Kepulauan Mentawai Didorong Eksplorasi Umbi-Umbian

Potensi talas di Kepulauan Mentawai sangat besar dikembangkan untuk diversifikasi pengolahan. Untuk itu, Pemprov Sumbar melalui Dinas Koperasi dan UKM Sumbar dengan perpanjangan tangannya UPTD Balatkop Sumbar, memberikan pelatihan-pelatihan untuk menumbuhkan kreatifitas masyarakat daerah tersebut mengolah talas agar bernilai ekonomis.

PADANG (Metrans)

Potensi umbi-umbian yang melimpah di Kepulauan Mentawai, Sumbar, menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Sumbar untuk dikembangkan. Salah satu penguatan dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Balai Diklat Koperasi (Balatkop) dan UKM Dinas Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Sumbar dengan memberikan pelatihan untuk menumbuhkan gairah kewirausahaan melalui potensi umbi-umbian di Kepulatan Mentawai yang bisa dieksplorasi secara luas.

Kegiatan pelatihan untuk Kepulauan Mentawai ini, dikatakan oleh Kepala UPTD Balatkop Sumbar Dinas Koperasi dan UKM Sumbar, Desmadi Idrus, merupakan tindak lanjut dari kunjungan Wakil Gubernur Sumbar Nasrul Abit di akhir tahun kemarin dalam rangka melakukan percepatan pembangunan di daerah tertinggal.


“Dinas kita terkait  dengan kegiatan menyangkut koperasi dan UKM. Tahun ini, untuk merangsang pertumbuhan wirausaha di sana, berdasarkan potensi besar yang juga ada di sana, kita alokasikan pelatihan pengolahan pangan berbasis umbi-umbian di empat lokasi di Mentawai, untuk empat angkatan, masing-masing angkatan berjumlah 35 orang,” terang Desmadi Idrus, yang akrab dengan panggilan Didit, pada Metrans, Kamis (27/4).

Dua angkatan telah berjalan, bertempat di Sikabaluan dan Siberut Selatan. Untuk dua angkatan berikutnya, akan digelar di Sipora dan Sikakap.

Pelatihan tersebut, dikatakan, untuk mendorong tumbuhnya keahlian sumber daya masyarakat Kepulauan Mentawai sehingga mampu melakukan pengolahan umbi-umbian yang selama ini selalu dikirim ke luar Kepulauan Mentawai dalam bentuk mentah.

“Dikirimnya mentah, tidak ada nilai tambah. Sedangkan sekarang sudah semakin banyak kunjungan ke Mentawai. Bahan-bahan mentah tersebut tentu lebih baik diolah langsung di sana, dijual di sana, bisa untuk buah tangan pengunjung yang datang. Jadi, pulang ke tempat asal, keluar dari Mentawai, ada membawa tentengan asli Mentawai,” ujar Didit.

Pelatihan angkatan kedua yang baru-baru ini digelar, kata Didit, menghantarkan keahlian enam resep penganan berbahan mentah talas. Tentunya, keahlian dimaksudnya untuk diaplikasikan oleh para peserta pelatihan agar bisa berdayaguna dan melakukan verifikasi produk turunan dari talas yang bahannya melimpah di daerah tersebut.

Kepulauan Mentawai, sesuai harapan Gubernur dan Wakil Gubernur, terus dibangun salah satunya melalui pemberdayaan masyarakat dengan berwirausaha. Masih banyak agenda pelatihan yang akan digelar di Kepulauan Mentawai. Diungkapkan, juga akan digelar pelatihan pembuatan cenderamata, keahlian sablon, dan pembuatan tepung pisang.

“Kita sudah berkoordinasi dengan pemerintah daerah setempat. Pemerintah daerah setempat menyatakan untuk 2018 akan memperjuangkan pembuatan lapak-lapak di pelabuhan untuk memediasi pewirausaha Kepulauan Mentawai menjajakan produk mereka.

“Mau tidak mau, pemda setempat harus memfasilitasi. Dinas-dinas di provinsi saja mengeroyok Kepulauan Mentawai demi percepatan pembangunannya. Bukan Dinas kita saja. Usai kunjungan Wagub akhri tahun kemarin, Dinas-Dinas lain tampak mengagendakan menggelar kegiatan di sana untuk percepatan pembangunannya,” tambah Didit.

Ke depannya, diharapkan tumbuh koperasi di Kepulauan Mentawai dari kelompok-kelompok pelaku usaha yang ada. Sehingga untuk menyalurkan produk hasil usaha mereka, akan semakin kuat posisi tawarnya melalui keberadaan koperasi dimana mereka bernaung. (yyn)


Jangan Lewatkan