Lima Perantau Pessel jadi Korban Kerusuhan Papua, Keluarga: Kami Sangat Mengutuk Kejadian Tersebut

Keluarga korban saat melakukan takziah di rumah duka.

PESISIR SELATAN (Metrans)

Lima dari sembilan orang yang menjadi korban dalam kerusuhan yang terjadi di Papua merupakan perantau asal Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat (Sumbar). Kelima korban di antaranya, Safrianto K (36), Jafriantoni (24), Hendra Eka Putra (22), dan istri Safrianto K, Putri (29) dan anaknya Riski (3,5), korban merupakan satu keluarga.

Adik korban, Afrizal (33) menerangkan bahwa sang kakak (Safrianto) bersama keluarga sudah 6 tahun merantau di Papua. Ia mendapat informasi bahwa kakaknya beserta keluarga menjadi korban kerusuhan tersebut melalui kakak kandung dan adik sepupunya pada Senin (23/9).


"Kakak merantau sudah 6 tahun bersama keluarga di Papua. Saya dapat informasi pertama dari kakak kandung serta adik sepupu lewat telepon pada Senin 23 September sekira pukul 20.00 WIB," kata Afrizal didampingi ayahnya, Kasdir dan sang ibu, Raulis, saat melakukan takziah di rumahnya, Selasa (24/9) malam.

Ia mengatakan, mereka sekeluarga sudah berkumpul dan telah melakukan takziah di rumah duka. Mereka juga merasa sedih karena korban dijadwalkan akan pulang kampung pada Oktober mendatang.

"Kami sekeluarga berkumpul sudah dua malam melakukan takziah di rumah ibu. Kami merasa sedih karena korban bakal pulang pada bulan 10 tahun ini dengan pembicaraan melalui telepon seminggu sebelum kejadian ini dan seluruh aset yang ada di Papua bakal dilelang habis. Namun ini menjadi cambuk dan hanya pulang nama kakak kami," ungkapnya sedih.

Atas kejadian ini, mereka berharap agar jenazah korban dapat dipulangkan ke kampung halaman sesegera mungkin untuk disemayamkan dan dimakamkan di kampung halaman. Serta, ia berharap agar seluruh aset korban di Papua dapat diselamatkan pemerintah agar tidak hilang.

"Dengan kejadian ini kami berharap jenazah korban bisa dipulangkan ke kampung halaman dan kemudian kami berharap agar seluruh aset keluarga kami bisa diselamatkan oleh pemerintah agar tidak hilang. Kami sangat mengutuk kejadian tersebut dengan melakukan pembunuhan keluarga kami," pungkasnya. (fdl)


Jangan Lewatkan