KULINER MALAM DI KOTA PADANG

Lontong Malam ‘Ongkrongan Turagari’ Penuh dengan Menu

Ongkrongan Turagari di Jalan Veteran Padang yang selalu dipenuhi pengunjung

PADANG - Berkunjung ke kota Padang, Sumatera Barat, rasanya belum lengkap kalau belum mencicipi ‘Lontong Malam’ masakan Yanuar Man yang lebih populer disapa ‘Ayang’ ini. Lokasinya sangat strategis di Jalan Veteran 68 Padang, atau berdekatan dengan SPBU Wowo.

Selain menyediakan makanan lontong dengan tiga macam jenis sayurnya seperti gulai paku, cubadak dan tauco plus telur rebus yang sudah dikuliti sebagai campurannya juga, lontong malam dengan nama Ongkrongan ‘Turagari’ itu juga menyediakan bubur kacang ijo, kolak pisang, bubur hitam dan lainnya, tentu saja tidak ketinggalan minuman khas orang Padang, 'teh telur'..

“Kami juga menyediakan nasi sup daging bagi yang suka makan sup,” ujar Ayang membuka pembicaraan dengan Metro Andalas, Sabtu malam (4/2).


Malam itu baru menunjukkan jam 20.00 Wib, namun pengunjung tampak sudah begitu ramai. Bahkan, terlihat ada pengunjung yang antri menunggu mendapatkan tempat duduk untuk mencicipi pesanannya. Padahal, tempat duduk yang disediakan pemilik ongkrongan ini cukup banyak, bisa menampung sekitar 50 orang pengunjung sekaligus.

Ayang selama ini memang dikenal cukup jago dalam masalah masak-memasak ini. Bahkan selain masih tetap membuka usaha rumah makan di siang hari yang berlokasi di Jalan Karet, Padang, ia juga pernah melebarkan usaha kulinernya sampai ke Kota Bogor, Jawa Barat tetap dengan nama ‘Turagari’.

“Nama Turagari itu bukan asal nama saja. Turagari itu kepanjangannya satu putra dna tiga putrid. Karena anak saya satu orang lelaki dan tiga orang putri,” jelas Ayang.

Ketika ditanya kapan membuka usaha kuliner khusus menjual lontong malam hari, ia mengaku memulainya sejak tahun 2012 silam. Saat itu, katanya, usaha menjual nasi goreng yang dibukanya tepat di depan SPBU Wowo sudah tak dapat izin lagi. Akhirnya ia mencoba minta izin pada penyewa toko furniture di samping Blackberry Shop jalan Veteran 68 itu dan minta izin juga dengan toko di sebelahnya untuk bisa berjualan di sana.

“Ya, akhirnya saya buka usaha lontong malam ini dengan mempekerjakan beberapa pegawai yang masih keluarga dan tetangga kami juga,” tuturnya sambil memberikan uang kembalian pengunjung yang membayar makanannya.

Ayang bercerita, ia membuka usaha lontong mala mini karena melihat prospeknya yang bagus, apalagi melihat kebiasaan orang Padang yang suka makan. Kalau biasanya orang hanya makan lontong di pagi hari, maka sejak itu penjual lontong malam sudah banyak yang bertebaran di kota Padang.

Dan yang membuat usaha lontong malam ‘Turagari’ ini dikenal orang adalah, selain harganya yang standar, jika berbelanja lontong malam sebelum jam 23.00 Wib, lontong yang kita minta itu pasti juga diberi ‘serundeng’, sehingga rasa lontong dan sayurnya jadi semakin aduhai.

Ongkrongan Turagari ini buka dari Senin hingga Sabtu mulai pukul 19.00 hingga pukul 04.00 Wib, dan khusus Minggu tutup. Kadang, pukul 02.30 semuanya sudah ludes oleh para tamu. Setelah dagangannya habis, semua karyawannya dengan sigap membersihkan area dagangannya, dan pagi sebelum toko-toko di sekitar dibuka, semuanya tampak bersih kembali. (John Edward Rhony)


Jangan Lewatkan