oleh



Ketika Media Sosial Menggerus Idealisme Jurnalistik di Era Digital

Oleh: Raihan Al Karim (Wartawan Muda)

Perubahan zaman yang semakin canggih memang tidak bisa dibendung. Saat ini, masyarakat khususnya pengguna internet dapat dengan mudahnya memperoleh berita dan berbagai macam informasi dari media sosial.

Menjamurnya media sosial saat sekarang ini tentunya sangat berpengaruh terhadap media massa, terkhusus pada kerja jurnalistik mulai dari pengumpulan sumber informasi hingga penyebaran berita.


Media massa mempunyai peran yang sangat penting di tengah-tengah kehidupan masyarakat, terutama media online. Media online dituntut menyajikan berita secara cepat. Namun, kecepatan bukan segalanya. Demi mendapatkan kebenaran jurnalistik itu, media massa disiplin melakukan verifikasi atas fakta dan data yang didapatkan.

Akan tetapi, di era digital seperti saat ini, media massa mendapatkan tantangan besar akibat perkembangan arus globalisasi. Majunya teknologi dan media sosial menjadi kekhawatiran bagi peran media massa yang selalu bersentuhan dengan publik setiap hari dan setiap saatnya.

Mirisnya, media sosial sepertinya media yang dianggap lebih baik dalam bertugas menyebarkan informasi saat ini. Seperti facebook dan instagram, platform media sosial yang saat ini tengah lebih dimanfaatkan pengguna internet dalam mendapatkan informasi dengan memanfaatkan "citizen journalism" sebagai "wartawan".

Di satu sisi, ketika Instagram dianggap lebih baik dalam menyebarkan informasi, lalu dimanakah perannya media massa? Sementara media sosial dianggap lebih baik. Akibatnya, bisa jadi kepercayaan masyarakat cenderung ke media sosial dalam memperoleh informasi. Jika begitu, masih penting kah media massa?

Padahal, media massa tunduk dengan undang-undang Pers, undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), kode etik jurnalistik, diawasi oleh Dewan Pers guna mengembangkan dan melindungi kehidupan pers di Indonesia. Tentunya, media massa juga memiliki badan hukum, memiliki karyawan, memiliki wartawan, memiliki kantor yang jelas, punya dapur redaksi yang steril, serta memiliki perwakilan wartawan di setiap daerah. 

Bahkan juga terdapat beberapa organisasi pers yang sah seperti Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) dan organisasi pers lainnya. Hal itu semua tentu tidak dimiliki oleh media sosial. Lantas, mengapa media massa "tertinggal" dengan media sosial? Dan media sosial lebih cenderung dipercaya oleh masyarakat?

Penyelenggara event, baik pemerintah maupun non pemerintah pun sepertinya lebih memilih media sosial sebagai media partnership dalam menyelenggarakan sebuah acara yang "besar", bukan menggandeng media massa mainstream yang lebih bertanggung jawab.

Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan pengguna internet di Indonesia pada 2018 sebanyak 171,17 juta pengguna. Jumlah ini 64,8 persen dari total penduduk Indonesia yang kini tercatat sebesar 264,16 juta jiwa.

Media sosial juga tidak ketinggalan menjadi salah satu platform yang sering dikunjungi masyarakat Tanah Air. Hasil survei APJII juga mencatat, ada sejumlah laman serta aplikasi media sosial yang kerap dikunjungi pengguna internet Indonesia.

Adapun media sosial yang dikunjungi antara lain adalah Facebook dengan persentase cukup besar yakni 50,7 persen. Selanjutnya Instagram juga cukup banyak dikunjungi oleh orang Indonesia, persentasenya adalah 17,8 persen.

Sosial media memiliki persentase terbesar sebagai salah satu alasan masyarakat menggunakan internet, yakni di angka 19,1 persen. Sementara, untuk membaca berita online, hanya berada di persentase 7 persen.

Dari data di atas kita bisa menilai bahwa masyarakat tidak bisa melepaskan diri dari fitur internet yang tersedia di smartphone-nya. Sekarang, hampir semua orang mempunyai akun media sosial.  Kedatangan media sosial pun mengalihkan peran media massa dalam menyebarkan berita. Pasalnya, penggunaan internet yang berlebihan dapat mempengaruhi cara kerja para jurnalis.

Melimpahnya informasi di media sosial memang bisa dikatakan mematikan peran media massa. Kini, ruang informasi bukan hanya milik jurnalis dan media massa saja. Akan tetapi, semua orang bisa menghadirkan informasi apapun di media sosial. Jurnalis perlu menerima fakta bahwa mereka bukan lagi pelaku utama yang selalu memberikan berita maupun informasi lainnya kepada khalayak umum.

Semua orang bisa saja bertindak sebagai jurnalis. Berita dan informasi yang muncul di beranda media sosial terkadang tidak murni berasal dari para jurnalis. Betapa banyak tangan jahil yang memanfaatkan media sosial sebagai untuk menyebarkan berita bohong yang tujuannya hanyalah kepentingan individu. Bisa dikatakan, pada zaman internet ini, semua orang adalah "wartawan". Bahkan yang salah mengancingkan baju dilaporkan pada dunia, dan semua orang mendadak gandrung dengan kenangan sehingga tak ada yang luput dari bidikan kamera HP.

Perkembangan teknologi yang semakin maju memang menjadi tantangan bagi media massa. Masyarakat lebih menyukai kecepatan akses berita di internet. Sementara itu, kecenderungan penggunaan media sosial membuat berbagai pihak tertentu memanfaatkan situasi ini demi kepentingan pribadi. Jika sudah seperti ini, bagaimana eksistensi media massa dalam menyebarkan berita maupun informasi yang diharapkan bisa mencerdaskan masyarakat?


Tag:

COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru