oleh

DI STIE AGUSSALIM

Gamawan Fauzi: Pemimpin Modern Jangan Terjebak Yesterday Logic

Beromantis-ria mengenang kehebatan masa lalu tentu baik saja, tetapi jangan terjebak dengan itu lalu lupa menyiapkan masa depan. Pemimpin modern mesti memiliki kemampuan membangun inovasi bersama-sama orang dipimpinnya.

BUKITTINGGI (Metrans)

Menjadi pemimpin masa kini tanpa memahami perubahan dahsyat dunia, akan membuat pemimpin ditinggalkan oleh masyarakatnya yang justru sudah jauh berpikir dan bertindak ke depan.


"Pemimpin hari ini tidak boleh hanya terperangkap dalam pikiran yesterday logic. Masa lalu telah berlalu, ia tidak untuk sekedar dikenang-kenang melainkan untuk jadi tempat bertumpu bahwa masa depan akan datang menghampiri kita dengan segela pembaruannya," kata mantan Mendagri Dr. H. Gamawan Fauzi.

Menurut dia, pemimpin yang memahami bahwa revolusi demi revolusi terus bergulir dengan cepat, ya teknologi, sains, ekonomi bahkan budaya, semuanya mempengaruhi pola tindak memimpin dan kepemimpinan,” ujar dia ketika berbvicara di stadium general Program Studi Magister Manajemen Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) H.Agus Salim Kota Bukittinggi kemarin.

Kuliah umum bertajuk “Peluang dan tantangan peningkatan kapasitas leadership pejabat publik”, berlangsung di kampus pascasarjana Jl. Veteran Bukittinggi, dibuka langsung oleh Ketua Pascasarjana STIE  Haji Agus Salim Bukittinggi Dr.Heliyani, S.E.,M.M, dihadiri Direktur Program Magister Manajemen STIE Haji Agus Salim, Dr.Yulihasri,S.E.,M.B.A dan seluruh civitas akademika STIE H.Agus Salim serta diikuti sebanyak 80 mahasiswa pascasarjana.

Gamawan kemudian menyebutkan bahwa menjadi pemimpin zaman sekarang tanpa visi, maka ia akan tergulung oleh zaman. Dalam pusaran global saat ini segala hal yang dulu berada di tangan seorang pemimpin langsung, sekarang sudah semakin terbagi.

"Misalnya pemimpin pemerintahan, jangan dikira sekarang mesti semua urusan ada di tangan seorang Bupati atau Gubernur. Tata kelola pemerintahan modern justru semakin sedikit pemerintah itu ‘memerintah’ semakin baiklah pemerintahan. Tapi itu tergantung bagaimana pemimpin birokrasi mampu membagi urusannya kepada publik. Tak masanya lagi semua urusan ditangan oleh pemimpin pemerintahan. Got tersumbat lapor ke Walikota juga, urusan izin usaha ke Bupati juga, bertengkar suami istri urusan sampai juga ke Gubernur misalnya. Mesti sudah kita pikirkan ada urusan-urusan yang bisa diatasi masyarakat diatasi oleh masyarakat, dengan demikian urusan pemimpin pemerintahan adalah urusan yang strategis saja, urusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak saja," kata mantan Gubernur Sumatera Barat itu.

Pada institusi swasta, pemimpin masa kini juga tidak lagi sekedar berani ambil resiko, tetapi selain cerdik juga bisa membaca perguliran revolusi teknologi tadi. Persaingan bisnis tidak lagi hanya pada persaingan harga, tetapi juga persaingan memberi layanan. 

Ia kemudian mencontohkan, pemimpin bisnis masa lalu mungkin berorientasi pada aset tak bergerak seperti tanah dan bangunan. Tapi pebisnis hari ini orientasinya pada penguasaan networking berbasis IT.

"Lihatlah di Tanah Abang, yang tadinya penuh sesak oleh pengunjung, kini sepi-sepi saja. Orang tak perlu lagi bertoko sekian pintu, tapi cukup menguasi android dan jaringan yang luas, Pemimpin bisnis harus cerdik, sehingga ketika bisnis online tumbuh subur, orang tak perlu memikirkan sewa tokoh atau beli toko," kata Gamawan.   

Menurut Gamawan, ada yang berpendapat bahwa kepemimpinan itu adalah bakat, ada juga yang berpendapat bahwa kepemimpinan itu bisa dilatih, seseorang yang sedang-sedang saja bakat kepemimpinannya, tapi karena dia terus menerus dilatih melalui peningkatan ilmu pengetahuan bisa dapat memiliki bakat kepemimpinannya punya leadership yang kuat.

"Dunia ini berubah drastis, kata seorang filsuf, yang ‘pasti’ itu adalah ‘perubahan’. Jadi kita jangan  lagi berpikir bernostalgia mengenang di masa lalu untuk beromantasi-romantis, tapi kita mesti berpikir bagaimana mestinya masa depan dengan perubahan sangat cepat itu kita lalui," ujar dia.

Kemampuan untuk penyesuaian diri dengan perubahan-perubahan itulah dan kemampuan untuk melihat tantangan perubahan kedepan itu diperlukan oleh setiap pemimpin, leadership sekarang menjadi  isu pokok dalam setiap organisasi, pemerintahan maupun institusi bisnis.

Sementara itu Ketua Pasca Sarjana STIE  Haji Agus Salim Bukittinggi Dr.Heliyani, SE.,MM mengatakan peserta yang mengikuti kuliah umum ini sebagian besar dari ASN, jadi mengupayakan bagaimana ASN ini mendapat ilmu dari orang-orang atau tokoh-tokoh yang betul-betul menguasai di bidang itu, seperti yang dihadirkan kini adalah Gamawan Fauzi sebagai narasumber.

Heliyani menyampaikan apresiasi kepada Gamawan Fauzi untuk sharing ilmu dan pengalaman kepada calon pemimpin masa depan terutama di leading sektor pelayanan kebijakan publik di STIE AGus Salim ini. Menurut Heliyani, rekam jejak pria kelahiran Solok 10 November 1957 itu terbukti dan teruji  memiliki leadership yang baik.

"Pastilah  untuk menjadi seorang menteri di era kabinet pak SBY didasari dari jenjang karir terstruktur, track record yang baik dan tidak instan," ujar Heliyani. (win)


Tag:

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru