oleh

GALI BERBAGAI POTENSI PARIWISATA PADANG

Komisi IV DPRD Padang: Kuliner Perlu Dikedepankan

PADANG (Metrans)

Kota Padang memang sudah terlihat dibenahi oleh pemerintah daerah setempat. Akan tetapi, untuk sisi pariwisata, Kota Padang dianggap masih belum maksimal dalam melakukan upaya pembangunan. Ini bisa dilihat pada area destinasi wisata Pantai Padang, yang sudah nampak tertata namun belum punya ciri khas dan iklim ekonomi yang menyokong bagi para pedagang, khususnya pedagang yang berjualan di komplek Lapau Panjang Cimpago (LPC).

Hal tersebut Ketua Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Padang Surya Jufri Bitel kepada Metrans usai melakukan kunjungan lapangan (Kunlap) ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang, Jumat (3/3).


Dalam kunjungan tersebut, Komisi IV menyorot belum maksimalnya Dinas melakukan eksplorasi wisata yang bisa mendukung perekonomian masyarakat dan pedagang sekitar area destinasi wisata.

“Pantai Padang memang sudah bagus pembenahannya. Akan tetapi di sini, kita belum melihat adanya ciri khas tertentu yang bisa dipegang oleh wisatawan yang mengunjungi destinasi ini. Misalnya saja kuliner. Kita tidak punya kuliner khas Sumbar di Pantai Padang. Seharusnya kita punya kuliner khas Sumbar yang bisa dinikmati wisatawan dan membuat wisatawan kembali datang berkunjung,” kata Bitel.

Dikatakan, para pedagang makanan yang ada di sekitar Pantai Padang, khususnya para pedagang LPC, hanya mengandalkan sajian makanan dan minuman instan yang tentunya monoton bagi para pengunjung. “Bahkan makanan atau minuman itu dibandrol dengan harga yang cukup tinggi. Hanya untuk makan mie instan, wisatawan membayar dengan harga tinggi. Tentu ini tidak menarik untuk para wisatawan,” ujar.

Menurutnya, dinas terkait harus melakukan eksplorasi sajian kuliner di destinasi wisata Pantai Padang. Kuliner khas Sumbar perlu ditonjolkan di area ini, apalagi mengingat semakin ramainya pengunjung yang datang ke Pantai Padang.

Selain itu, menurut Sekretaris Komisi IV, Faisal Nasir, dari sisi pedagang, dinas terkait juga perlu memberi perhatian. Tidak cukup melakukan penataan area wisata, khususnya dalam hal ini Pantai Padang, seperti sekarang ini.

“Kita juga harus memikirkan bagaimana perekonomian para pedagang di sekitar pantai tersebut bisa meningkat. Ini terutama bagi pedagang LPC, yang merupakan pedagang yang direlokasi dari area tenda-tenda ceper sebelumnya. Kalau dulu saat masih di tenda ceper mereka mampu mendapat penghasilan yang tinggi, sekarang bagaimana di LPC mereka juga bisa mendapat income tinggi,” kata Faisal.

Menurutnya, posisi pedagang di LPC tidak mendukung majunya perekonomian mereka jika area parkir tidak dipindahkan ke sebelah Timur, yang merupakan area depan LPC.

“Sekarang pengunjung jika datang ke Pantai Padang, parkir di sebelah Barat, area pantai, berseberangan dengan warung-warung pedagang. Dengan demikian, pengunjung jadi tidak cenderung untuk berbelanja di warung-warung LPC. Karena untuk berbelanja di LPC harus menyeberang dulu. Ada bagusnya jika diberlakukan larangan parkir di sebelah Barat, sehingga pengunjung mengisi parkir di area Timur. Dengan demikian, kesempatan para pedagang LPC terbuka untuk dikunjungi para wisatawan yang memarkir kendaraannya,” usul Faisal.

Menjawab hal tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang, Medi Iswandi, mengatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan daerah setempat untuk memberlakukan larangan parkir di area sebelah Barat. “Kami sedang menunggu realisasinya,” kata Medi.

Sementara, untuk mengedepankan kuliner khas Sumbar, pihaknya menyatakan sulit membentuk mindset para pedagang.

“Kita telah bekerjasama dengan Dinas Koperasi dan UMKM Kota Padang. Selain itu kita juga berkoordinasi dengan pihak-pihak lain bahkan sampai mengadakan pelatihan dengan mengundang chef ternama untuk memberikan keahlian bagi para pedagang. Tapi tampaknya belum ada perubahan. Untuk ini, saya pikir perlu waktu. Karena yang kita ubah di sini adalah karakter. Mereka ingin berjualan apa juga tergantung pada karakter mereka,” kata Medi.

Bahkan, diungkapkannya, sifat berjualan para pedagang juga terpengaruh dengan pola berdagang lama saat pedagang masih berjualan di tenda ceper. “Kita kasi penerangan, mereka malah mengeluh. Mereka lebih senang jualan remang-remang daripada terang. Ini akibat kebiasaan lama mereka dulu, mungkin,” katanya.

Sementara, untuk melakukan eksplorasi area destinasi wisata selain Pantai Padang, dijelaskan, dinasnya saat ini memiliki keterbatasan. Banyak area destinasi yang bisa digarap di Kota Padang. Akan tetapi, menurut Medi, fokus kinerja ditetapkan satu per satu terlebih dahulu.

“Kita fokus dulu dengan yang ini. Untuk yang lain bukannya tidak diperhatikan. Kita fokus ke pembinaan masyarakat. Tahun ini, kita mengerjakan jalur pedestrian di Pantai Padang sepanjang 15 kilomter, pembenahan kawasan parkir dan taman Pantai Air Manis, dan perbenahan jalan ke obyek wisata Siti Nurbaya,” ujar Medi.

Untuk pengerjaaan Pantai Padang, disampaikan Medi, ada 15 OPD berkolaburasi. Ditekankan, Kota Padang tahun ini fokus pada pembangunan area wisata yang bisa menciptakan efek domino bukan hanya di sisi pariwisata akan tetapi lebih daripada itu, termasuk di dalamnya kebangkitan perekonomian masyarakat.

“Kita tidak mungkin membuat sesuatu yang butuh dana besar tapi potensi orang datang hanya sedikit. Kita harus menciptakan bagaimana orang ramai datang ke obyek tersebut dan ada efek dominonya,” tandas Medi. (yyn)


COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru