oleh



Kasus Pabrik Miras Palsu Bergulir ke Kejaksaan, 30 Dus Miras dan 1 Unit Grand Max Jadi Barang Bukti

PADANG (Metrans)

Penyidik Subdit I, Indagsi Ditreskrimsus Polda Sumatera Barat (Sumbar), melimpahkan berkas perkara tahap dua, terkait dugaan memproduksi minuman keras (miras) palsu dan oplosan berbagai jenis ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Padang, Kamis (19/9).

Dalam pelimpahan berkas tersebut, Polda Sumbar membawa barang bukti berupa satu unit mobil pick up Grand Max, 30 dus karton miras dan alat- alat produksi dan pencetak miras palsu, yakni ember besar, jeriken, serta dua tersangka berinisial SR dan BN.


Kasi Pidana umum (Pidum) Kejari Padang, Yarnes didampingi Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumbar, Alfiandi mengatakan, setelah diperiksa secara detail, tersangka SR melanggar Pasal 142 Undang-undang RI no 18 tahun 2012, tentang pangan atau Pasal 62 ayat 1 jo pasal 8 ayat 1 huruf a Undang-undang RI nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.

"Untuk tersangka satu yaitu SR, melanggar Pasal 142 UU RI no 18 tahun 2012, tentang pangan atau Pasal 62 ayat 1 jo pasal 8 ayat 1 huruf a UU RI nomor 8 thn 1999 tentang perlindungan konsumen," kata dia, Kamis (19/9) .

Sedangkan untuk tersangka HB, kata dia, disangkakan Pasal 120 ayat 1 Undang-undang nomor 3 tahun 2014, tentang perlindungan konsumen atau Pasal 142 dan Pasal 144. Atau Undang-undang no 18 tahun 2012 tentang Pangan dan atau pasal 62 ayat (1) Jo Pasal 8 ayat (1) huruf a dan e Undang-undang no 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.

"Kita akan memperpanjang penahanan 20 hari ke depan. Keduanya dititipkan di rumah tahanan (Rutan) Anak Air Kota Padang," pungkasnya.

Kasus ini berawal petugas Ditreskrimsum Polda Sumbar menggerebek toko minuman beralkohol SRC ‎Metro di Jalan Adinegoro, Lubuk Buaya, Koto Tangah, sekitar pukul 22.30 WIB, Senin (22/7) lalu. Polisi juga menyita barang bukti berupa 700 botol minuman beralkohol berbagai merek, TKW, Anggur Merah SWC, W&N, Brandy, Couintreau dan Vodka Big Bos dan satu tersangka SR.

Kemudian, polisi mengembangkan kasus tersebut. Petugas kembali menemukan lokasi produksi minuman beralkohol tanpa izin di sebuah rumah di Perumahan Green Kamsya Residence, Jalan Bandes Batu Kasek RT 001 RW 001, Kelurahan Pegambiran Ampalu Nan XX, Lubuk Begalung.

Di sana, petugas menangkap tersangka HB. Tak hanya itu, polisi juga menyita barang bukti berupa minuman TKW 384 botol siap edar, satu alat press tutup botol, 100 boto kosong merek TKW, satu kantong tutup botol merek TKW, satu kantong label merek TKW, satu kantong tutup botol merek TKW, enam jeriken berisi alkohol teknis, enam botol plastik essen pewarna dan satu drum tempat meracik bahan minuman beralkohol.

Diduga tersangka, telah meracik minuman beralkohol  lebih kurang enam bulan,dengan hasil produksi lebih kurang 1.500 botol per bulan. Selain itu, tersangka menjual minuman oplosan dengan harga Rp22 ribu per botol. Ditaksir, omset tersangka dari menjual minuman oplosan lebih kurang Rp26 juta per bulan.

Sementara untuk bahan yang digunakan tersangka untuk meracik, yakni, alkohol teknis 90 persen, essen pewarna cokelat dan perasa, air dan gula pasir. Bahan tersebut dicampur dalam drum selanjutnya dikemas dalam botol yang sudah disediakan dan diberi label merek TKW. Selanjutnya dipasarkan.

Sementara untuk pedagang yang menjual minuman oplosan ini, tidak lain masih bersaudara dengan pengoplos. Mereka bekerjasama untuk mengedarkan minuman oplosan tersebut.

Perbuatan pelaku melakukan pengoplosan minuman beralkohol ini tidak sesuai dengan standar produksi, di mana kandungan minuman ini sangat berbahaya bagi kesehatan konsumen yang mengkomsumsi. (eko)


Tag:

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru