Bukit Tui Padang Panjang Rengkah Sekitar 60 Cm

Kondisi Bukit Tui yang rengkah

PADANG PANJANG (Metrans)

Keberadaan Bukit Tui yang merupakan bukit kapur di selatan Kota Padang Panjang, Provinsi Sumatera Barat, yang berada di Keluarahan Tanah Hitam, Padang Panjang Barat, kini mulai dikhawatirkan sekitar 350 Kepala Keluarga (KK) yang mendiami daerah itu. Sebab, bukit yang pernah dihondoh galodo pada 4 Mei 1987 lalu, kondisinya rengkah dengan kedalaman 1,5 meter, lebar 60 centi meter.

Kekhawatiran masyarakat cukup beralasan, sebab rengkahan besar pada bukit dengan ketinggian 780.0 meter itu, kini panjangnya sudah mencapai sekitar 20 meter.


Rengkahan besar itu ditemukan oleh warga di ladang salah seorang warga RT 05, Kelurahan Tanah Hitam, Yusuf (60).

Fakta itu membuat masyarakat setempat cemas, karena mereka masih trauma atas peristiwa Galodo Bukit Tui, yang menelan ratusan korban jiwa puluhan tahun lalu itu.

Sekretaris LPM Kelurahan Tanah Hitam, Firmansyah, mengatakan, berita rengkahan besar di lereng Bukit Tui tersebut, telah beredar sejak Sabtu 27 Januari 2018 lalu.

“Jika rengkahan Bukit Tui, mencapai lebar 60 centi meter, panjang rengkahan lebih kurang 20 meter, jelas telah menjadi ancaman serius bagi warga setempat,” kata dia.

Untuk itu, dia berharap Pemerintah Kota Padang Panjang, harus cepat tanggap menyikapi fakta ini.

“Jika rengkahan itu berpotensi terjadinya longsor, jelas sekitar 350 KK yang terdiri dari RT 4, 5, 6, 12 dan 13 akan menjadi korbannya,” kata Firmansyah.

Menanam rumpun bambu

Guna mengantisipasi terjadinya longsor dan terban akibat adanya rengkahan permukaan Bukit Tui tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat bersama tim gabungan dari TNI/Polri dan masyarakat melakukan penanaman bambu di titik tersebut, Rabu (31/1).

Dalam kegiatan yang juga melibatkan personil Pol PP dan Damkar serta pihak kelurahan dan LPM tersebut, langkah yang diambil adalah melakukan pembenahan kondisi tanah yang labil akibat hamtaman air.

Permukaan rengkahan yang diperkirakan bakal terban jika dihantam aliran air tersebut, dilakukan pembabatan dan 80 meter dari galian diisi dengan menanam rumpunan bambu.

Kepala BPBD dan Kesbangpol Kota Padang Panjang, Erizal mengatakan, upaya penanganan terhadap rengkahan permukaan Bukit Tui yang berada pada 820 meter di atas permukan laut (mdpl) itu, yakni dengan menormalisasi kontur retakan.

“Tim gabungan membabat tanah yang berpotensi terban, agar tidak menimbulkan risiko jika terjadi hujan,” kata dia.

Dia menjelaskan, kondisi retakan yang mengakibatkan adanya kontur tanah yang berpotensi terban, sengaja dibabat agar tidak menjadi pemicu longsor.

“Permukaan labil dan lubang yang ada, kita timbun dengan tanah dengan ditanami bambu untuk menjaga stabilitas serapan air,” ungkap Erizal didampingi Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD, Ferino Romiko.

Langkah yang diambil itu, kata dia, telah teruji dalam penanganan retakan perbukitan di kawasan pemukiman di Nagari Singgalang pada tahun 2009, yang timbul akibat gempa 2007. Bedanya di Bukit Tui, rengkahan permukaan bukit diakibatkan karena adanya jalan air yang secara kontiniu menggerus permukaan.

“Kita pengalaman dulu saat menangani tanah rengkah di Singgalang yang mencapai panjang 400 meter. Di atas pemukiman juga, tahun 2009 setelah gempa 2007, solusinya seperti itu juga dengan menutup lobangnya, kemudian ditanami bambu. Di Bukit Tui, hanya karena kebetulan tepat berada di jalan air yang terbentuk secara alamai di permukaan bukit,” jelas Erizal.

Pasca penanganan ini, Erizal menyebut akan melakukan pengamatan secara rutin, guna mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan. Hal ini juga mengingat Padang Panjang merupakan daerah yang sangat sulit diprediksi intensitas hujannya.

“Setelah ini, kami akan selalu memantau. Baik itu keadaan permukaan, juga perkembangan bambu yang ditanam,” pungkasnya. (pul)


Jangan Lewatkan