oleh



Keluarga Role Model Bagi Pendidikan Anak

OLEH: WAHYU AMUK

 

PADANG - “Baiti Jannati” ungkapan yang indah dan luar biasa pada sebuah keluarga yang mampu memberi kenyamanan, ketenteraman, dan kebahagiaan bagi anggota keluarganya. Bisa dipastikan semua orang mengidam-idamkan “Baiti Jannati” dalam keluarganya. Tapi tidak mudah, banyak kenyataan berkehendak lain yang tidak sesuai dengan harapan.


Betapa banyak keutuhan keluarga tumbang yang disebabkan rumahnya tidak mampu memberi rasa nyaman, tenteram, dan bahagia. Apabila nahkoda rumah tangga tidak bisa mengelola dengan bijaksana, akan berdampak serius bagi penghuninya. Apalagi seorang anak yang hanyalah “penumpang” dalam rumah tangga, dan orangtua tuan rumah yang punya kendali penuh.

Tidak heran, remaja zaman sekarang mengalami krisis moral. Salah satu penyebabnya karena rumah yang seharusnya sebagai sekolah pertama bagi anak, tidak bisa dikelola dengan baik. Akibatnya anak berperilaku negatif, melanggar norma dan etika, karena rumah yang dinahkodai orangtuanya tidak memberi rasa aman, nyaman, tenteram, dan perlindungan yang utuh sesuai keinginannya.

Akhir tahun 2016 yang lalu, Polda Metro Jaya pernah merilis crime index sepanjang tahun 2016, mengalami peningkatan menjadi 44.304 kasus dibanding tahun 2015 yang hanya 43.149 kasus. Tercatat 11 jenis kasus kejahatan yang menonjol tahun 2016 ini, seperti pencurian, perkosaan, penganiyaan, pembunuhan, judi, pemerasan, narkoba, dan kenakalan remaja. Semua jenis kejahatan ini diantara pelakunya masih berstatus remaja.

Kasus yang paling menonjol diantara 11 jenis kasus kejahatan itu ialah penyalahgunaan narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba) sebanyak 5.333 kasus. Sebelumnya, pihak Polri pernah menyatakan kejahatan narkoba tahun 2016 naik 19,62 persen dibanding tahun 2015, dari 42.900 tersangka menjadi 51.840 tersangka, atau meningkat 8.940.

Kemudian dari 11 jenis kejahatan itu yang paling tinggi kenaikannya ialah kenakalan remaja, sebanyak 400 persen. Sebelumnya, dilihat dari statistik data kenakalan remaja sejak Januari-November 2016, jumlah kenakalan remaja yang ditangani telah Satpol PP meningkat dari 675 kasus tahun 2015 menjadi 793 kasus. Rinciannya, 597 laki-laki dan 196 perempuan.

Berdasarkan fakta tersebut, bisa ditarik kesimpulan bahwa kasus kejahatan, terutama narkoba dan kenakalan remaja terus meningkat hingga tahun 2017 ini. Akhir-akhir ini berbagai pemberitaan pembegalan oleh geng motor, dan aksi balap liar menjadi trending topic sebagai kasus kejahatan yang meresahkan masyarakat. Pelakunya mayoritas dalam usia remaja, alias masih berstatus Anak Baru Gede (ABG) yang masih sekolah.

Kasus-kasus yang menimpa anak-anak atau remaja ini terjadi bukan tanpa sebab. Usia remaja sangat rentan dengan berbagai gejolak emosi yang belum tentu bisa dikendalikan oleh anak yang bersangkutan. Gagalnya seorang anak melewati masa transisi dari anak kecil menjadi dewasa ini, karena lemahnya pertahanan diri, atau perlindungan orangtua dari pengaruh luar (teman atau lingkungan) yang kurang baik.

Banyak motif dibalik terjadinya kasus yang menimpa remaja saat ini, baik karena faktor lingkungan sosial, keluarga, maupun pendidikan. Sesuai pendapat Karol Kumpfer dan Rose Alvarado, profesor dan asisten profesor dari University of Utah, bahwa dalam penelitiannya pernah menyebutkan kenakalan dan kekerasan yang dilakukan oleh anak dan remaja berakar dari masalah-masalah sosial yang saling berkaitan.

Masalah sosial yang dimaksud, salah satunya ialah pengabaian atau kekerasan kepada anak yang dilakukan orangtua. Akibatnya beragam adegan kenakalan terjadi, misalnya membolos sekolah, melanggar peraturan sekolah, melawan orangtua, sampai sikapnya menjurus ke vandalisme, perkelahian, tawuran, seks bebas, dan penggunaan narkoba.

 

Keutuhan Keluarga

Dalam sebuah keluarga, sebagian orang menganggap keluarga belum utuh apabila tidak mempunyai keturunan (anak). Meskipun sebenarnya utuhnya sebuah keluarga bukanlah diukur dengan kehadiran seorang anak semata. Keutuhan keluarga dibuktikan dengan orangtua yang mampu membangun pondasi yang kokoh dalam keluarganya, sekaligus mampu mengantar kesuksesan untuk pendidikan anaknya.

Berdasarkan dalam Undang-Undang Perkawinan RI Nomor 1 Tahun 1974, Tentang Hak dan Kewajiban Antara Orangtua dan Anak, tercermin dalam Pasal 45 Ayat 1 yang telah dituliskan “Kedua orangtua wajib memelihara dan mendidik anak-anak mereka sebaik-baiknya.” Pasal-pasal dan ayat-ayat berikutnya juga menegaskan, bahwa anak di bawah 18 tahun merupakan dalam “kekuasaan” orangtua, dan anak wajib mentaati orangtua.

Kemudian merujuk pada konsep Islam, anak itu anugerah terindah sekaligus amanah (titipan) yang diberikan oleh Allas Swt kepada setiap orangtua. Amanah itu selayaknya tidak boleh diabaikan. Orangtua harus mampu memfasilitasi kebutuhan perkembangan anaknya. Bila kebutuhan anaknya terpenuhi, senantiasa anaknya bisa menjadi generasi yang tumbuh sehat, secara jasmani maupun rohani.

Di sisi lain, dalam kitab suci umat Islam (Al-Qur’an) memang anak disebutkan sebagai amanah (At-Tahrim:6), anak itu perhiasan (Al-Kahfi:46), anak penyejuk bagi orangtua (Al-Furqon:74), namun kedudukan seorang anak bagi orangtunya juga sebagai ujian (Al-Anfal:28), dan anak juga bisa menjadi musuh dan fitnah (At-Taqhabun:14-15).

Berdasarkan hal itu pula, setidaknya sudah jelas dalam payung hukum negara (UU), dan hukum agama, orangtua merupakan ujung tombak yang harus bisa mengayomi keluarga dan anaknya. Oleh sebab itu, orangtua harus mampu mendidik anak-anaknya ke arah yang sehat, baik jasmani maupun rohani, agar tidak menjadi penyakit dalam keutuhan keluarga.

Dengan kata lain, peran keluarga sangat penting mendidik, mengayomi, dan melindungi anak-anaknya. Salah satu cara yang harus ditempuh oleh orangtua ialah membangun keluarga yang utuh. Keutuhan keluarga bukan hanya dilihat harmonisnya hubungan antara suami dan istri, tetapi juga antara orangtua dengan anaknya, atau sebaliknya.

Tentu hal ini karena ketidakharmonisan dalam keluarga, akan berdampak buruk pada anak dalam jangka yang sangat panjang. Terbukti, betapa banyak anak yang terlantar, nakal, atau berperilaku menyimpang karena hubungan orangtuanya berantakan (broken home). Kemudian, betapa banyak kemampuan seorang anak down hanya karena kurang kasih sayang dari orangtuanya.

Sungguh disayangkan bila masih banyak orangtua yang terlalu egois, tanpa melebihkan waktu untuk memperhatikan perkembangan dan pendidikan anak-anaknya. Alangkah mirisnya bila saat ini bukan lagi anaknya yang menjauhkan diri dari keluarga, tapi justru orangtua yang sudah mulai renggang dengan anaknya sendiri. Apalagi di zaman milinial ini, bukan hanya remaja tapi orangtua pun dimanjakan oleh kecanggihan teknologi.

Misalnya, banyak orangtua lebih sibuk dengan smartphone dibanding berkomunikasi bersama anaknya, dengan dalih urusan kerja, bisnis, kantor, dan kolega. Betapa banyak orangtua yang berhasil membangun perusahaan, hubungan relasi bisnis, serta jaringan perkantoran dengan baik, tapi gagal menciptakan kebahagaian untuk keluarganya.

Fenomena yang sering ditemui zaman sekarang ini, merupakan sebagai bukti orangtua tidak lagi mampu membangun keutuhan keluarganya, terutama untuk pendidikan anak-anaknya. Tentu dalam hal ini seorang anak bukan hanya butuh pendidikan termahal dan tercanggih di sekolah formal saja. Sejatinya seorang anak sangat membutuhkan didikan dari orangtuanya langsung, sebagai bukti anak butuh perhatian.

Setiap anak wajib mendapatkan pendidikan serta kasih sayang dari orangtuanya. Bila saja orangtua mencerminkan sebagai keluarga yang utuh, dengan dalih apapun tidak ada lagi sekat pemisah antara orangtua dan anaknya. Keutuhan keluarga yang tercermin atas keharmonisan rumah tangga, akan berdampak positif kepada kesuksesan seorang anak sebagai generasi masa depan yang unggul.

Betapa banyak bukti selama ini, seorang anak bisa bangkit dari keterpurukan hasil nilai di sekolah, hanya ada dorongan, semangat, motivasi serta perhatian dari orangtuanya. Jadi sejatinya keluarga merupakan salah satu titik terlemah, juga bisa terkuat dalam bagi kesuksesan seorang anak. Artinya betapa pentingnya peran orangtua dalam mengantar keberhasilan anaknya, agar mampu menjadi generasi terbaik dan unggul.

 

Jadilah Role Model

Anak merupakan harapan dan tumpuan bagi orangtua, dengan tujuan sebagai generasi pembawa perubahan bagi keluarga, bangsa, negara, dan agama. Namun untuk mencapai harapan itu tidaklah mudah. Orangtua harus mampu menjadi seorang role model bagi anak-anaknya untuk bisa tumbuh sebagai generasi penerus terbaik.

Kita tidak boleh lupa kata-kata bijak orang terdahulu, “kalau mau belajar tentang arti cinta maka belajarlah pada seorang ibu, dan jika ingin paham makna pengorbanan maka belajarlah pada seorang ayah.” Apabila orangtua mampu mengambil maknanya, pengorbanan dan cinta disatukan dalam keluarga, akan menunjukkan betapa indahnya masa depan seorang anak dalam bimbingan keluarga.

Namun kekhawatiran era modern saat ini, banyak anak-anak membuktikan masa remaja sebagai ajangnya “pemberontakan.” Beragam gejolak perilaku negatif atau menyimpang terjadi, baik di rumah, sekolah, atau lingkungan sosial lainnya. Akibatnya banyak anak-anak yang gagal melewati masa transisi menjadi generasi yang patut dibanggakan.

Sebaliknya di sisi lain, orangtua yang seharusnya menjadi panutan tidak mampu berbuat banyak dalam mendidik anaknya. Tentu ini akan menjadi masalah besar bila perilaku negatif seorang anak tidak bisa dibendung oleh orangtua. Akibatnya adegan sikap-sikap menyimpang anak tersebut akan terbawa hingga usia dewasa, bahkan bisa sampai tua.

Oleh karenanya, orangtua dalam keluarga harus bisa menjadi role model yang patut bagi anak-anaknya. Ibarat pepatah lama, “buah tak jauh jatuh dari pohonnya” hal tersebut bisa berlaku pula dalam perilaku seorang anak. Apabila orangtua mampu mencerminkan sikap yang mendidik, maka mayoritas anaknya pun akan berperilaku baik, begitu juga sebaliknya.

Apabila orangtua ingin anaknya rajin membaca dan menulis, maka orangtuanya harus lebih dahulu memegang buku dan pena. Jika orangtua ingin anaknya rajin ibadah, maka orangtuanya harus lebih dulu mengagungkan Tuhan. Begitu pula jika ada orangtua ingin anaknya disiplin, maka orangtua memenuhi sikap disiplin terlebih dulu dalam keluarga. Pasalnya mengajarkan dengan contoh lebih baik daripada hanya menyuruh.

Misalnya, banyak istri memanggil suaminya dengan sebutan ayah, atau sebaliknya demi mencontohkan kepada anak-anaknya. Hendaknya hal-hal baik lainnya juga dicontohkan sebagai role model, meskipun dinilai tindakan yang sangat sederhana. Hal ini karena apa pun perilaku orangtua, baik atau buruk lambat-laun akan berdampak pada anak.

Namun di sisi lain, orangtua tidak boleh masuk terlalu jauh dalam kehidupan seorang anak. Orangtua harus terbiasa ibarat main layangan kepada anak, “tidak menarik talinya terlalu dekat dan kencang, tapi juga tidak melepakan talinya terlalu panjang dan jauh.” Artinya, orangtua tidak terlalu mendikte atau mengekang dalam mendidik anaknya, tapi tetap anak jangan dibiarkan berperilaku sesuka hati.

Orangtua harus memberi kebebasan kepada anaknya dalam menentukan pilihan, baik style, pendidikan, cita-cita, serta jati dirinya sendiri. Namun di lain sisi, orangtua harus tetap mengawasi, serta ada batasan yang jelas untuk hal tertentu. Cara yang tepat untuk orangtua dalam hal ini, semua elemen keluarga hendaknya diajak berkomunikasi, dan berdiskusi dengan baik, termasuk kepada anaknya.

Begitu pentingnya peran keluarga untuk pendidikan anak, terutama dalam hal ini lebih dibebankan kepada kedua orangtua. Tentu disebabkan lingkungan keluarga merupakan sekolah atau madrasah pertama bagi anak. Kemudian orangtua merupakan sebagai guru pertama dan utama untuk tumbuh-kembangnya pendidikan seorang anak. Maka dari itu pula, beban untuk pendidikan anak butuh tanggungjawab yang besar bagi orangtua.

Dikatakan lingkungan keluarga sebagai sekolah pertama dan utama bagi anak, karena sebagian besar hidup dan waktu yang dihabiskan oleh seorang anak di dalam keluarga, rumah, dan bersama orangtua. Dampaknya bila keluarga mempraktikan hidup mendidik yang baik, maka sebagian besar sikap, etika, norma, dan aturan itu akan tercermin pada anak. Sebaliknya, jika keluarganya berantakan tanpa aturan maka anak juga akan lebih berantakan pula.

Pendidikan formal untuk anak sangat penting, sebab pendidikan lebih tinggi derajatnya dari mata uang, yang akan berlaku dimana pun, dan kapanpun. Setiap generasi berpacu dengan segala perubahan dan persaingan untuk menjadi yang terbaik. Apalagi di zaman global dan milinial ini, setiap anak dituntut bisa menguasai teknologi dan informasi agar bisa bersaing dan bertahan menghadapi kemajuan zaman.

Namun dengan segala tuntutan zaman tersebut, orangtua jangan lupa selalu menyirami dan ikut berperan untuk pendidikan anaknya. Hal ini karena zaman sekarang mayoritas setiap orang perpacu dalam kecanggihan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Informasi (IPTEK), tapi lupa menyiram anaknya dengan ilmu Iman dan Taqwa (Imtaq).

Oleh sebab itu, peran orangtua sangat penting untuk membangun pondasi yang komplit bagi anaknya, dibekali IPTEK di sekolah, tapi juga mendapat bimbingan Imtaq secara langsung dari keluarga di rumah. Tetaplah yakin, pendidikan setinggi apapun tidak akan berhasil tanpa adanya bekal yang diberikan orangtua di rumah.

Berhasil atau tidaknya seorang anak di sekolah, tergantung atas do’a, ridha serta didikan orangtuanya di rumah. Oleh sebab itu, kerjasama antara suami dan istri sangat penting untuk mendampingi kesuksesan seorang anak. Sepanjang masa, anak tetap memerlukan bimbingan dari orangtua tanpa batas. Apabila didikan orangtuanya berhasil, maka anak tersebut juga akan berhasil menularkan ke generasi selanjutnya.

Bila merujuk ke pendidikan Islam, dalam Hadist Riwayat Thabrani dan Daruquthuni disebutkan, “sebaik-baiknya manusia ialah yang bermanfaat bagi orang lain.” Apabila konsep ini ditanamkan oleh orangtua kepada anaknya sejak dini, keberkahan senantiasa mengalir pada dirinya, ke anak-anaknya, ke generasi-generasi berikutnya, sekaligus juga akan mengalir ke kedua orangtuanya, dan kepada seluruh alam lingkungan sekitarnya.

Ujung dari semua ini akan bermuara pada “Baiti Jannati”, dalam keluarga yang mampu memberikan rasa nyaman, tenteram, dan bahagia untuk melahirkan generasi emas, yang dibekali IPTEK dan Imtaq. Menggali segala potensi untuk kepentingan dunia, tapi juga tidak lupa kepada Tuhan dengan segala keagunganNya. (*)


Tag:

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru