DITANGKAP DI MOJOKERTO

Cerita Polwan Pemberani, Memimpin Penangkapan Pembunuh Sadis di Solok

Inilah sosok Ipda Fika Putri Pamungkas yang memimpin penangkapan pembunuh sadis di Transad, Kota Solok,yang menangkap dua tersangka di Mojokerto, Jawa Timur.

SOLOK (Metrans)

Kanit PPA Sat Reskrim Polres Solok Kota, Ipda Fika Putri Pamungkas memimpin penangkapan pembunuh sadis di Transad, Kota Solok. Bagaimana kisah Ketua Tim Command Center Polres Solok Kota menangkap dua tersangka di Mojokerto, Jawa Timur itu?

Pesawat Lion Air lepas landas dari Bandara Internasional Minangkabau (BIM) menuju Bandara Juanda Surabaya, Selasa (13/3). Di dalamnya ada lima penumpang tak biasa yang ikut serta di penerbangan tanpa transit di Bandara Soekarno-Hatta Jakarta tersebut.


Kelimanya adalah Ipda Fika Putri Pamungkas, Aiptu Fredy Iskandar, Brigadir Rahardian Gani, Briptu Tomi Januardi dan Bripka Adi Saputra.

Kelimanya ditugaskan khusus oleh Kapolres Solok Kota untuk mengejar dua tersangka pembunuhan sadis di Kawasan Transad, Kelurahan Ampang Kualo, Kota Solok. Keduanya diyakini lari ke kampung halamannya di Mojokerto, Jawa Timur.

Tim dari Kota Solok ini mendarat sekitar jam 19.00 WIB di Bandara Juanda, dan langsung menuju Kabupaten Mojokerto. Sesampainya di kota itu, tim langsung berkoordinasi dengan Polres Mojokerto dan Polda Jatim.

Bahkan, tim langsung ke desa Gentong, Kecamatan Dlanggu. Desa itu menjadi sasaran akhir karena merupakan kampung halaman dua tersangka, Awi Suyatno (41) dan keponakannya, Alfredi (17).

Di Desa Gentong, tim menginterogasi Salikan yang merupakan teman Awi Suyatno. Dari interogasi itu, Salikan mengaku menjemput Awi ke terminal bus dan mengantarkan keduanya ke rumah kakak kandung Awi, Pardi. Kedua tersangka tersebut sempat dua hari menginap di rumah Pardi. Namun, kabar pembunuhan di Transad Kota Solok yang melibatkan Awi dan Alfredi, membuat keduanya diusir dari rumah Pardi.

(Baca juga: Faktor Cemburu, Dua Tersangka Kasus Pembunuhan di Solok Ditangkap di Mojokerto)

Tim kemudian melakukan pencarian dan interogasi di tempat saudara kandung Awi yang berjumlah 7 bersaudara. Interogasi tersebut sempat bocor ke telinga tersangka, sehingga keberadaan keduanya sudah tidak diketahui lagi. Namun, dengan pendekatan ke pihak keluarga, terbentuk rembukan untuk sama-sama mencari Awi.

"Dari pengakuan Pardi, saat diusir dari rumahnya, dirinya sempat mengantarkan Awi dan Alfredi ke sebuah tempat di Desa Gentong, dekat ladang tebu. Kami mencari ke segala tempat yang mungkin digunakan kedua tersangka untuk tinggal dan beristirahat sementara. Termasuk di ladang tebu yang luas dan pekuburan. Kami berfikiran positif mereka tidak akan pergi jauh, karena keduanya tidak punya uang dan transportasi susah," ujar Fika.

Di tengah optimisme tersebut, pencarian mendapati jalan buntu. Sekitar jam 02.00 WIB, anggota tim mulai frustasi. Mereka duduk berkumpul dan diliputi keputusasaan. Berbagai ide mulai muncul dan salah seorang di antara mengusulkan membawa saudara-saudara tersangka untuk ikut mencari dan memanggil nama Awi ke ladang tebu yang luas dan tinggi tersebut.

"Sekitar jam 03.00 WIB, ada yang menyahut dari tengah ladang. Sia ko? (siapa ini?). Lalu dijawab Pardi: Pak Uwo (bapak paling besar). Sekitar 10-15 menit kemudian, Awi dan Alfredi muncul di pinggir ladang. Kita langsung melakukan penangkapan. Keduanya ditangkap tanpa perlawanan," ungkapnya.

Namun, saat Awi dan Alfredi sudah ditangkap, justru Pardi yang lemas dan tak sanggup berjalan melihat adiknya ditangkap. Akhirnya, salah seorang anggota tim terpaksa menggendong Pardi ke jalan raya. Kedua tersangka kemudian dibawa ke Mapolres Mojokerto. Ketua tim kemudian memesan tiket pesawat pulang ke Padang.

Di Bandara Juanda Surabaya, rombongan mendapatkan protokoler membawa tersangka kriminal. Mereka dikawal tim Polres bandara dan ditaruh di tempat duduk khusus di bagian belakang pesawat. Rombongan akhirnya mendarat di Bandara Internasional Minangkabau sekitar jam 5.00 WIB, dan langsung menuju Mapolres Solok Kota. (rzl)


Jangan Lewatkan