oleh



Demi Lunasi Utang yang Mendesak, Pria di Padang ini Rela Donorkan Ginjalnya

PADANG (Metrans)

Kerasnya hidup dan lilitan utang serta dikejar-kejar oleh yang meminjamkan uang, memaksa Maas Sabirin rela kehilangan ginjalnya demi lunasnya seluruh utang yang harus dibayarkan.

Tak hanya ingin merelakan ginjal, pria berusia 38 tahun ini mengatakan, apapun itu, akan dilakukannya demi melunasi seluruh utangnya. Baik utang kepada bank, rentenir, maupun utang pribadi kepada seseorang.


"Apapun itu, selagi halal akan saya lakukan demi melunasi seluruh utang saya. Meskipun saya harus rela mendonorkan ginjal atau harus mengabdi seumur hidup menjadi tukang sapu di rumah orang yang membantu saya, saya rela," kata dia kepada Metrans, Sabtu (22/6).

Ia merinci, seluruh utangnya, baik kepada bank, rentenir, ataupun utang dengan orang pribadi, nilainya sebanyak Rp959 juta. Sedangkan utang yang sifatnya mendesak dan harus dibayarkan dalam waktu dekat ini sebanyak Rp521 juta.

"Totalnya banyak seperti itu karena berbagai faktor. Terakhir waktu saya menjadi Kepala Cabang di PT. Mega Finance Padang, saya mengalami banyak permasalahan sehingga harus meminjam kesana-kemari. Ditambah lagi masalah saya ketika bisnis trading forex (transaksi jual beli mata uang asing-red)," kata dia.

Di segi prestasi pengalaman kerja dan jenjang karir, ayah satu anak ini boleh dikatakan sukses memimpin divisi yang ia pegang dulunya. Betapa tidak, pada tahun 2005, dari seorang surveyor di FIF Cabang Padang, hingga pada tahun 2014, ia dipercaya sebagai Unit Head FIF Bandar Buat.

Kala itu, dia juga pernah mempunyai tiga dealer sepeda motor di Kota Padang. Ia juga tercatat pernah 3 kali mendapat piagam credit analyst. Bahkan ia juga pernah menyabet juara terbaik tingkat nasional sebagai Unit Head di FIF Cabang Padang.

Di sela padatnya kegiatan waktu itu, pada tahun 2012 hingga 2014, ia juga berhasil menguasai bisnis trading forex. Dua tahun sudah, ia menikmati hasil dari bisnis trading forex itu. 

Tak sampai di sana, setelah mengakhiri karirnya sebagai Unit Head di FIF Bandar Buat, tahun 2014 hingga tahun 2015 dia mulai bergabung di Mega Finance Sumatera Barat dan dipercaya sebagai Koordinator Area Marketing. Hingga pada tahun 2015 hingga 2018, ia dipercaya sebagai Kepala Cabang Mega Finance di Kampung Kalawi Kecamatan Kuranji, Kota Padang.

"Ya begitulah namanya pekerjaan. Semenjak tahun 2018, semua hancur lebur. Semua harta dan aset sudah habis saya jual untuk itikad baik melunasi utang. Baik itu tanah hingga motor dan mobil. Insyaallah saya akan bangkit kembali dan saya akan mengikhlaskan organ tubuh saya kepada yang bisa membantu," jelasnya.

Lebih lanjut kata dia, semua cara dan usaha telah dilakukan. Namun belum membuahkan hasil sedikitpun. Kini, dia harus tinggal di sebuah Mushalla di Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah.

"Ya beginilah saya sekarang. Harus menginap di Mushalla ini. Namun saya optimis dan yakin, setelah saya terbebas utang, saya masih bisa bangkit seperti dulu lagi. Untuk donasi, langsung saja ke rekening BRI saya di 724101002905538," ucapnya sedih.

Risiko Donor Ginjal

Secara umum dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan risiko kejadian gagal ginjal tahap akhir pada donor ginjal hidup dan preeklampsia pada wanita donor ginjal hidup dibandingkan dengan populasi sehat non-donor. 

Walau demikian, peningkatan ini masih sangat kecil dengan number needed to harmsebesar 373,1 atau dengan kata lain 1 dari 373 donor hidup akan mengalami penyakit ginjal stadium akhir.

"Terkait risiko gagal ginjal stadium akhir pasca nefrektomi pada donor hidup, risiko tersebut semakin meningkat khususnya pada individu keturunan kulit hitam, usia lebih dari 60 tahun, jenis kelamin laki-laki, serta yang memiliki indeks massa tubuh yang tinggi," kata dr. Sunita dilansir dari alomedika.com.

Sementara itu, kata dia, untuk risiko preeklampsia, pengaruh latar belakang etnis tertentu serta variasi kriteria yang digunakan secara klinis untuk mendiagnosis hipertensi dalam kehamilan dan preeklampsia masih membatasi pemahaman ilmuwan tentang kejadian preeklampsia pada donor ginjal hidup. 

"Mengingat berbagai studi tentang estimasi risiko kesehatan pada donor ginjal hidup berasal dari basis data di pusat transplantasi ginjal di negara maju, sebuah penelitian yang menggunakan populasi penduduk Indonesia perlu dilakukan untuk membuat suatu metode estimasi risiko yang lebih akurat bagi donor ginjal hidup di Indonesia. Hal ini penting untuk memberikan informasi yang tepat bagi pembuatan keputusan yang lebih baik oleh donor ginjal hidup di Indonesia pada masa yang akan datang," tutupnya. 

[Raihan Al Karim]


Tag:

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru