oleh



Dosen UNP Gelar Pengabdian Masyarakat, Beri Solusi Penyelesaian Sengketa Keagrarian

PADANG (Metrans)

Dosen Universitas Negeri Padang (UNP) melaksanakan observasi dan pengabdian masyrakat di Nagari Pauh Duo Nan Batigo, Kabupaten Solok Selatan. Pengabdian masyarakat berjudul "PkM Solusi Cerdas Kenagarian Pauh Duo Nan Batigo, Kabupaten Solok Selatan dalam Penyelesaian Sengketa Keagrarian" ini digelar pada Juni hingga Oktober 2019.

Ketua Tim Pelaksana, Prof. Dr. Azwar Ananda, MA mengatakan, pengabdian masyarakat ini digelar dalam rangka penerapan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 7 Tahun 2018 tentang perlunya penataan wilayah nagari, dengan memperjelas posisi ulayat (tanah adat) kaum, suku dan nagari sebelum dilahirkan Perda Nagari Kabupaten Solok Selatan.


"Nagari bersama lembaga Kerapatan Adat Nagari (KAN) harus membuat ranji dan alas hak terhadap tanah adat sebelum didaftarkan ke Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten," kata Azwar Ananda didampingi tiga anggotanya yakni, Dr. Drs, Akmal. SH, M.Si, Henni Muchtar, SH, M.Hum dan Zaki Farid Luthfi, S.Pd, M.Pd di Kyriad Hotel Bumiminang, Sabtu (20/7) sore.

Di hadapan puluhan peserta, beserta Camat dan Wali Nagari Pauh Duo Nan Batigo, ia mengatakan, aset nagari yang terpencar-pencar dapat dikelola oleh Nagari menurut Perda Nomor 7 Tahun 2018. Perda ini, kata dia, menyatukan kembali konsep nagari (pemerintahan dan adat). Di mana saat ini, hanya mengelola pemerintahan tanpa adat. Sengketa ulayat atau tanah adat, kata dia, dapat menggunakan peradilan adat. 

"Pemanfaatan tanah adat dapat menggunakan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria dan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) dengan memperhatikan Perda Nomor 6 Tahun 2008 dan Perda Nomor 7 Tahun 2018 tentang Nagari (penyatuan nagari pemerintahan dan nagari adat)," lanjutnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, perjanjian awal tentang penggunaan tanah adat dapat dikembalikan dengan sistem sewa, bagi hasil, atau sistem saham. 

"Kabau pai, kubangan tingga. Seperti pengelolaan tanah adat Keraton, Yogyakarta. Jika investor valid atau berakhir, maka tanah adat dikembalikan kepada pemiliknya," kata dia lagi.

Ia menyebut, pengabdian masyarakat ini akan kembali dilanjutkan dalam waktu dekat, dengan tokoh masyarakat Nagari Pauh Duo Nan Batigo pada pertemuan berikutnya. 

[Raihan Al Karim]


Tag:

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru