Imbauan Pahit Pemprov Sumbar: Tarawih Ramadan di Rumah Saja

Masjid Raya Sumatera Barat. (Foto: Raihan Al Karim)

Mengingat eskalasi persebaran Civid-19, maka Pemprov Sumbar terpaksa menyampaikan imbauan pahit, agar masyarakat hanya melaksanakan salat sunat tarawih di rumah, tidak di masjid. Diperkirakan shalat Ied nanti juga mengalami nasib yang sama.

PADANG (Metrans)

Meskipun terasa pahit dan berat,  tetapi Pemprov Sumbar tidak memiliki jalan lain untuk membendung eskalasi persebaran Covid-19. Pemprov setelah mendengar imbauan MUI, meminta masyarakat shalat tarawih di rumah saja selama bulan Ramadhan nanti.


"Untuk salat tarawih, kami dengan Pak Gubernur  sudah putuskan, dan berdasarkan imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah ada, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga sudah ada, kita tarawih di rumah saja," kata Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit dalam jumpa pers online Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Sumbar bersama awak media, Minggu (5/4).

Ia berharap, seluruh umat muslim yang ada di Sumbar, untuk mematuhi imbauan ini, sebab hal ini diterapkan juga untuk menjaga kesehatan warga Sumbar.

"Kita berharap semua umat muslim, yang 96 persen muslim di Sumbar, bahwa ini sudah ada imbauan. Ini untuk kesehatan kita semua, dan diharapkan dipatuhi. Memang ada beberpaa kabupaten/kota sudah menutup masjidnya untuk salat Jumat sekarang dan berlanjut ke Ramadan. Keputusan pemerintah provinsi, tarawih (di masjid) ditiadakan (maksudnya dialihkan ke rumah-red)," ujar Nasrul Abit.

Pada jumpa pers online sebelumnya, ia juga mengatakan, maksud dan tujuan peniadaan kegiatan safari dan salat tarawih di masjid itu untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Ranah Minang ini, sekaligus memberikan penyadaran kepada kita semua akan bahayanya pandemi virus tersebut.

"Maksud pemerintah kan baik, memberikan penyadaran kepada kita semua. Untuk itu, kita perlu dukungan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan ustadz kita. Kita juga ingin masuk surga, tapi berapa kali dijelaskan MUI Pusat. Nabi Muhammad pernah menolak seseorang masuk masjid karena terjangkit virus," kata Nasrul Abit.

Ia mengimbau masyarakat di Sumbar, untuk tidak "keras kepala". Karena imbauan dan keputusan ini guna kesehatan masyarakat. Ia juga mengimbau agar hal ini bisa dipahami bersama, dan jangan dijadikan arena politik, bahkan sebagai bahan olok-olok.

"Kita janganlah keras kepala, artinya ini guna kesehatan kita semua. Mudah-mudahan ini bisa dipahami bersama, jangan ini dijadikan arena politik, olok-olok. Ini adalah untuk kesehatan kita semua, dan kesadaran yang kami minta. Karena sudah ada fatwa MUI," jelas dia.

Sama halnya dengan peniadaan safari Ramadhan. Pemprov Sumbar pada Ramadan kali ini juga tidak memberikan bantuan-bantuan kepada masjid-masjid, karena safari Ramadan ditiadakan dan anggarannya sudah dipakai untuk penanganan Covid-19 di Sumbar.

"Yang pasti Pemprov Sumbar tidak melaksanakan  safari Ramadan tahun ini, berarti bantuannya juga tidak ada, tidak disalurkan karena uangnya dipakai penanganan Covid-19. Itu safari Ramadan provinsi sudah diputuskan tidak dilakukan. Untuk salat tarawih, saya tidak akan mengupas itu, karena wewenang  MUI," sambung dia.

Menurutnya, bulan Ramadan diprediksi puncak penyebaran Covid-19 di Sumbar akan terjadi pada 24 hingga 27 Mei 2020. Waktu puncak tersebut bertepatan Hari Raya ldul Fitri 1441 Hijriah. Pasalnya para perantau sudah dipastikan akan mudik lebaran ke kampung halaman.

"Covid-19 ini kalau tidak segera ditangani, ia akan terjadi puncak pada tanggal 24 hingga 27 Mei, itu adalah hari pertamanya lebaran. Berarti saat kita puasa, ini dia akan masih menuju puncak, belum ada pengurangan sama sekali. Pemerintah imbau mengalihkan salat tarawih ke rumah tidak berjamaah di masjid. Seperti kata Ustadz Abdul Somad kemarin, karena kita sedang wabah, bisa saja tarawih itu sunah, dikerjakan di rumah, berjemaah di rumah," kata dia.

Sebelumnya, Gubernur Irwan Prayitno menjelaskan keputusan tersebut dengan mempertimbangkan imbauan pemerintah dan ulama agar masyarakat menghindari keramaian dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19 di Sumbar.

"Ini sesuai dengan kebijakan pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia yang meminta masyarakat untuk menghindari keramaian, sosial distancing dan larangan salat berjamaah di masjid," ulasnya.

Irwan berharap kebijakan ini dapat dipatuhi oleh masyarakat, terutama para pengurus masjid agar tidak membuka masjid untuk salat berjamaah di masjid untuk sementara ini.

“Kita mohon kepada masyarakat dan utamanya pengurus masjid untuk tidak membuka masjid untuk salat fardhu dan salat tarawih nantinya," imbaunya.

Fatwa MUI

Karena ancaman penyebaran Covid-19 masih kuat, maka Majelis Ulama Indonesua (MUI) masih menerapkan fatwa MUI Nomor 14 Tahun 2020 untuk bisa menjadi pedoman masyarakat beribadah saat bulan Ramadan.

Pada bulan Ramadan, umat Muslim wajib menjalankan ibadah puasa dan sunah menjalankan salat Tarawih. Namun bagaimana pelaksanaan salat sunah tarawih di tengah adanya pandemi Covid-19?

"Sudah bisa ditemukan jawabannya di dalam fatwa," kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) MUI Anwar Abbas, Jumat (3/4).

Fatwa yang dimaksud ialah yang pernah dikeluarkan MUI pada 16 Maret 2020 dan diteken oleh Ketua Komisi Fatwa MUI Hasanuddin AF. Fatwa itu mulanya dibuat untuk mengatur hukum salat Jumat di tengah pandemi Covid-19.

Namun, ketentuannya sama dengan salat sunah tarawih yakni sama-sama tidak diperkenankan untuk melaksanakan salat berjamaah di masjid.

Salah satu contoh ketentuan hukumnya ialah bagi orang yang telah terpapar virus Corona, wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. Baginya haram melakukan aktifitas ibadah sunnah yang membuka peluang terjadinya penularan, seperti jamaah shalat lima waktu/rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan tabligh akbar.

Kemudian bagi orang yang sehat dan yang belum diketahui atau diyakini tidak terpapar Covid-19, harus memperhatikan beberapa hal yakni apabila ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh meninggalkan salat Jumat dan menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah salat lima waktu atau rawatib, tarawih, dan ied di masjid atau tempat umum lainnya.

Lebih lanjut, dalam kondisi penyebaran Covid-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, tidak boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran Covid-19, seperti jemaah shalat lima waktu/rawatib, salat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim.

Akan tetapi, apabila dalam kondisi penyebaran Covid-19 terkendali, umat Islam wajib menyelenggarakan salat Jumat dan boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak, seperti jemaah salat lima waktu atau rawatib, salat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim dengan tetap menjaga diri agar tidak terpapar Covid-19.

[Raihan Al Karim]

 

Catatan Redaksi: Untuk pernyataan Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit terkait imbauan salat tarawih di rumah pada bulan Ramadan, dapat dilihat pada video yang dilansir dari channel youtube "Humas Sumbar" pada menit ke 25:15 yang kembali disampaikan Wagub saat jumpa pers online dengan awak media, Minggu (5/4).

Video Terkait:



Jangan Lewatkan