oleh

KULIAH UMUM DI UNP

Dirjen GTK: Guru Harus Kreatif dan Inspirastif

PADANG (Metrans)

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud-RI), Sumarna Surapranata, Ph.D mengatakan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) harus mampu melahirkan tenaga pendidik yang kreatif dan inspiratif.

Pernyataan itu disampaikan dalam kuliah umum yang bertemakan “Kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam Meningkatkan Kompetensi Guru”, di Gelanggang Olah Raga (GOR) Universitas Negeri Padang (UNP), Selasa (20/12).


“Jika guru yang kreatif dan inspiratif maka 60 persen persoalan di dalam kelas sudah terselesaikan. Sebagus kurikulum, selengkap apapun perangkat pembelajaran, dan secanggih apapun teknologi yang digunakan, apabila gurunya tidak kreatif dan inspiratif tidak akan mampu mendidik generasi dengan baik,” jelasnya.

Dalam kuliah umum yang dihadiri ratusan guru SD, SLTP, SLTA se-kota Padang dan ratusan mahasiswa tersebut, Dirjen GTK pun mengatakan guru profesional juga harus mampu mengembangkan entrepreneurship. Menurutnya apabila guru mempunyai jiwa wirausaha, akan menggerakkan siswanya untuk kreatif dan mandiri.

Kemudian ia juga mengatakan bahwa calon kepala sekolah juga mutlak harus memiliki jiwa wirsausaha. Ia berpendapat bahwa kepala sekolah yang memiliki jiwa wirausaha, persoalan di sekolah bisa diselesaikan, termasuk dalam mencari dana untuk pembangunan sekolah, tanpa harus merengek ke pemerintah.

Dirjen GTK pun meyakinkan pada 20 atau 30 tahun mendatang Indonesia akan menjadi tujuh negara raksasa dunia, asalkan setiap orang harus mengutamakan pengelolaan pendidikan. Hal itu ia berpijak bahwa 20 hingga 30 mendatang jumlah penduduk Indonesia akan mencapai 300 juta jiwa, dengan usia produktif 200 juta jiwa.

“Kita harus yakin, sekitar 20 tahun mendatang bangsa ini akan diisi oleh generasi muda yang usia produktif, sebab umur 17 atau 18 mereka sudah menjadi mahasiswa, sehingga sebelum umur 30 sudah banyak yang magister atau doktor. Salah satu LPTK yang akan mencetakanya  yaitu UNP,” paparnya.

Selain itu, ia juga mengatakan guru harus terus belajar, tanpa harus menunggu pelatihan, atau penugasan. Guru harus mampu memperbaharui diri dengan terus-menerus dengan berbagi cara. Guru profesional juga harus mampu menggali bakat dan minat peserta didik. Sebab menurutnya percuma guru pintar tetapi tidak mampu menjadikan siswanya menjadi pintar.

“Guru memang dituntut profesional, sebab 30 persen penentu kualitas pendidikan di sekolah ditentukan oleh guru. Sebab, saat ini kuantitas guru di Indonesia sebanyak 2.922.826 tapi kualitasnya masih belum mumpuni. Jadi, salah gebrakan pemerintah mencetak guru yang profesional, kreatif, dan mandiri ialah dengan program SM3T, sekaligus untuk pemerataan guru ke berbagai daerah,” pungkasnya.

Sementara Rektor UNP, Prof. Dr. Ganefri, Ph.D menyatakan pihak UNP terus berupaya untuk melahirkan calon guru profesional, dengan meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan standar nasional. Apalagi menurutnya UNP salah satu LPTK yang aktif menyiapkan calon guru di wilayah SM3T.

“UNP terus terus menyiapkan calon pendidik yang profesional, dan berkulitas. Selain itu, disamping mencetak calon pendidik, UNP terus bertransformasi menjadi researh universty, sekaligus menumbuhkan jiwa entrepreneur pada mahasiswa,” jelasnya. (why)


Tag:

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru