oleh

DULU DIKENAL SEBAGAI TEXAS-NYA KOTA SOLOK

Koto Panjang, Pusat Kriminalitas yang Kini jadi Daerah Kreatif

Kelurahan Koto Panjang, Kecamatan Tanjung Harapan Kota Solok, selama ini dikenal sebagai Texas-nya Kota Solok. Kini, daerah yang dikenal sebagai pusat kriminalitas tersebut, berubah menjadi daerah kreatif. Bagaimana kondisinya kini?

Laporan RIJAL ISLAMY – Solok

Kapolres Solok Kota, AKBP Dony Setiawan, ikut serta gotong royong di Kelurahan Koto Panjang, Kecamatan Tanjung Harapan, Kota Solok, Selasa (15/8). Dony yang baru menjabat sekitar dua bulan sebagai Kapolres tersebut, ikut Goro menyiapkan lokasi pacu rakit yang akan digelar pada Senin (21/8) mendatang.


Bersama dengan tim Babinsa Kodim 0309 Solok, Polsek Kota Solok, Babin Kamtibmas Polres Solok Kota, Pol PP, Dinas Kebersihan dan Tata Ruang (DKTR) Kota Solok, masyarakat sekitar bahu-membahu membersihkan got, jalan serta titik start dan finish. Para ibu-ibu yang dipimpin Bundo Taci (mantan Bundo Kandung Kota Solok), menyiapkan makanan dan minuman untuk para peserta Goro.

Saat Goro berlangsung sekitar setengah jam, para warga mulai berkeringat dan gerah. Beberapa di antaranya buka baju dan menyinsingkan celana panjang. Dony terkejut dengan banyaknya sejumlah pemuda dan pria paruh baya bertato atau memiliki bekas tato di badannya. Seperti di lengan, punggung, pundak, hingga ke betis. Kontan saja, sempat mencandai mereka.

“Di sini banyak preman ya?” ujarnya disambut gelak tawa masyarakat.

Suasana pun mencair. Dony sambil mengayunkan parang di dalam got, menemukan sebuah pistol. Dengan berkelakar, Dony berujar: “Ada senjata api di sini”, meskipun tahu bahwa itu adalah sebuah pistol plastik mainan anak-anak. Pria berpangkat dua teratai tersebut kemudian membidik beberapa anggota Babinsa, Babinkamtibmas dan peserta Goro lainnya. “Dor... dor... dor...,” ujar Dony disambut gelak tawa masyarakat dan anak-anak yang hadir, termasuk Pasi Intel Kodim 0309 yang juga Danramil Kota Solok, Kapten P Simanjorang.

Usai Goro, Kapolres menikmati sajian kolak dan kopi panas. Dalam sajian tersebut, Kapolres menggelar forum diskusi dengan masyarakat, termasuk ibu-ibu. Dony kemudian bertanya lagi, mengapa banyak yang bertato. Melihat gaya Dony yang bersahabat, diskusi pun berjalan seru. Masyarakat menyatakan bahwa hal itu adalah kisah masa lalu. Kelurahan Koto Panjang, yang berada di samping Pasaraya Solok, dulu dikenal sebagai daerah rawan kriminalitas.

“Memang, daerah kami sejak dulu dikenal sebagai daerah rawan kriminalitas. Baik narkoba, tawuran, pencurian, dan sebagainya. Namun, hal itu sudah tidak ada lagi sekarang. Tapi stigma negatif itu, tetap bertahan. Biarlah, waktu dan kenyataan akan mengubahnya sendiri,” ujar Syofiar Syam, Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Koto Panjang.

Kelurahan Koto Panjang sejak dulu memang identik dengan kawasan kriminalitas. Sebagai contoh kecil, jika ada yang kecopetan di Pasaraya Solok, tapi memiliki teman atau saudara di Koto Panjang, barangnya akan balik lagi. Belum lagi, kriminalitas lain seperti narkoba dan tawuran. “Biang keladinya” biasanya di Koto Panjang. Bahkan, kelurahan ini pernah lima tahun tidak diberikan izin menggelar acara keramaian. Sebab, setiap kali ada acara keramaian seperti orgen, selalu terjadi tawuran.

Tapi itu dulu. Karena kini, kawasan itu sudah berubah menjadi daerah yang damai. Bahkan, Pemko Solok pernah berencana menjadikan kawasan ini sebagai kawasan teletubbies. Dengan cara memberikan bantuan cat warna-warni untuk rumah-rumah warga.

“Sekali lagi, itu dulu. Kini masyarakat bisa buktikan sendiri. Tak ada lagi kriminalitas. Saya bisa katakan, jika ada wanita yang berjalan tengah malam di Koto Panjang, tidak akan diganggu sedikit pun. Silakan buktikan sendiri, bahwa Koto Panjang, tidak lagi layak dipanggil Texas-nya Kota Solok,” lanjut Sofiar Syam.

Lebih lanjut Sofiar menyatakan salah satu langkah kunci yang ditempuh adalah dengan memberdayakan pemuda dan masyarakat. Sofiar menyatakan kriminalitas dipicu oleh ekonomi yang rendah dan rendahnya tingkat pendidikan. Padahal, kelurahan tersebut berada persis di samping pusat perekonomian Kota Solok, yakni Pasaraya Solok.

“Kriminalitas disebabkan tidak adanya kegiatan positif yang bisa dilakukan. Kalau mereka disibukkan dengan kegiatan positif, maka rayuan narkoba dan kriminalitas bisa ditekan,” lanjutnya. (rzl)


COPYRIGHT © METRO ANDALAS 2019



Komentar

Tinggalkan Balasan

Berita Terbaru