan di dunia yang menghasilkan buah endemik ini. Buah markisa memang dihasilkan sejumlah daerah di Indonesia dan dunia. Tapi harus diingat, markisa itu tidak sama dengan markisa yang tumbuh di Solok.


Markisa yang tumbuh di wilayah Alahan Panjang, Danau Kembar, Air Dingin dan daerah-daerah sekitarnya, adalah markisa berasa manis dan bisa langsung dimakan. Berbeda dengan markisa yang tumbuh di Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sulawesi dan daerah lain di Indonesia. Serta markisa yang berasal dari Brazil, Ekuador, Peru, Kolombia, Argentina, Kenya, Burundi, Zimbabwe dan Afrika Selatan. Semuanya berasa asam dan tidak bisa langsung dikonsumsi. Harus dibuat dulu menjadi jus.

Kendala utama pemasaran markisa khas Solok adalah daya tahan buah tersebut. Serta tidak banyaknya olahan yang bisa dilakukan. Termasuk untuk dijadikan sirup. Sementara markisa yang berasa asam, pemasarannya lebih baik, karena lebih banyak dijual berbentuk olahan, terutama sirup dan jus instan. Akibatnya, pemasaran markisa Solok, hanya berbentuk penjualan di lapak-lapak pedagang di tepi jalan Solok-Padang dan Lubuk Selasih-Solok Selatan. Serta di pasar-pasar tradisional di Kabupaten Solok.

Awalnya, markisa Solok tidak bisa dijadikan sirup. Penyebabnya, tingginya kandungan gula pada buah itu, sehingga tidak bisa bertahan lama. Namun, beberapa tahun lalu, salah seorang pegawai Badan Penelitian Teknologi Pertanian (BPTP) Sumbar di Sukarami Solok menemukan formula dan berhasil membuat markisa menjadi sirup dan bisa bertahan hingga 2-3 tahun, seperti layaknya markisa asam. Namun, hingga saat ini, tidak ada lanjutan dari hasil penelitian tersebut.

Saat ini, minat petani untuk menggarap tanaman maskisa di kawasan Alahan Panjang dan sekitarnya kian melemah. Akibatnya, komoditi buah markisa dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Masyarakat banyak mengganti ladang-ladang markisa ke komoditi lain seperti bawang, kopi, kubis (lobak) dan tanaman palawija lain.  Jika kondisi berlanjut, Kabupaten Solok terancam kehilangan ikon atas buah yang super manis itu.

Minimnya minat masyarakat menggarap markisa di sekitar kawasan Danau Kembar dan Alahan Panjang mulai berlangsung sejak tahun 2005 lalu. Pasca hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Talang.

"Setelah peristiwa itu, tanaman markisa tidak lagi dapat tumbuh subur seperti diharapkan, dan hasil panen pun anjlok.  Berkemungkinan memang kondisi tanah tidak lagi cocok untuk markisa, sehingga kami terpaksa beralih ke tanaman lain jenis sayur-sayuran," ujar Sisam (55), seorang petani di Nagari Kampuang Batu Dalam, Kecamatan Danau Kembar.

Dijelaskan bapak empat anak itu, menggarap tanaman sayuran seperti lobak, kentang, bawang, dan cabai, jauh lebih menjanjikan ketimbang markisa, meski sesungguhnya proses perawatannya terbilang rumit, perlu penanganan ekstra.

Selain itu, Sisam juga mengatakan proses pemasaran buah markisa saat ini sudah tidak ada jaminan. Setelah dipanen terkadang terpaksa dibiarkan membusuk di ladang. Berbeda dengan waktu-waktu sebelumnya, dalam waktu seminggu tetap ada tauke lokal maupun dari dari luar daerah datang untuk membeli, untuk selanjutnya dikemas dan dibawa menggunakan armada truk ke berbagai daerah dan diekspor ke luar negeri.

Truk-truk yang melintas tiap hari di jalan Solok-Alahan Panjang pun sekarang lebih dominan mengangkut sayuran, jarang dijumpai mengangkut markisa.  Padahal dahulunya berdasarkan penuturan orang-orang di perantauan, buah markisa Alahan Panjang menguasai pasar minimarket di Batam dan Jakarta, bahkan luar negeri.

Anggota DPRD Kabupaten Solok Kasmudi Z menilai, memudarnya minat masyarakat menggarap tanaman markisa dan mengalihfungsikan lahannya ke komoditi sayuran, merupakan ancaman serius bagi Kabupaten Solok sendiri. Kasmudi mengharapkan Pemkab Solok mengambil kebijakan tegas.

"Markisa adalah ikon Kabupaten Solok. Kondisi alam tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak peduli. Masih banyak upaya dan solusi yang bisa ditempuh," ujar politisi Partai Golkar dari Sungai Nanam tersebut.

Sementara itu, Bupati Solok, Gusmal, mengaku pihaknya tetap berupaya mencari kiat-kiat untuk mengantisipasi kepunahan buah markisa ini. Meski begitu, Gusmal enggan merinci lebih jauh upaya-upaya yang telah  dan akan dilakukan Pemkab Solok.

"Nanti kita koordinasikan ke Dinas Pertanian. Yang jelas, kita tetap berupaya agar buah khas daerah ini tidak punah," ujarnya. (*)


COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru