oleh



Ibu Hilda Temui Hotman Paris, Ungkap Kejanggalan hingga Memohon ke Kapolda Sumbar

PADANG (Metrans)

Pascamenemukan beberapa kejanggalan pada peristiwa hilangnya Hilda yang dilaporkan hanyut pada 20 Januari 2019 lalu, Wida Yenti Muas selaku orang tua Hilda menemui Hotman Paris untuk meminta bantuan dan konsultasi terkait kasus yang saat ini masih ditangani pihak kepolisian.

Wida mengatakan, Polsek Padang Barat yang menangani kasus dugaan kriminal terhadap Hilda telah menemukan barang bukti atas kasus yang menimpa anaknya itu. Barang bukti itu yakni, sebuah tas yang dipakai Hilda pada waktu kejadian itu.


Penemuan barang bukti itu, kata dia, berawal saat polisi berhasil melacak nomor yang dihubungi oleh nomor Hilda yang mengaku bernama Suci (berdasarkan NIK, -red). Dari Suci lah terkuak bahwa yang menghubunginya itu adalah Syarif yang merupakan anak pemulung yang menemukan tas Hilda sehari setelah kejadian. Syarif juga menelpon seseorang dengan nama Amir melalui nomor telepon Hilda. Mendapat informasi itu, jajaran Polsek Padang Barat, pada Jumat (8/3) malam, pergi ke rumah Amir untuk mencari Amir yang sebelumnya juga ditelpon oleh nomor telepon Hilda.

"Saat itu, Amir yang dicari polisi, tidak ada di rumahnya. Saat ditanya ke tetangga sebelah, di sana lah tau bahwa ibu tetangga yang bernama Marnis yang berprofesi sebagai pemulung yang mendapatkan tas Hilda sehari setelah kejadian tersebut, tepatnya Senin, 21 Januari 2019 sekira pukul 04.00 WIB dini hari," kata dia saat diwawancarai Metrans, Jumat (15/3).

Baca Juga: (Akan Layangkan Surat ke Kapolda, Hotman Paris Minta Kasus Hilda Ditingkatkan ke Level Polda)

Baca Juga: (Keluarga Ungkap Kejanggalan di Balik Hilangnya Hilda yang Hanyut di Banda Bakali Padang)

Dikatakan Wida, sang pemulung yang mengaku menemukan tas Hilda itu kepada polisi mengatakan, dia menemukan tas tersebut dalam kondisi berlumuran lumpur dan dicuci setibanya di rumah. Di dalam tas tersebut, pemulung itu mengaku menemukan dua unit ponsel milik Hilda, kartu tanda pengenal, buku tabungan, dan barang lainnya.

Menurut data yang diperoleh dari beberapa sumber, diketahui pada tanggal 23 Januari, nomor telepon Hilda melakukan panggilan ke sebuah nomor selama 2 kali, dan pada tanggal 24 Januari, juga melakukan panggilan ke nomor yang berbeda sebanyak 2 kali.

"Kata pemulung itu, anaknya (Sarif) yang nelfon si Amir pakai nomor Hilda. Katanya jam 12 dia nelfon si Amir. Dia mengaku Amir itu sang pamannya. Setelah didesak, ternyata diketahui hanya tetangga dekat. Sementara, anaknya juga mengaku menelfon pacarnya yang diketahui bernama Suci sebanyak 2 kali," kata Wida.

Menurut pengakuan anak pemulung itu, kata Wida, dia melakukan panggilan telepon melalui nomor telepon Hilda karena pulsa yang tertinggal pada nomor Hilda cukup banyak, yakni sekitar Rp40 ribu.

Saat ditanya mengapa tidak mengembalikan tas yang ditemukannya, pemulung menjawab, takut untuk mengembalikan dan karena takut dituduh karena maling tas tersebut. Pemulung itu bahkan juga tak mengetahui berita terkait Hilangnya hilda yang ramai diperbincangkan warga.

"Padahal kartu pengenal Hilda ada di tas. Dia tidak mengembalikan karena tidak bisa baca tulis (buta huruf). Kalau memang begitu, seharusnya dia melapor ke RT. Nanti biar RT melapor ke polisi. Dia takut nanti dituduh, itu alasannya. Makanya disimpan dirumah," jelasnya.

Pemulung itu ketika ditanya terkait akun Samsung milik Hilda yang mengganti foto profil pada 29 Januari lalu, pihaknya sama sekali tak mengubah foto profil itu. Kejanggalan lainnya yang ditemukan Wida yaitu, buku rekening yang saat itu masih basah. Padahal, menurut dia, seharusnya buku rekening itu sudah kering karena kejadian sudah sebulan lebih.

"Anak pemulung itu mengaku tidak pernah mengubah foto profil seperti kejanggalan yang ditemukan pada 29 Januari lalu. Padahal HP saat itu sama dia, kalau memang dia dapat tanggal 21 itu. Yang HP Samsung lipat, dijual oleh anak pemulung itu. Yang HP Android ditahan Polsek dan diserahkan ke Laka-lantas. Makanya saya tidak terima hasilnya. Masa buku rekening masih basah waktu itu, padahal sudah lama ditemukan," jelasnya. 

"Senin, 11 Maret 2019, saya pergi ke Polsek karena telah berhasil menemukan barang bukti. Kapolsek mengatakan, kasus sudah ditutup dan menyatakan tidak ada unsur dugaan kriminal, hanya kecelakaan lalu-lintas dan barang-bukti telah diserahkan ke Unit Laka-lantas," lanjutnya.

Lebih lanjut kata dia, pada 20 Februari lalu, Wida telah meminta bantuan ke Polda untuk membuka isi rekaman dari 2 nomor yang ditelpon dari nomor Hilda, karena isi pembicaraannya masih diketahui. 

"Jawaban orang Polda, kasus ini ditangani oleh Polsek Padang Barat. Tunggu saja kabar dari Polsek. Padahal saya ingin tau isi pembicaraan pada nomor Hilda itu, karena dari isi pembicaraan lah semuanya bisa terkuak. Tapi kalau tidak dibuka, jadi tanda tanya oleh kami. Kalau isi pembicaraannya tidak ada tentang Hilda, berarti saya ikhlas bahwa anak saya memang hanyut," jelasnya. 

Didampingi Hotman Paris, dia meminta Kapolda Sumbar, Irjen Pol Fakhrizal untuk menguak kasus ini hingga tuntas dengan cara yang transparan. 

"Assalamualaikum Bapak Kapolda. Pak, saya sebagai orang tua Hilda memohon kepada bapak agar mengusut kasus ini sampai tuntas pak. Saya ingin kasus ini terbuka pak, harus ada titik terangnya pak. Ini udah 2 bulan loh pak, anak saya belum ketemu. Saya mohon bantuan bapak, terima kasih ya pak," kata dia diiringi isak tangis air matanya.

Sementara, Hotman Paris mengatakan, kasus yang sangat populer di Sumatera Barat, bahkan di kancah Nasional ini, pemeriksaannya harus ditingkatkan di level Polda. Karena kasus ini sudah me-nasional dan ditemukan beberapa kejanggalan yang orang awam pun curiga.

"Kami mengimbau kepada Kapolda Sumatera Barat agar kasus hilda ini diperiksa lagi dan diperiksanya dipindahkan ke Polda Sumbar. Nanti akan kita buat surat imbauan ke Kapolda Sumbar yang ditembuskan ke Propam Mabes Polri dan ke Kapolri," tutup dia. (Raihan Al Karim)


Tag:

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru